Arsip untuk CNG

Alternatif BBM

Semakin menipisnya minyak bumi, memacu berbagai kalangan untuk mencari bahan bakar alternatif. Terdapat 10 bahan bakar alternatif yang diperkirakan cepat atau lambat dapat menggantikan minyak.

1. Hidrogen
Eenergi kimia yang diubah menjadi listrik dan cocok digunakan untuk mobil listrik. Sekarang sedang dalam tahap pengembangan, khususnya infrastruktur untuk pengisian sel bahan bakar tersebut ke kendaraan agar bisa dilakukan juga secara konvensional. Dengan gencarnya pengembangan dan produksi mobil listrik, penggunaan hidrogen sebagai bahan bakar alternatif juga semakin besar.

2. Biodiesel
Biodiesel dihasilkan dari minyak nabati atau lemak hewan. Bahan bakar ini dinilai cukup efektif dengan emisi karbondioksida yang lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar konvensional. Masalahnya, karena dibuat dari tumbuhan atau hewan, bisa mengganggu ketersediaan makanan bagi manusia.

3. Air
Sejauh ini air sebagai bahan bakar masih hipotesis dan dalam penelitian lanjut. Air merupakan energi yang memang tidak secara langsung bisa dipakai tanpa bantuan proses lain. Pasalnya, air merupakan oksidasi  dari hidrogen. Untuk itu harus dikembangkan  teknologi untuk memecah molekul air menjadi hidrogen dan digunakan sebagai energi.

4. Urine
Jika ini terjadi kita tidak perlu pusing lagi mencari WC umum ketika melakukan perjalanan. Menurut Dr. Gerardine Botte dari Asosiasi Profesor Departemen Tehnik Mesin Kimia dan Biomolekuler di Universitas Ohio, di dalam molekul urea (urine) terdapat  empat atom hidrogen jika dibandingkan air biasa yang hanya mengandung dua atom hidrogen. Lalu molekul tersebut dipisahkan melalui oksidasi dengan basis elektroda nikel pada 0.37 V sehingga  hidrogen tersebut akan terpecah.

5. Etanol
Etanol, disebut juga etil alkohol, alkohol murni, alkohol absolut, atau alkohol saja dan merupakan cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan sudah biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Etanol diproduksi dari tanaman, merupakan bahan bakar yang paling sedikit menghasilkan emisi. Beberapa bahan bakar yang dicampur dengan etanol yang terkenal adalah  gasohol E10 yang terdiri dari 90 persen bensin dan 10 persen etanol. Di beberapa negara sudah menggunakan E85 yaitu 85 persen etanol dan 15 persen  bensin.

6. Nitrogen Cair
Nitrogen cair adalah salah satu yang disiapkan untuk kendaraan masa depan. Proses pembuatannya, nitrogen cair dipanaskan, ekstrak panas menghasilkan tekanan udara dan digunakan untuk menggerakkan  piston atau mesin sehingga bisa berputar.

7. Tekanan Udara
Selain tekanan udara yang dihasilkan oleh nitrogen cair, secara sederhana kompresi udara juga bisa digunakan sebagai sumber daya mobil. Penggunaan uda yang dikompresi tidak memerlukan busi dan sistem pendingin. Dengan demikian dapat mengurangi biaya produksi dan perawatan kendaraan. Proyek mesin dengan tekanan udara ini pertama dikembangkan oleh Tata Motors dari India  bekerja sama dengan perusahaan Perancis, MDI.

8. Gas Alam
CNG (Compressed Natural Gas) atau gas alam dan di Indonesia lebih dikenal dengan BBG )bahan bakar gas). Polusi yang ditimbulkan lebih rendah dibandingkan bensin dan diesel. Kaerna lebih ringan  dari oksigen, polusi yang ditimbulkan juga sangat rendah. Masalahnya, untuk menyimpannya diperlukan tekanan yang sangat tinggi. Akibatnya, harus menggunakan tabung atau tangki yang kuat dan berat.

