Biodiesel adalah Solar masa depan

Sejak awal Rudolf Diesel sang penemu mesin diesel memang memperkenalkan mesin diesel yang berbahan bakar minyak kacang. Ia mendemonstrasikan mesin tersebut dalam World’s Exhibition di Paris, 1900. Dalam perkembangannya, bahan bakar solar dari turunan minyak bumi lebih banyak digunakan.

Dengan harga yang murah, kinerja, dan subsidi pemerintah, bahan bakar dari minyak bumi menjadi pilihan selama bertahun-tahun. Namun, ketergantungan impor dan kapasitas produksi dalam negeri yang tidak mampu mencukupi kebutuhan menuntut dikembangkannya bahan bakar alternatif yang lebih murah dan tersedia di alam.

Biodiesel telah terlahir kembali dan mulai meluas penggunaannya di berbagai negara. Kesadaran itu pun muncul di Indonesia sejak krisis keuangan dan terus meningkatnya impor bahan bakar. “Kalau Brazil bisa mengganti 20 persen konsumsi bahan bakar minyak dengan biodiesel, mengapa kita tidak,” kata Makmuri Nuramin, Manajer Teknik Balai Rekayasa Desain dan Sistem Teknologi BPPT yang mengembangkan teknologi produksi biodiesel berbahan CPO (crude palm oil) dari kelapa sawit.

Secara teknis, biodiesel memiliki kinerja yang lebih baik daripada solar. Solar yang dicampur biodiesel memberikan angka cetane yang lebih tinggi hingga 64. Sebagai perbandingan, solar biasa memberikan angka cetane 48 sedangkan pertamina DEX (diesel environment extra) 53. Semakin tinggi angka cetane semakin aman emisi gas buangnya.

Pemakaian biodiesel juga tidak memerlukan modifikasi mesin, berfungsi sebagai pelumas sekaligus membersihkan injector, serta dapat mengurangi emisi karbon dioksida, partikulat berbahaya, dan sulfur oksida.

Biodiesel atau methyl ester diperoleh dari proses methanolisis minyak/lemak, menggunakan reaksi trans-esterifikasi ataupun esterifikasi dengan katalis basa atau asam dan metanol. Hasil pencucian dan pengeringan menghasilkan biodiesel yang siapa dipakai. Dari 1 kilogram bahan baku bisa menghasilkan sedikitnya 1 liter biodiesel. Sedang distilasi limbahnya menghasilkan gliserol dan metanol yang dapat digunakan kembali. Meski hanya sekitar 10 persen, gliserol menjadi produk sampingan yang juga bernilai ekonomis.

Selain CPO masih ada lebih dari 40 jenis minyak nabati yang potensial sebagai bahan baku biodiesel di Indonesia, misalnya minyak jarak pagar, minyak kelapa, minyak kedelai, dan minyak kapok. Meskipun tidak menghasilkan minyak sebesar kelapa sawit, pengembangan biodiesel dapat menyesuaikan potensi alam setempat.

Di samping sumber bahan bakunya melimpah dan terbarukan, biaya produksi lebih murah. Rata-rata biaya produksinya antara Rp 600 hingga Rp1.000 per liter. Sebagai pionir biodiesel di Indonesia, BPPT telah mengembangkan teknik produksi biodiesel termasuk rancang bangun pabriknya. Upaya tersebut telah menghasilkan empat buah paten dan pabrik pengolahan berskala kecil 1,5 ton biodiesel per hari di Puspiptek Serpong dan skala menegah 8 ton per hari di Riau. 

Meskipun baru tahap proyek percontohan, seluruh produksinya diserap pasar, khususnya untuk perusahaan yang dituntut menurunkan kadar emisi bahan bakar. Saat ini sudah ada sekitar sepuluh perusahaan swasta yang menjadi konsumen tetap Solarmax, nama dagang biodiesel, termasuk B10, untuk 35 kendaraan operasional di lingkungan BPPT.

“Pabrik pengolahan biodiesel tidak membutuhkan biaya investasi besar sehingga dapat dikembangkan melalui unit kecil dan dikelola oleh usaha kecil dan menengah (UKM),” kata Makmuri. Sebagai gambaran, pabrik dengan kapasitas produksi 3 ton per hari hanya membutuhkan investasi Rp3,9 miliar dan masa pengembalian sekitar 3 tahun.

Sebagai bagian blueprint pengelolaan energi nasional (PEN), target produksi biodiesel sebesar 720 kiloliter pada tahun 2009 untuk menggantikan 2 persen konsumsi solar hanya akan tercapai jika terdapat 25 unit pengolahan berkapasitas 30 ribu ton per tahun. Meskipun demikian untuk mencapai target mengganti 5 persen konsumsi solar 2025, tidak menutup kemungkinan pembuatan pabrik berkapasitas besar hingga 100 ribu ton per tahun yang memerlukan investasi masing-masing sekitar 100 miliar.

Indonesia sangat kaya akan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel. Sebagai produsen CPO atau minyak sawit terbesar kedua di dunia, Indonesia sangat potensial sebagai produsen biodiesel dengan memanfaatkan minyak yang berbasis sawit, baik CPO itu sendiri maupun dari turunannya.