9. Liquefied Petroleum Gas (LPG)
Bahan bakar ini sudah umum digunakan oleh rumah tangga di Indonesia dan dikenal dengan sebutan elpiji. Karena terdiri dari campuran hidrokarbon yang mudah terbakar (kalu ada sumber api), penggunaannya transportasi umum sudah banyak. Dibandingkan dengan BBG, penyimpanan elpiji membutuhkan tekanan jauh lebih rendah.

10. Sampah Organis
Sampah organis diproses menjadi bahan bakar cair yang disebut dengan gasifikasi dan disebutn juga gas sintesis. Gas ini  dicampur dengan etanol sehingga proses pembakaran lebih mudah. Dalam skala kecil, beberapa negara telah memanfaatkan gas ini sebagai  bahan bakar kendaraan bermotor.
 

Tinggalkan sebuah Komentar

Kenapa Pemerintah tidak segera mengkonversi BBM ke LPG

Konverter Kit LGP Karya Anak Bangsa
Pemerintah diminta untuk memanfaatkan momentum pelaksanaan konversi dari minyak tanah ke liquefied petroleum gas (LPG) untuk merealisasikan konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG). Masyarakat telah menerima keberadaan LPG sebagai salah satu bahan bakar gas yang aman dibandingkan dengan compressed natural gas (CNG).

Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi), Sofyano Zakaria, menjelaskan, LPG memiliki beberapa keuntungan dibandingkan CNG. Tabung LPG lebih ringan dibandingkan tabung CNG, karena LPG tidak perlu dipadatkan seperti CNG.

“Lapisan dalam tabung CNG harus tebal, karena didesain harus tahan tekanan tinggi,” ujar Sofyano kepada VIVAnews, akhir pekan lalu.

Selain itu, ia menjelaskan, biaya untuk membangun infrastruktur LPG lebih rendah dibandingkan CNG. CNG hanya bisa didistribusikan melalui pipa yang ditanam dalam tanah menuju stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Sedangkan LPG dapat didistribusikan melalui tabung ataupun mobil tangki layaknya BBM untuk dikirim ke SPBU.

Hal lain yang dapat menjadi pertimbangan pemerintah, menurut dia, adalah LPG telah dapat diterima masyarakat. Saat ini, seluruh pedagang kaki lima pun telah berani menggunakan LPG ukuran 3 kilogram dan tidak ada lagi terdengar berita tabung LPG meledak. Artinya, masyarakat telah
memahami sisi keamanan LPG.

“Sedangkan CNG ini kan barang baru, masyarakat biasanya takut seperti dulu saat pertama kali LPG diperkenalkan,” katanya. 

KBRN, Jakarta : Pemerintah diharapkan segera melakukan program konversi bahan bakar minyak (BBM) ke “liquified petroleum gas” (LPG) untuk kendaraan bermotor sebagai salah satu solusi penghematan subsidi BBM.
  
“Dari hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh lembaga independen penyedia jasa pengujian dan analisa PT Sucofindo (Persero), pemanfaatan LPG ternyata bisa diaplikasikan sebagai bahan bakar untuk segala jenis kendaraan bermotor,” kata Direktur Utama PT Sucofindo, Arief Safari, di Jakarta, Kamis (12/7).
  
Arief mengatakan Sucofindo telah berhasil mengaplikasikan program konversi BBM ke LPG pada dua unit kendaraan dinas mereka, yakni satu unit mobil jenis MPV dan satu unit motor jenis skuter otomatis yang telah dimodifikasi menggunakan alat konversi (converter kit).
  
“Program konversi BBM ke BBG dalam hal ini LPG bisa dilakukan tanpa harus menunggu kesiapan infrastruktur SPBG (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas) yang membutuhkan investasi yang besar. Untuk mempercepat program konversi BBM ke LPG ini pemerintah cukup memanfaatkan jaringan SPBU yang telah ada sebagai agen penjualan LPG seperti yang dilakukan dalam program konversi minyak tanah ke LPG,” paparnya.
  
Untuk bisa mengaplikasikan teknologi konversi BBM ke LPG, konsumen tidak perlu mengeluarkan dana yang besar karena pemasangan satu unit alat konversi BBM ke LPG termasuk harga tabung LPG hanya berkisar Rp4 juta untuk sepeda motor dan Rp12 juta untuk mobil.
  
“Jika alat konversi dan tabungnya sudah diproduksi massal di dalam negeri, tentunya harganya bisa jauh lebih murah,” tuturnya.
  
Dari hasil pengujian awal yang dilakukan PT Sucofindo, pengaplikasian teknologi konversi BBM ke LPG untuk kendaraan bermotor bisa diterapkan dengan aman, asalkan seluruh pihak yang terkait bisa memastikan seluruh prosesnya.
  
“Untuk memastikan keamanan, maka mulai dari fabrikasi, instalasi, distribusi, ‘authorized station’ (SPBU), serta operasionalnya, dilakukan Sertifikasi QA/QC dan inspeksi sesuai standar ASME, SNI, dan ISO,” tandasnya. (WDA/ant)
Infrastruktur yang belum memadai dan penentuan harga yang tidak tepat menjadi kendala dalam mengembangkan penggunaan bahan bakar gas LPG di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Wakil Presiden Boediono pada pembukaan Forum ke-25 Liquiefied Petroleum Gas (LPG) Dunia di Nusa Dua, Bali, Rabu (12/9/12).

Menurut Boediono, dalam mengatasi keterbatasan infrastruktur, pemerintah sudah mempunyai rencana  jelas dan sistem pengoperasian yang baik untuk membangun pipa gas yang akan menghubungkan pulau Sumatera dan Jawa. Pembangunan saluran pipa gas tersebut telah dilakukan dan diharapkan selesai pada tahun 2014. Pemerintah juga sedang melakukan penyesuaian harga gas domestik agar masyarakat tidak keberatan menggunakan gas.Pembangunan terminal penerima gas di Jakarta terus ditingkatkan dan sudah beroperasi melayani kebutuhan masyarakat.

“Perbaikan infrastruktur dan harga LPG diharapkan akan mengoptimalkan program konversi BBM ke LPG,” kata Boediono.

Sementara itu, Pertamina mengklaim bahwa penggunaan LPG meningkat tajam dalam 4 tahun terakhir. Pada awal program konversi minyak tanah ke LPG, Pertamina hanya memiliki tangki LPG dengan kapasitas 136.000 metrik ton, namun kini kapasitas tangki LPG  Pertamina sudah 295.000 metrik ton.

Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan menyatakan, melalui program konversi minyak tanah ke LPG yang diterapkan mulai tahun 2007, Pertamina sudah mendistribusikan sekitar 57,9 juta paket LPG ukuran 3 Kg. 

Dengan program konversi tersebut tidak hanya mengurangi penggunaan minyak tanah, tetapi juga mengurangi emisi gas CO2.
Melihat peningkatan konsumsi LPG di tanah air, Pertamina akan lebih agresif dalam  membangun infrastruktur  penyedia LPG agar ketahanan energi nasional tetap terjaga.[Dearna/W1]

Tinggalkan sebuah Komentar

Konverter Kit Generasi Baru dari Kikokit

Konverter Kit karya Anak Bangsa
Periode peralihan bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) harus sudah dilaksanakan dari sekarang dan menjadi masalah pertama karena ketidakseriusan pemerintah dalam menyikapi hal ini. Polusi dan pemanasan global akibat penggunaan bahan bakar minyak (BBM) menjadi masalah kedua. Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) tanpa adanya alternatif bahan bakar lainnya menjadi persoalan berikutnya ditanah air kita Indonesia yang tercinta ini. Konverter kit LPG dan CNG next generation adalah jawaban dari persoalan-persoalan tersebut.
 
Apa yang dimaksud dengan konverter kit konvensional? Konverter kit konvensional adalah peralatan konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) menggunakan sistem mekanikal dengan hanya memasukan gas kedalam ruang bakar dengan menggunakan satu intake yang nantinya sesuai langkah mesin terbagi menjadi 4 intake jika kendaraan tersebut menggunakan 4 silinder.