Produksi CPO tahun 2003 telah mencapai tak kurang dari 9 juta ton dan tiap tahun mengalami kenaikan dapat mencapai 15 persen per tahun. Hampir seluruh produk CPO dapat diolah menjadi biodiesel, dari yang terbaik dengan kadar free fatty acid (FFA) kurang dari 5 persen hingga Palm Fatty Acid Distillate (PFAD) berkadar FFA lebih dari 70 persen. Belum lagi potensi bahan baku lainnya, misalnya jarak pagar yang dapat tumbuh di lingkungan tandus sekalipun.

Meskipun demikian, sosialisasi penggunaan biodiesel tidak akan berarti tanpa dukungan dari pemerintah. Termasuk standardisasi produk untuk memberikan perlindungan kepada konsumen. Makmuri berharap dalam 2 hingga 3 bulan ke depan, standardisasi biodiesel dapat ditetapkan pemerintah sehingga teknologi pengolahan yang telah dikuasai BPPT dapat segera dikomersialkan.

Selain itu, kesiapan komersialisasi biodiesel ujung-ujungnya adalah harga jual, kata Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi, Yogo Pratomo saat melepas rombongan media yang akan meninjau lokasi energi terbarukan di Jawa Barat, Jumat (9/9). Untuk menekan biaya bahan baku dan mendorong investasi, sekarang sedang digodok bentuk insentif dengan Departemen Keuangan. Salah satu yang diusulkan adalah pembebasan pajak impor mesin pengolahan biodiesel seperti yang diterapkan di negara-negara lain.

Dengan demikian harga jual biodiesel dapat bersaing dengan harga solar yang cenderung terus naik tergantung pasokan impor minyak dunia.

Tinggalkan sebuah Komentar

Biodiesel yang Ramah Lingkungan

Sejak awal-awal isu pemanasan global diluncurkan banyak orang yang mengalami eforia tentang pencarian bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan dari bahan bakar minyak yang divonis jadi salah satu penyebab pemanasan global. Eforia itu mengantarkan sebagian orang berfikiran bahwa penggunaan bahan bakar nabati (biofuel) adalah salah satu solusi untuk mengatasi pemanasan global karena dianggap lebih ramah lingkungan.

Well… jika mengacu kepada reaksi dasar pada proses pembakaran dimana bahan bakar – darimanapun sumbernya, baik bahan bakar minyak maupun bahan bakar nabati – keduanya tetap mengandung unsur karbon ( C ) dan hidrogen ( H ), yang juka mengalami proses pembakaran dengan oksigen ( O ) maka reaksi dasarnya adalah sbb :

C, H + O —-> CO2 + H2O

dimana CO2 inilah yang divonis menjadi penyebab efek rumah kaca yang pada akhirnya menyebabkan pemanasan global.

Sebagian orang lagi beranggapan bahwa  biofuel merupakan bahan bakar baru dan terbarukan.

Bahwa biofuel merupakan bahan bakar terbaruka; itu iya, tapi biofuel dianggap sebagai bahan bakar baru mungkin harus dipikirkan kembali. Sebab ga lama setelah Perang Diponegoro, Rudolf Diesel sudah mempatenkan mesin buatannya yang kemudian sekarang dikenal sebagai mesin disel seperti sekarang. Sejatinya mesin disel ketika pertama diciptakan didesain menggunakan bahan bakar yang berasal dari kacang tanah. Hanya ketika minyak bumi mulai dieplorasi secara komersil di awal 1900an dan di beberapa belahan dunia mulai mengalami industrialisasi dan membutuhkan bahan bakar dalam jumlah besar dan cepat maka perlahan pemakaian bahan bakar mulai beralih ke minyak bumi. Hanya karena isu pemanasan globa kemudia semuanya kembali melirik bahan bakar nabati (biofuel).

Pemanfaatan biofuel sendiri – terutama yang menggunakan minyak kelapa sawit – tidak kalah  merusak lingkungan juga. Salah satu contoh adalah pembukaan lahan untuk penanaman kelapa sawit dengan membantai hutan yang merupakan paru-paru dunia yang justru sanggup merubah CO2 menjadi O2 secara alami.

Jadi kesimpulannya, biofuel, terutama biodisel, selain sama-sama penyumbang emisi CO2 yg menjadi penyebab efek rumah kaca, proses produksinya juga justru memperparah pengurangan emisi CO2 ke udara, karena harus membantai hutan kita, sehingga berkuranglah hutan yang bertugas mengubah CO2 menjadi O2 secara alami, yang pada akhirnya sempurnalah proses percepatan pertumbuhan emisi CO2.

Tinggalkan sebuah Komentar

Jarak Pagar sebagai Bahan Baku Biodiesel

Minyak Jarak
Jarak pagar (Jathropa curcas) menjadi sangat populer ketika menyoal energi alternatif ramah lingkungan. Biji-bijinya mampu menghasilkan minyak campuran untuk solar. Selain dari jarak pagar, pada dasarnya minyak yang dihasilkan dari tumbuh-tumbuhan dapat dijadikan bahan campuran solar, misalnya kelapa sawit atau kedelai.

Dari percobaan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), campuran solar dan minyak nabati (biodiesel) memiliki nilai cetane (oktan pada bensin) lebih tinggi daripada solar murni. Solar yang dicampur dengan minyak nabati menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna daripada solar murni sehingga emisi lebih aman bagi lingkungan.