Apa yang dimaksud dengan konverter kit next generation? Adalah konverter kit menggunakan sistem kontrol secara elektronika sehingga bahan bakar gas (BBG) dimasukkan dari 4 intake kedalam masing-masing 4 ruang bakar secara sinkron dengan putaran dan langkah mesin. Selain itu bahan bakar gas tidak begitu saja dimasukan kedalam intake tetapi terlebih dahulu menggunakan valve atau katup sehingga besarannya dapat diatur dengan baik untuk mendapatkan efisiensi dan performance yang optimal. Selain itu emisi yang sarat dengan aturan atau regulasi dunia mengenai lingkungan hidup terutama polusi dan pemanasan global. Dikatakan konverter kit jenis ini menggunakan sistem sequential dan sudah diterapkan dikendaraan dinegara maju menggunakan konverter kit generasi ke II dan ke III.

Konverter kit next generation ini menawarkan solusi pada konverter kit yang sudah diprogramkan oleh pemerintah menggunakan konverter kit konvesional. Konverter kit ini berbeda dari konverter kit konvensional yang dipilih oleh pemerintah yang mana teknologi ini mengikuti teknologi otomotif dunia yang  dapat di setting dan tuning dengan baik. Hal ini akan berdampak positif pada lingkungan hidup dan polusi dunia yang semakin tidak menentu. Sebagai tambahan terhadap konverter kit next generation adalah penggunaan tabung fleksibel sehingga masyarakat dapat terbantukan jika kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) didaerah atau wilayah tersebut terjadi.

Sebenarnya konverter kit next generation ini lahir 3 tahun yang lalu dan bertepatan sekali waktunya pada awal tahun 2012 diperkenalkan konverter kit sebagai peralatan konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) sebagai program pemerintah untuk mengkonversi BBM ke BBG. Hanya saja pemerintah dengan para rekanannya (perusahaan pengadaan barang dan jasanya) masih mendukung dan menggunakan konverter kit konvensional yang sudah kadaluarsa dan tidak dipakai lagi dinegara-negara maju mengingat program piagam kyoto mengenai pemanasan global atau rumah kaca.

Konverter kit kreasi anak negeri ini dalam pengembangannya (development dan riset) menggunakan bahan bakar gas LPG untuk membuktikan kendaraan menggunakan bahan bakar gas. Yang paling mudah didapat adalah gas dalam tabung fleksibel 3kg atau 12kg sebagai alternatif bahan bakarnya dibandingkan harus menggunakan gas CNG dengan tabung yang kokoh. Kemudian konverter kit menggunakan tabung fleksibel sekalian diperkenalkan sebagai konverter kit next generation membantu program pemerintah dan rakyat  yang tidak mendapatkan bahan bakar minyak (BBM).

Sebenarnya yang ingin ditampilkan disini adalah teknologi yang berbeda dengan konverter kit konvesional yang sudah diperkenalkan oleh pemerintah 5 tahun yang lalu yang rencananya akan diterapkan lagi pada program pemerintah mengenai konversi BBM ke BBG saat ini. Konverter kit konvensional 5 tahun yang lalu tersebut sebenarnya sudah divonis oleh perusahaan taxi sebagai konverter kit yang gagal dan dapat merusak mesin kendaraannya.

Jika peralatan konversi tersebut diterapkan lagi pada kendaraan karburator maka hal ini tidak bermasalah karena kendaraan tersebut juga masih konvensional. Tetapi jika peralatan konversi tersebut diterapkan pada kendaraan menggunakan EFI seperti Taxi atu kendaraan Dinas maka akan terdapat banyak sekali masalah. Yang pertama adalah teknologi mobil itu sendiri yang bermacam-macam dan berbeda sehingga pada saat pemasangan atau installment akan bermasalah jika tidak ada training yang khusus dan advanced. Yang kedua adalah tingkat keamanan dan keselamatannya jika pemerintah tetap menggunakan gas CNG pada kendaraan berbadan kecil atau mobil pribadi. Perlu diingat bahwa dinegara maju seperti negara-negara di Eropa melarang pengunaan bahan bakar gas CNG (Compressed Natural Gas) pada kendaraan berbadan kecil apalagi pada kendaraan pribadi.

Penggunaan tabung fleksibel seperti yang diungkapkan diatas sebenarnya juga merupakan tahapan pelaksanaan penggunaan bahan bakar gas tetapi menggunakan bahan bakar gas yang benar yaitu penggunaan bahan bakar gas jenis LGV pada kendaraan berbadan kecil atau mobil pribadi. Menggunakan tabung fleksibel terlebih dahulu yang kemudian jika infrastrukturnya sudah rampung maka dapat dibuatkan lagi pada peralatan konversi tersebut tabung fix atau tabung yang permanen. Yang ingin ditampilkan adalah penggunaan tabung fleksibel LPG 3kg atau 12kg yang dapat diperoleh dimana-mana karena program pemerintah mengenai konversi BBM ke BBG tidak akan jalan karena masalah infrastruktur (SPBG) yang belum siap. Pengguna nantinya juga akan sadar bahwa menggunakan konverter kit dengan tabung fleksibel sebenarnya melelahkan dibandingkan dengan tabung fix yang direfill di SPBG. 

Oleh karena itu kami perlu dukungan dari semua pihak akan hal ini terutama pada keberadaan SNI-nya (Standar Nasional Indonesia). Silahkan lihat di web : www. kikokit. web.id atau di http://bahanbakar-gas.blogspot.com. Semua informasi mengenai perjuangan dan sosialisasi terdapat pada web dan blog.

Konverter kit yang kami sosialisasikan tersebut diatas sesuai dengan tahapan dan displin riset belumlah sempurna tapi sudah mewakili suatu fungsi tertentu. Tahapan dan dispilin riset terdiri dari function sample dan prototype yang kemudian berdasarkan prototype inilah akan dijadikan produk masal. Jika dilihat dari tahapan pertama yaitu function sample bahwa pengembangan konverter kit sudah memasuki tahapan pengujian terhadap mesin atau engine. Tahapan function sample kedua adalah pengujian terhadap keamanan dan keselamatan. Hal inilah yang belum kami lakukan karena terdapat nilai dana yang besar disitu. Dana yang terdiri dari dana pembuatan kemasan untuk tabung 3kg atau 12kg dan dana finishing function sample. Kemudian function sample tersebut dirampungkan dengan design untuk produk masal yang dinamakan prototype. Dengan tahapan prototype itulah pengujian keseluruhan dilakukan kembali.

Hingga saat ini tahapan riset dilakukan sendiri dan dibantu oleh bengkel langganan yang dibayar sesuai dengan pekerjaannya yaitu memasang konverter kit pada kendaraan (mekanikal). Sementara pekerjaan yang utama dan mewakili perbedaan dengan konverter kit konvensional adalah sistem kontrol yang dibangun sesuai dengan perkembangan dan kemajuan otomotif dunia yaitu sistem EFI yang dilengkapi dengan ECU atau computer sistem kendaraan.

Rincian proyek sebenarnya berupa lanjutan tahapan riset dari function sample engine atau fungsi mesin ke fungsi keamanan dan keselamatan yang diwakili oleh Kemasan atau Jacketing (tight gas housing) untuk tabung fleksibel yang terbuat dari plastik PB (polybutylene) yang dilengkapi didalamnya dengan sensor gas dan temperatur, valve atau katup untuk ventile membuang gas keluar jika terjadi kebocoran, shut off valve atau katup penutup agar gas tidak mengalir jika gas tidak dipakai. Pembuatan kemasan dengan memakai plastik PB itulah yang mahal dengan biaya yang terdiri dari master cetakan moulding dan produksi kemasan itu sendiri, mungkin memerlukan harga berkisar Rp. 200. juta-an.

Bersama dengan peralatan kontrol pada kemasan dan ditambah dengan gas reducer yang diatur secara elektrik maka sistem kontrol yang dinamakan GCU (Gas Control Unit) akan berubah menjadi sistem kontrol yang lebih (advanced controlling) yang juga mencakup azas keamanan dan keselamatan. Test uji yang dapat dilakukan di YPLKI (effisiensi) dan BPPT (fungsi dan keselamatan) akan melengkapi rincian proyek yang juga memerlukan dana.