“Jika solar murni nilai angka cetane-nya sekitar 47, biodiesel antara 60 hingga 62,” kata Sony Solistia Wirawan, Kepala Balai Rekayasa Desain dan Sistem Teknologi BPPT di Pusat Penelitian Ilmu Penegtahuan dan Teknologi Serpong, Selasa (14/2). Dalam satu liter bahan bakar, komposisi minyak nabati yang dapat digunakan baru 30 persen agar tidak mengganggu mesin yang dipakai kendaraan sekarang. Menurutnya, di beberapa negara maju biodiesel bahkan telah digunakan 100 persen dengan modifikasi mesin. Bahan-bahan dari karet diganti dengan sintesis viton yang tahan minyak.

Meskipun percobaan baru dilakukan untuk minyak nabati dari bahan kepala sawit, menurut Soni, hal tersebut dapat dilakukan juga untuk minyak jarak. Minyak mentah hasil perasan biji kering akan diolah dengan proses trans-esterifikasi menggunakan metanol untuk memisahkan air. Reaksi tersebut tergolong sederhana dan hanya diperlukan sekitar 10 persen metanol. Hampir 100 persen minyak dapat dimurnikan, bahkan menghasilkan produk samping gliserol yang juga bernilai ekonomi.

 

“Satu pabrik ukuran kecil yang ada di Serpong dapat menghasilkan 1,5 ton minyak perhari,” kata Soni. Meskipun demikian, pihaknya sedang mengembangkan mesin pengolah berkekuatan berkapasitas lebih kecil maupun besar untuk kalangan industri. Biaya investasi untuk mesin saja diperkirakan sekitar 800 juta, sedangkan untuk mesin berkekuatan 3 ton perhari mungkin mencapai 2 hingga 3 miliar.

“Secara teknis prosesnya tidak jauh berbeda dengan pengolahan minyak goreng,” katanya. Hanya saja, pasokan bahan baku minyak nabati jumlahnya masih terbatas. Kelapa sawit masih ekonomis diolah menjadi minyak goreng meskipun minyak mentahnya (CPO) yang berkualitas rendah berpotensi untuk diolah menjadi biodiesel.

Jika dibandingkan, jarak pagar mungkin lebih berpotensi daripada kelapa sawit. Jarak pagar yang dapat ditemukan di berbagai wilayah Indonesia baru digunakan sebagai pagar hidup. Tumbuhan bergetah ini dapat tumbuh di mana saja, hidup di berbagai kondisi tanah, dan tahan kekeringan, tidak seperti kelapa sawit, yang membutuhkan lahan khusus, ketinggian daerah, dan faktor iklim tertentu. Oleh karena itu, para peneliti BPPT berharap bahwa pengembangan jarak pagar tidak diarahkan untuk merelokasi lahan subur, namun memberdayakan lahan kritis.

“Produktivitasnya juga tidak jauh berbeda, dalam satu hektar lahan dapat dihasilkan sekitar 5 ton minyak pertahun,” kata Nadirman Haska, Kepala Balai Pengkajian Bioteknologi BPPT. Satu hektar lahan mampu menghasilkan 25 ton tandan kelapa sawit segar yang dapat diolah menjadi 5 ton CPO sejak tahun ketiga hingga usia produktif 20 tahun.

“Dengan luas lahan yang sama, saya perkirakan dapat ditanam 2.500 batang jarak pagar,” kata Nadirman. Sejak usia 5 hingga 8 bulan, buahnya matang sehingga di tahun pertama pun hasilnya dapat dinikmati. Meski demikian, lanjut Nadirman, mungkin baru dihasilkan sekitar 0,5 ton minyak. Seiring tumbuhnya tanaman, produksinya diharapkan terus meningkat lebih dari 10 ton sejak tahun keenam. Usia produktif jarak pagar diperkirakan antara 20 hingga 50 tahun.

Ongkos perawatan untuk tanaman liar ini juga lebih murah. Nadirman memperkirakan hanya perlu 20 hingga 25 persen pendapatan dari hasil produksinya yang dipakai. Sedangkan untuk kelapa sawit, biaya operasionalnya 40 hingga 50 persen dari besar pendapatan produksinya.

Pada dasarnya pembibitan dapat dilakukan secara generatif atau vegetatif. Namun, pembibitan generatif menggunakan biji tidak disarankan karena menurunkan sifat genetik berbeda, sedangkan dengan stek atau kultur jaringan sifat-sifat unggul dapat dipertahankan pada keturunannya.

Balai Pengkajian Bioteknologi BPPT telah mengembangkan proses pembibitan sederhana yang dapat dilakukan siapa pun dengan sedikit latihan. Bahkan telah disiapkan cairan nutrisi tanaman untuk mencegah mortalitas (kegagalan) bibit dan merangsang pertumbuhannya dari proses penyiapan hingga siap tanam di ruang terbuka.

Selain itu, teknik kultur jaringan yang membutuhkan teknik lebih rumit di laboratorium terus dikembangkan, termasuk menyiapkan pohon induk yang memiliki sifat-sifat genetik baik yaitu menghasilkan biji besar, buah banyak, dan masa tanam cepat.

Tinggalkan sebuah Komentar

Bioetanol Padat

Pembuatan dan pemakaian bahan bakar alternatif saat ini gencar digalakkan. Hal ini disebabkan makin berkurang dan terbatasnya bahan bakar minyak bumi. Selain pemakaian bahan bakar cair dan gas yang umum ditemukan, penggunaan bahan bakar padat juga dikembangkan. Kemudahan mendistribusikan bahan bakar padat menjadi inspirasi Soelaiman Budi Sunarto ketika ingin meracik bioetanol padat. Pendiri Koperasi Serba Usaha Agromakmur, Karanganyar, Jawa Tengah, ini terus menginovasi temuan-temuannya berkait energi untuk masyarakat pedesaan.