Pengembangan konverter kit menggunakan gas CNG akan dilanjutkan dengan menggunakan dana untuk pembelian tabung gas CNG dan gas reducer. Komponen dan sistem pada konverter kit LGV dapat dipakai untuk membuat konverter kit konvensional menjadi konverter kit yang handal (next generation) menggunakan konverter kit sequential. Hanya saja komponen tersebut harus dipasang setelah gas reducer yang mana tekananya rendah sehingga mudah diatur.

Demikianlah rincian proyek dibuat agar dapat membantu pemerintah dan rakyat dalam memiliki konverter kit yang benar apakah itu menggunakan LPG atau CNG dengan sistem sequential. (Dipl.-Ing. A. Hakim Pane) – Kunjungi Webnya: http://konverterkit-indonesia.blogspot.com/

Tinggalkan sebuah Komentar

DKI Akan Punya Tiga SPBG Lagi

Tiga SPBG itu terdapat di UKI Cililitan, Terminal Kalideres, dan Tanah Merdeka.

Berita Satu – Pemprov DKI Jakarta akan membangun tiga Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) untuk menambah jumlah SPBG yang sudah beroperasi di Jakarta sebanyak lima SPBG.

Rencananya, ketiga SPBG ini akan dibangun pada 2013 untuk melayani penambahan armada bus Transjakarta yang mencapai 600 unit pada tahun depan.
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan, Pemprov DKI siap melakukan penambahan jumlah SPBG.

Bahkan kalau anggaran dalam APBD memungkinkan, menurut Jokowi, begitu Joko Widodo biasa disapa, pihaknya tidak akan hanya menambah tiga SPBG saja, melainkan lebih banyak lagi SPBG sehingga dapat melayani ratusan bus Transjakarta tanpa mengganggu headwaynya (jarak antara satu kendaraan dengan yang lain) di 11 Koridor yang telah beroperasi.

“Kalau bisa jangan hanya tambah tiga SPBG saja, tambah lebih banyak lebih bagus. Karena tahun depan armada busway akan bertambah 600 unit. Sehingga kebutuhan bahan bakar gas busway tercover semuanya,” kata Joko Widodo di Balaikota DKI, Jakarta, hari ini.

Oleh karena itu, dirinya akan segera melakukan pertemuan dengan Pertamina, Perusahaan Gas Negara, dan Kementerian BUMN untuk segera merealisasikan rencana tersebut. Sebab, harus segera dicarikan jalan keluar terkait pengadaan gas dengan pembangunan SPBG di Ibu Kota.

“Kalau ada kesulitan mendapatkan bahan bakar gas, ya harus dicarikan solusinya. Bukan dengan cara berpindah-pindah SPBG-nya. Harus konsistenlah. Makanya itu yang kami minta, penambahan stasiunnya,” ujar mantan Wali Kota Solo ini.

Terdesaknya penambahan jumlah SPBG ini terjadi karena ada rencana dari Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta, pengelola busway Jakarta, untuk kembali menggunakan bahan bakar solar. BLU Transjakarta  menilai jumlah SPBG yang ada saat ini tidak memadai untuk melayani 477 armada, sehingga menyebabkan penurunan kualitas pelayanan bus Transjakarta.

Kepala Dinas Perindustrian dan Energi DKI Jakarta Andi Baso mengusulkan penambahan tiga stasiun pengisian bahan bakar gas di DKI Jakarta tahun depan kepada Gubernur DKI Joko Widodo. Tiga SPBG itu terdapat di kawasan UKI Cililitan, Terminal Kalideres, dan Tanah Merdeka.

Menurutnya, ketiga SPBG tersebut sudah siap beroperasi, hanya saja masih ada kendalanya yaitu pasokan BBG (bahan bakar gas) belum terdistribusi ke tiga SPBG tersebut. “Yang juga perlu diperhatikan adalah penyediaan infrastruktur dan pipa distrisbusi pasokan BBG di tiga tempat itu. Karena itu menjadi

Untuk pembangunan tersebut, Dinas Perindustrian dan Energi memperkirakan akan membutuhkan dana sekitar Rp35 miliar per satu SPBG. Anggaran tersebut, akan dimasukkan dalam APBD 2013.