“Setiap kali saya menemukan cara baru untuk menghasilkan bahan bakar alternatif, tidak pernah berniat untuk mengajukan patennya. Ini supaya masyarakat mana pun mudah membuatnya,” kata Budi di Jakarta.

Sejak tahun 1998, Budi menggeluti usaha di pedesaan untuk memproduksi apa pun sebisa mungkin. Bioetanol hanya salah satunya. Selain itu, Budi juga memproduksi jamur tiram dengan isi polybag khas racikan dia, hingga dikenal lebih banyak menghasilkan jamur dibandingkan yang lainnya.

Budi juga menciptakan alat pembentuk gas metana untuk sumber energi ramah lingkungan dari sampah organik. Alat itu dinamai albakos, singkatan dari alat biogas konsumsi sampah.

Ia juga memberikan nama kompor ”Bahenol” untuk ciptaan kompor berbahan bakar hemat etanol. Baru-baru ini Budi memaparkan temuan barunya, bioetanol padat. Ia sendiri lupa kapan memperoleh inspirasi itu secara pasti. ”Inspirasinya sudah sejak lama,” ujar Budi.

Bioetanol yang dimaksudkan Budi adalah etanol atau alkohol. Budi memproduksinya dengan proses fermentasi bahan-bahan organik mengandung glukosa.

Di pedesaan, Budi mudah menjumpai limbah organik dari hasil pertanian. Seperti sekam padi juga mengandung glukosa. Begitu pula limbah sayur-mayur bisa dijadikan bahan organik untuk fermentasi menghasilkan bioetanol.

”Limbah pertanian air kelapa menjadi salah satu bahan baku paling baik. Tetapi, selama ini yang terbaik untuk membuat alkohol tetap dari tetes tebu,” kata Budi.

Budi juga memproduksi mikroorganisme yang dipakai untuk fermentasi bahan organik. Selama ini Budi juga mendidik generasi muda untuk banyak memproduksi bioetanol.

Cita-citanya di kemudian hari, akan terdapat pompa-pompa bahan bakar bioetanol di mana pun juga. Tidak sulit untuk mewujudkannya karena bahan bakunya tersedia melimpah di sekitar kita.

Bioetanol memiliki titik nyala rendah sekitar 13 derajat celsius sehingga sangat mudah terbakar. Untuk bahan baku bioetanol padat, Budi menggunakan kadar 80 persen. Kadar ini merupakan hasil penyulingan tahap pertama.

Alkohol memiliki titik didih 78 derajat celsius. Melalui pemanasan, alkohol mudah dipisahkan dengan kadar air yang memiliki titik didih sampai 100 derajat celsius.

”Pendistribusian bioetanol cair tergolong susah. Misalnya, setiap kali saya membawa hasil uji coba bioetanol ke Jakarta untuk dianalisis laboratorium, selalu saja ditahan di bandara keberangkatan di Solo,” kata Budi.

Sekarang, lanjut Budi, ketika membawa bioetanol padat dari Solo ke Jakarta tidak lagi terhambat di bandara. Tidak diizinkannya membawa bioetanol cair di dalam pesawat ini juga bagian dari inspirasi Budi untuk menciptakan bioetanol padat.

Pendistribusian bioetanol padat tidak membutuhkan wadah seperti bioetanol cair yang tidak boleh bocor. Kemasan bioetanol padat menjadi tidak merepotkan dibandingkan bioetanol cair. ”Ketika dipakai untuk bahan bakar kompor, bioetanol padat tidak mengeluarkan jelaga,” katanya.

Bagaimana bioetanol dipadatkan? Sebetulnya, bioetanol padat bukanlah diperoleh dari proses pemadatan atau pembekuan bioetanol cair. Bioetanol padat adalah penyertaan bahan bakar cair bioetanol ke dalam bahan padat residu minyak bumi yang dikenal sebagai stearit acid.

Stearit acid merupakan bahan baku parafin atau lilin. Stearit acid juga dikenal sebagai palm wax. Harga di pasaran Rp 17.000 sampai Rp 20.000 per kilogram. ”Cara membuatnya, padatan stearit acid dipanaskan terlebih dahulu sampai mencair,” ujar Budi.

Kemudian disiapkan setengah liter bioetanol untuk campuran stearit acid 1 kilogram. Hanya diaduk sebentar, kemudian campuran harus segera didinginkan.

Pendinginannya di wadah paralon dengan ukuran 3 dim. Ini supaya ketika dingin dan memadat kembali, akan membentuk tabung atau silinder paralon. ”Saya mempersiapkan potongan paralon 3 dim itu masing-masing sepanjang 30 sentimeter,” kata Budi.

Untuk 1 kilogram stearit acid dan setengah liter bioetanol tersebut, Budi memperoleh dua selongsong bioetanol padat. Ia kemudian memotongnya dengan panjang 2 sentimeter, hingga diperoleh 20 potong.

Ketika dinyalakan di kompor, satu potong bioetanol itu mampu bertahan menyala hingga dua jam. Budi membuat perbandingan dengan kompor minyak tanah. Dengan minyak tanah satu liter, ternyata juga mampu menyala selama dua jam.

Jika dihitung biaya produksinya, satu potong bioetanol padat berukuran 2 sentimeter itu sekitar Rp 4.000. Adapun minyak tanah Rp 7.000 per liter, ”Bioetanol padat ini jauh lebih murah,” kata Budi.

Budi telah menunjukkan hasil nyata yang bisa diuji kembali oleh para ahlinya. Bagi dia, inovasi tidak harus melalui riset dengan biaya tinggi. Inovasi yang sederhana dan mudah diterapkan justru lebih bernilai bagi masyarakat.

Tinggalkan sebuah Komentar

Bahan Bakar Alternatif Anak Bangsa

Bahan bakar sudah menjadi masalah yang mengglobal. Semua orang mencoba mencari bahan bakar alternatif. Pencarian ini dilakukan agar dapat menemukan bahan bakar selain bahan bakar yang telah ada. Bahan bakar yang telah ada diyakini akan segera habis atau pada suatu saat nanti akan segera habis. Oleh karena itu, sebelum bahan bakar tersebut habis maka dicarilah bahan bakar penggantinya.

Selain itu, upaya untuk mendapatkan sumber bahan bakar lain adalah untuk mengurangi dampak negatif dari bahan bakar fosil yang telah ada saat ini. Bahan bakar fosil ini adalah yang terbanyak digunakan sehingga tingkat pencemaran yang dihasilkan semakin hari semakin tinggi. Manusia semakin merasa khawatir akan hal ini maka dari itu dilakukan banyak penelitian untuk mendapatkan sumber bahan bakar lainnya.
Sifat Bahan Bakar Alternatif.
Bahan bakar yang dicari haruslah memiliki sifat dan spesikasi tertentu. Sifat itulah yang akan membedakan bahan bakar tersebut dari bahan bakar yang sudah ada sebelumnya. Bahan bakar yang dicari haruslah memiliki sifat sebagai berikut.Bahan bakar yang dicari haruslah memiliki sifat sebagai berikut.
 
Dapat diperbarui: Bahan bakar pengganti yang akan digunakan sebagai alternatif lain dari bahan bakar yang sudah ada haruslah memiliki sifat yang dapat diperbarui. Kenapa harus dapat diperbarui? Karena jika bahan bakar tersebut terus menerus digunakan maka pasti akan habis. Oleh karena itu, bahan tersebut haruslah dapat diperbarui. Bahan bakar fosil yang selama ini dipergunakan termasuk sebagai bahan bakar yang tak dapat diperbarui. Berarti suatu saat nanti akan habis. Oleh karena itu harus ada bahan bakar pengganti yang sifatnya dapat diperbarui. Pengertian dari sifat dapat diperbarui adalah bahan bakar tersebut ketersediaannya dapat kita hasilkan kembali. Bentuk dari perbaruan biasanya dengan cara menanam kembali. Biasanya bahan bakar yang dapat diperbarui berasal dari hewan dan tumbuhan. Berasal dari hewan dan tumbuhan karena hewan dan tumbuhan bisa dikembangbiakan atau dapat diperbarui. Karena sifat hewan dan tumbuhan yang dapat diperbarui tersebut maka hewan dan tumbuhan menjadi alternatif utama dalam penciptaan sumber bahan bakar lain ini.
Tersedia dalam jumlah besar: Ketersediaan juga mempengaruhi dalam pencarian bahan bakar alternative. Jika bahan yang digunakan sebagai bahan bakar tersebut memiliki tingkat ketersediaan yang rendah maka penggunaannya juga akan singkat. Dengan penggunaan yang singkat tersebut berarti harus mencari bahan bakar alternative lainnya. Agar hal tersebut tidak terjadi maka alangkah baiknya jika sejak awal dalam pencarian bahan bakar alternative bahan yang digunakan harus memiliki ketersediaan dalam jumlah banyak. Dengan tersedianya bahan bakar alternatif dalam jumlah yang banyak maka kita tidak akan khawatir akan terjadinya krisis bahan bakar. Seperti sekarang ini, kita mulai khawatir pada sebagian bahan bakar karena ketersediaannya yang sudah mulai menipis di bumi ini. Padahal secara keseluruhan kita sudah banyak menggunakan energi tersebut. Penggunaan bahan bakar tersebut juga didukung dengan penciptaan alat-alat lain yang juga menggunakan bahan bakar tersebut. Alhasil, kita pun akhirnya memiliki sifat ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar tersebut. Sebagai contoh untuk saat ini kita banyak menggunakan energi listrik yang dihasilkan dengan menggunakan bahan bakar minyak dan tenaga air serta tenaga yang lainnya. Berbagai macam alat pun banyak yang menggunakan energi listrik sebagai energinya.  Alat-alat yang digunakan tersebut sangat membantu kita dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan sangat sulit dibayangkan jika kita hidup tanpa menggunakan alat tersebut. Keadaan yang seperti inilah yang menyebabkan kita bergantung pada alat-alat tersebut. Padahal alat tersebut membutuhkan energi yang bahan bakarnya diperoleh dari bahan bakar yang sebagian besar tidak dapat diperbarui. Maka akan sangat celaka sekali jika tidak segera dicarikan alternatifnya.
Murah: Sifat murah juga tidak kalah pentingnya sebagai salah satu sifat dari bahan bakar alternative. Murah dengan tujuan dapat dijangkau oleh semua kalangan baik yang kaya atau miskin. Penggunaan bahan bakar yang bertujuan menghasilkan energi sehingga terpenuhi kebutuhan hidup sehari-hari adalah kebutuhan semua orang. Jadi sangat disayangkan jika bahan bakar pengganti yang ditemukan ternyata memiliki harga yang mahal. sudah bisa dipastikan bahwa bahan bakar tersebut pasti hanya akan bisa dinikmati oleh orang yang kaya saja sedangkan orang yang miskin tidak dapat ikut menikmatinya. Salah satu tujuan diciptakannya bahan bakar alternatif adalah harganya murah. Hal ini dimaksudkan agar bahan bakar alternative ini dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat. Tidak seperti saat ini, harga bahan bakar fosil melambung tinggi. Pemerintah pun berencana menaikkan kembali harga bahan bakar yang sudah mahal ini. Akan semakin sedikit orang yang mampu untuk membelinya.
Berdasarkan banyak penelitian yang telah dilakukan, bahan-bahan yang digunakan sebagai bahan bakar alternatif oleh orang Indonesia di antaranya adalah minyak jelantah, batok kelapa, serbuk gergaji, singkong, dan kelapa sawit. 
1. Minyak Jelantah
Bahan bakar ini ditemukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). BPPT melakukan percobaan membuat kompor yang menggunakan minyak jelantah sebagai bahan bakarnya. Minyak jelantah yang merupakan minyak bekas menggoreng dapat memberikan akibat buruk terhadap kesehatan jika digunakan lebih dari dua kali.
Namun, ternyata minyak jelantah masih bisa memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari, yaitu sebagai bahan bakar alternatif pengganti minyak tanah dan gas elpiji. Dengan menggunakan minyak jelantah sebagai bahan bakar alternatif, BPPT menyebutkan bahwa emisi gas buangan sulfur dan CO2 dapat diturunkan hingga 100%. Sementara emisi gas CO dapat diturunkan hingga 50%. Selain itu, pencemaran lingkungan pun bisa berkurang karena minyak jelantah tidak dibuang begitu saja.
2. Batok Kelapa
Bahan bakar alternatif yang berasal dari batok kelapa ini ditemukan oleh Bambang Sujarnoko. Warga asal Mojokerto ini melakukan eksperimen selama tiga tahun, dari tahun 1990 hingga 1993. Untuk menjadikan batok kelapa sebagai bahan bakar, Bambang membakar batok kelapa tersebut. Dari hasil pembakaran tersebut diperoleh arang yang berfungsi sebagai bahan bakar dan karbon yang berfungsi sebagai penjernih air.
Bahan bakar alternatif buatan Bambang sudah sering digunakan oleh restoran dan hotel. Untuk mendapatkan batok kelapa, Bambang mencarinya ke Blitar dan juga pasar-pasar. Ia membeli batok kelapa tersebut seharga Rp 300 per kilogram.
3. Serbuk Gergaji
Penemuan bahan bakar alternatif yang berasal dari briket serbuk gergaji berhasil ditemukan oleh Eva Hapsari dan Annisa, mahasiswa jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia. Menurut Eva, di dalam serbuk gergaji terdapat rantai karbon yang berperan dalam pembakaran. Untuk hasil optimal, briket serbuk gergaji juga dicampur dengan oli dan minyak goreng.
Proses pembakaran sama caranya seperti proses pembakaran arang. Briket serbuk gergaji yang dicampur dengan oli atau minyak goreng akan membuka pori-pori udara dalam briket serbuk gergaji menjadi lebih lebar sehingga mempercepat pembakaran. Serupa dengan pemanfaatan minyak jelantah, penggunaan briket serbuk gergaji sebagai bahan bakar alternatif juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan.
4. Singkong dan Kelapa Sawit
 