Saat ini terdapat 13 SPBG di Jakarta, dengan lima SPBG yang aktif beroperasi. Sisa delapan SPBG lainnya, ada yang masih dalam tahapan renovasi atau sudah tidak aktif lagi karena berbagai kendala.

Empat dari  Lima SPBG yang masih aktif, diantaranya terletak di Jl Pemuda, Kampung Rambutan, Pinang Ranti, dan Pesing, dimanfaatkan untuk memfasilitasi kebutuhan bahan bakar bagi armada busway. Sementara itu, satu SPBG yang terletak di Cimanggis, digunakan untuk memfasilitasi kebutuhan jenis kendaraan lainnya.

Tinggalkan sebuah Komentar

Konverter Kit

Sebelum kita mencari tahu apa itu converter kit marilah kita cari tahu terlebih dahulu apa itu engine atau mesin dan bagaimana cara kerjanya. Mesin adalah sesuatu yang dapat bergerak karena adanya energi yang diberikan kepadanya. Energi tersebut dapat berupa bahan bakar (minyak atau gas), listrik, cahaya matahari dan lain-lain. Kita batasi pembahasan mesin dengan menggunakan bahan bakar minyak atau gas.

Prinsip kerja mesin menggunakan bahan bakar adalah menjaga keberadaan dan keseimbangan 4 bagian utama dalam disiplin ilmu mekanik yaitu :

1. Udara
2. Bahan bakar
3. Kompresi dan
4. Ignition atau pengapian.

Dengan adanya keempat bagian utama tersebut maka mesin akan bergerak dengan sendirinya dan akan berhenti jika salah satu dari keempat bagian tersebut tiba-tiba menghilang. Sungguh sangat simpel…..

Tetapi ada sedikit perbedaan jenis mesin menggunakan bahan bakar minyak yaitu jenis bahan bakar yang ber-oktan dan yang tidak ber-oktan atau bahan bakar jenis sentan seperti solar. Mesin diesel menggunakan sentan tidak memerlukan ignition untuk memanaskan bahan bakar hingga meledak. Jenis mesin diesel ini hanya menggunakan kompresi yang tinggi untuk membuat komponen mesin bergerak.

Dari sudut pandang ekonomis dan politis keberadaan bahan bakar minyak dikhwatirkan habis disertai perkembangan situasi dunia yang tidak menentu terutama untuk negara-negara penghasil minyak. Jika mesin bahan bakar dirubah menjadi mesin elektrik maka peta politik dan ekonomi dunia akan berdampak sangat tragis untuk merubah semua mesin pada kendaraan yang ada didunia ini. Oleh karena itu lahirlah converter kit sebagai alat pengganti bahan bakar minyak dengan bahan bakar gas.

Apa itu konverter kit? Konverter kit sebagai suatu produk “manufactures after markets” (termasuk suatu produk aksesoris dalam dunia otomotif) adalah suatu peralatan yang dipergunakan untuk mengkonversi bahan bakar (CNG, LPG, Ethanol) pada suatu mesin pada kendaraan atau pada pembangkit tenaga listrik. Dikonversi maksudnya adalah disesuaikan kerja mesinnya sehingga penggunaan bahan bakar gas atau ethanol dapat diterapkan pada mesin berbahan bakar minyak. Kerja mesin yang mana atau bagian mesin yang mana? Jawabannya adalah pasti bagian mesin yang berhubungan dengan pasokan bahan bakar dan udaranya, kompresi mesinnya dan yang terakhir adalah timingnya sehingga pembakaran sempurna atau peledakan yang optimal didapat. Dengan pembakaran sempurna maka efisiensi dan performance kendaraan akan diperoleh dengan baik.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah converter kit dapat dipasang disemua kendaraan dan semua kendaraan dapat menggunakan semua bahan bakar yang tersedia dialam? apakah dalam bentuk sumber daya alam atau renewable energy? Jawabannya ya, dengan satu syarat yaitu jenis bahan bakar dengan satu family atau kategori tertentu dan dengan demikian jenis mesin tertentu (bahan bakar ber-oktan dengan mesin besin, bahan bakar ber-sentan dengan mesin diesel).