Bahan bakar alternatif yang terbuat dari singkong dan kelapa sawit dapat digunakan sebagai pengganti BBM. Singkong dapat diolah sebagai bioetanol, sedangkan kelapa sawit dapat diolah sebagai biodiesel. Penggunaan bahan bakar alternatif tersebut telah diterapkan di Lampung.
Dalam penggunaannya, bioetanol dan biodiesel dicampur dengan BBM sebanyak 10%, ketentuan yang telah ditetapkan secara internasional. Bahan bakar alternatif tersebut diharapkan dapat diterapkan oleh pemerintah karena untung yang diperoleh sangat besar. Subsidi BBM dapat dihemat. Masyarakat pun tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membeli BBM.
Peran yang besar dari pemerintah untuk mendukung ditemukannya sumber bahan bakar lain ini sangatlah dibutuhkan. Telah banyak penelitian yang berhasil menemukan sumber bahan bakar lain ini. Namun jika tidak didukung dengan peran pemerintah maka hal ini akan menjadi sia-sia. 
Peran pemerintah mutlak dibutuhkan. Seperti ikut mempromosikan dan mensosialisasikan bahan bakar alternatif ini kepada masyarakat luas. Selain itu juga membantu agar pemroduksiannya bisa lebih murah dan dapat dijangkau semua lapisan masyarakat. Selain harganya yang harus murah,juga untuk mendistribusiannya haruslah mudah didapat oleh seluruh masyarakat. Dengan keikutsertaan pemerintah ini, diharapkan benar-benar dapat mengoptimalkan hasil penelitian yang telah menemukan sumber bahan bakar lain ini.

Tinggalkan sebuah Komentar

Alternatif BBM

Semakin menipisnya minyak bumi, memacu berbagai kalangan untuk mencari bahan bakar alternatif. Terdapat 10 bahan bakar alternatif yang diperkirakan cepat atau lambat dapat menggantikan minyak.

1. Hidrogen
Eenergi kimia yang diubah menjadi listrik dan cocok digunakan untuk mobil listrik. Sekarang sedang dalam tahap pengembangan, khususnya infrastruktur untuk pengisian sel bahan bakar tersebut ke kendaraan agar bisa dilakukan juga secara konvensional. Dengan gencarnya pengembangan dan produksi mobil listrik, penggunaan hidrogen sebagai bahan bakar alternatif juga semakin besar.

2. Biodiesel
Biodiesel dihasilkan dari minyak nabati atau lemak hewan. Bahan bakar ini dinilai cukup efektif dengan emisi karbondioksida yang lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar konvensional. Masalahnya, karena dibuat dari tumbuhan atau hewan, bisa mengganggu ketersediaan makanan bagi manusia.

3. Air
Sejauh ini air sebagai bahan bakar masih hipotesis dan dalam penelitian lanjut. Air merupakan energi yang memang tidak secara langsung bisa dipakai tanpa bantuan proses lain. Pasalnya, air merupakan oksidasi  dari hidrogen. Untuk itu harus dikembangkan  teknologi untuk memecah molekul air menjadi hidrogen dan digunakan sebagai energi.

4. Urine
Jika ini terjadi kita tidak perlu pusing lagi mencari WC umum ketika melakukan perjalanan. Menurut Dr. Gerardine Botte dari Asosiasi Profesor Departemen Tehnik Mesin Kimia dan Biomolekuler di Universitas Ohio, di dalam molekul urea (urine) terdapat  empat atom hidrogen jika dibandingkan air biasa yang hanya mengandung dua atom hidrogen. Lalu molekul tersebut dipisahkan melalui oksidasi dengan basis elektroda nikel pada 0.37 V sehingga  hidrogen tersebut akan terpecah.

5. Etanol
Etanol, disebut juga etil alkohol, alkohol murni, alkohol absolut, atau alkohol saja dan merupakan cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan sudah biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Etanol diproduksi dari tanaman, merupakan bahan bakar yang paling sedikit menghasilkan emisi. Beberapa bahan bakar yang dicampur dengan etanol yang terkenal adalah  gasohol E10 yang terdiri dari 90 persen bensin dan 10 persen etanol. Di beberapa negara sudah menggunakan E85 yaitu 85 persen etanol dan 15 persen  bensin.

6. Nitrogen Cair
Nitrogen cair adalah salah satu yang disiapkan untuk kendaraan masa depan. Proses pembuatannya, nitrogen cair dipanaskan, ekstrak panas menghasilkan tekanan udara dan digunakan untuk menggerakkan  piston atau mesin sehingga bisa berputar.

7. Tekanan Udara
Selain tekanan udara yang dihasilkan oleh nitrogen cair, secara sederhana kompresi udara juga bisa digunakan sebagai sumber daya mobil. Penggunaan uda yang dikompresi tidak memerlukan busi dan sistem pendingin. Dengan demikian dapat mengurangi biaya produksi dan perawatan kendaraan. Proyek mesin dengan tekanan udara ini pertama dikembangkan oleh Tata Motors dari India  bekerja sama dengan perusahaan Perancis, MDI.

8. Gas Alam
CNG (Compressed Natural Gas) atau gas alam dan di Indonesia lebih dikenal dengan BBG )bahan bakar gas). Polusi yang ditimbulkan lebih rendah dibandingkan bensin dan diesel. Kaerna lebih ringan  dari oksigen, polusi yang ditimbulkan juga sangat rendah. Masalahnya, untuk menyimpannya diperlukan tekanan yang sangat tinggi. Akibatnya, harus menggunakan tabung atau tangki yang kuat dan berat.

9. Liquefied Petroleum Gas (LPG)
Bahan bakar ini sudah umum digunakan oleh rumah tangga di Indonesia dan dikenal dengan sebutan elpiji. Karena terdiri dari campuran hidrokarbon yang mudah terbakar (kalu ada sumber api), penggunaannya transportasi umum sudah banyak. Dibandingkan dengan BBG, penyimpanan elpiji membutuhkan tekanan jauh lebih rendah.

10. Sampah Organis
Sampah organis diproses menjadi bahan bakar cair yang disebut dengan gasifikasi dan disebutn juga gas sintesis. Gas ini  dicampur dengan etanol sehingga proses pembakaran lebih mudah. Dalam skala kecil, beberapa negara telah memanfaatkan gas ini sebagai  bahan bakar kendaraan bermotor.
 

Tinggalkan sebuah Komentar

Biodiesel

Hingga saat ini Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar berbasis fosil sebagai sumber energi. Data yang didapat dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan bahwa dengan persediaan minyak mentah di Indonesia, yaitu sekitar 9 milyar barrel, dan dengan laju produksi rata-rata 500 juta barrel per tahun, persediaan tersebut akan habis dalam 18 tahun. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi dan memenuhi persyaratan lingkungan global, satu-satunya cara adalah dengan pengembangan bahan bakar alternatif ramah lingkungan.

Pemilihan biodiesel sebagai bahan bakar alternatif berbasis pada ketersediaan bahan baku. Minyak rapeseed adalah bahan baku untuk biodiesel di Jerman dan kedelai di Amerika. Sedangkan bahan baku yang digunakan di Indonesia adalah crude palm oil (CPO). Selain itu, masih ada potensi besar yang ditunjukan oleh minyak jarak pagar (Jathropa Curcas) dan lebih dari 40 alternatif bahan baku lainnya di Indonesia.

Rancangan fasilitas produksi biodiesel (INBT 2008)
Indonesia adalah penghasil minyak sawit terbesar kedua setelah Malaysia dengan produksi CPO sebesar 8 juta ton pada tahun 2002 dan akan menjadi penghasil CPO terbesar di dunia pada tahun 2012. Dengan mempertimbangkan aspek kelimpahan bahan baku, teknologi pembuatan, dan independensi Indonesia terhadap energi diesel, maka selayaknya potensi pengembangan biodiesel merupakan potensi pengembangan biodiesel sebagai suatu alternatif yang dapat dengan cepat diimplementasikan.

Walaupun pemerintah Indonesia menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap pengembangan biodiesel, pemerintah tetap bergerak  pelan dan juga berhati-hati dalam mengimplementasikan hukum pendukung bagi produksi biodiesel. Pemerintah memberikan subsidi bagi biodiesel, bio-premium, dan bio-pertamax dengan level yang sama dengan bahan bakar fosil, padahal biaya produksi biodiesel melebihi biaya produksi bahan bakar fosil. Hal ini menyebabkan Pertamina harus menutup sendiri sisa biaya yang dibutuhkan.

Sampai saat ini,  payung hukum yang sudah disediakan oleh pemerintah untuk industri biofuel, dalam bentuk Keputusan Presiden ataupun Peraturan Perundang-undangan lainny, adalah sebagai berikut:

  • Peraturan Presiden No. 5/2006 tentang Kebijaksanaan Energi Nasional
  • Instruksi Presiden No. 1/2006 tentang Pengadaaan dan Penggunaan Biofuel sebagai Energi Alternatif
  • Dektrit Presiden No. 10/2006 tentang Pembentukan team nasional untuk Pengembangan Biofuel

Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional menyebutkan pengembangan biodiesel sebagai energi terbarukan akan dilaksakan selama 25 tahun, dimulai dengan persiapan pada tahun 2004 dan eksekusi sejak tahun 2005. Periode 25 tahun tersebut dibagi dalam tiga fasa pengembangan biodiesel. Pada fasa pertama, yaitu tahun 2005-2010, pemanfaatan biodiesel minimum sebesar 2% atau sama dengan 720.000 kilo liter untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak nasional dengan produk-produk yang berasal dari minyak castor dan kelapa sawit.

Fasa kedua (2011-2015) merupakan kelanjutan dari fasa pertama akan tetapi telah digunakan tumbuhan lain sebagai bahan mentah. Pabrik-pabrik yang dibangun mulai berskala komersial dengan kapasitas sebesar 30.000 – 100.000 ton per tahun. Produksi tersebut mampu memenuhi 3% dari konsumsi diesel atau ekivalen dengan 1,5 juta kilo liter. Pada fasa ketiga (2016 – 2025), teknologi yang ada diharapkan telah mencapai level ‘high performance’ dimana produk yang dihasilkan memiliki angka setana yang tinggi dan casting point yang rendah. Hasil yang dicapai diharapkan dapat memenuhi 5% dari konsumsi nasional atau ekivalen dengan 4,7 juta kilo liter. Selain itu juga terdapat Inpres Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai bahan bakar lain. Hal-hal ini menunjukkan keseriusan Pemerintah dalam penyediaan dan pengembangan bahan bakar nabati. (Rahayu, 2006)

Hingga Mei 2007, Indonesia telah memiliki empat industri besar yang memproduksi biodiesel dengan total kapasitas 620.000 ton per hari. Industri-industri tersebut adalah PT Eterindo Wahanatama (120.000 ton/tahun – umpan beragam), PT Sumi Asih (100.000 ton/tahun – dengan RBD Stearin sebagai bahan mentah), PT Indo BBN (50.000 ton/tahun – umpan beragam), Wilmar Bioenergy (350.000 ton/tahun dengan CPO sebagai bahan mentah), PT Bakrie Rekin Bioenergy (150.000 ton/tahun) dan PT Musim Mas (100.000 ton/tahun). Selain itu juga terdapat industri-industri biodiesel kecil dan menengah dengan total kapasitas sekitar 30.000 ton per tahun, seperti PT Ganesha Energy, PT Energi Alternatif Indonesia, dan beberapa BUMN.

Produser biodiesel di Indonesia

Peluang untuk mengembangkan potensi pengembangan biodiesel di Indonesia cukup besar, mengingat saat ini penggunaan minyak solar mencapai sekitar 40 % penggunaan BBM untuk transportasi. Sedang penggunaan solar pada industri dan PLTD adalah sebesar 74% dari total penggunaan BBM pada kedua sektor tersebut. Bukan hanya karena peluangnya untuk menggantikan solar, peluang besar biodiesel juga disebabkan kondisi alam Indonesia. Indonesia memiliki beranekaragam tanaman yang dapat dijadikan sumber bahan bakar biodiesel seperti kelapa sawit dan jarak pagar. Pada saat ini, biodiesel (B-5) sudah dipasarkan di 201 pom bensin di Jakarta dan 12 pom bensin di Surabaya.

Sumber:
APEC Biofuels – http://www.biofuels.apec.org/
Biofuel Indonesia – http://www.biofuelindonesia.com/
Biodiesel AUSTINDO – http://bahasa.biodieselindonesia.com/indexx.php
Syamtori, Stanley. Biodiesel di Indonesiahttp://dest-online.com/blog_stanley/2008/03/02/biodiesel-di-indonesia/

Tinggalkan sebuah Komentar

Older Posts »
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.