Mari kita focus pada mesin berbahan bakar minyak ber-oktan maka terdapat dua jenis produksi mobil didunia yaitu mobil berkarburator dan mobil menggunakan teknologi EFI (electric fuel injection). Konverter kit menggunakan bahan bakar gas sudah lama dipergunakan yaitu converter kit yang dipasangkan pada mobi l berkarburator dan jenis converter kit seperti ini dinamakan converter kit jenis open (terbuka). Sedangkan converter kit menggunakan system EFI dinamakan converter kit jenis close (tertutup). Konverter kit jenis open atau pada mobil karburtor berbahaya karena aliran gasnya terbuka sedangkan jenis converter kit close yang terdapat pada system kendaraan saat ini aman. Untuk mengamankan mobil berkaburator yang tidak diproduksi lagi didunia ini maka dalam penggunaan converter kit pada mobil berkaburator harus dibuatkan system semi EFI sehingga system converter kitnya menjadi system close yang aman.

Kita batasi untuk mengenal converter kit dengan system close apakah itu pada mesin berkaburator dengan perubahan system semi EFI-nya atau pada mesin dengan system EFI murni. Mari kita bahas komponen converter kit dari pembagian fungsinya.

Karena kendaraan menggunakan gas maka tempat atau wadah penyimpanan bahan bakar baru seperti gas harus disediakan dalam system konverter kit dan biasanya dinamakan tabung dan bukan tangki. Bagian wadah atau tempat penyimpanan bahan bakar mulai sekarang kita namakan bagian tampung.

Gas harus dialirkan dari bagian mobil tertentu (bagian belakang) ke bagian mesin mobil dengan menggunakan pipa atau selang dengan suatu batas kemampuan tekanan yang sudah ditentukan. Bagian mengalirkan bahan bakar gas dengan komponen pendukungnya seperti magnetic valve, pressure equipment hingga gas valve untuk me-mixer (mencampur) gas dan udara diintake mesin, dinamakan bagian distribus i.

Bagian yang terpenting setelah bagian tampung dan distribusi adalah bagian control unit atau kita namakan GCU (Gas Control Unit). Sesuai dengan sistemnya menggunakan system EFI maka GCU dikembangkan sinkron dengan kerja mesin dan bahan bakarnya. Bagian kontrol unit dibangun dengan komponen elektroteknik menggunakan IC dan mikro controller. Dengan mengatur besaran-besaran bahan bakar dan pengapian yang disesuaikan maka performance dan effisiensi didapat dengan maksimal. Oleh karena itu bagian control unit adalah bagian yang paling penting dan bidang ini selanjutnya dinamakan tuning dan setting dalam penggunaan bahan bakar di mobil untuk mendapatkan performance dan efisiensi yang baik. Tuning dan setting ditemukan dimobil berbahan bakar minyak dan gas. Di Jerman penggunaan converter kit tidak hanya sekali pasang selesai tapi diperlukan tuning dan setting yang bertahap.

Seperti halnya mobil menggunakan bahan bakar minyak maka kerja mesin dengan bahan bakarnya pada prinsipnya sama saja. Dimulai dari bahan bakar yang dialirkan melalui pipa dan selang kemudian diberikan tekanan menggunakan pompa (fuel pump) dan di-mixer (dicampur) dalam intake menggunakan injector. Setelah bensin dicampur dengan udara dalam intake sesuai langkah mesin maka campuran kedua unsur tadi masuk kedalam ruang bakar setelah klep terbuka. Kemudian campuran tersebut mendapat tekanan dari langkah piston yang kemudian semakin panas akibat tekanan. Dengan pemantik berupa pengapian menggunakan busi mobil maka ledakan terjadi akibat terbakar spontan secara keseluruhan setelah terjadi ledakan-ledakan kecil dalam ruang bakar. Ledakan itulah yang mengakibatkan gerakan piston kebawah dan dengan demikian gerakan mesin mobil. Langkah terakhir adalah langkah pembuangan yang mana klep gas buang terbuka dan gerakan piston kembali keposisi menekan keatas. Gas buang akhirnya dapat dilihat ditempat pembuangan gas yaitu knalpot.

Sekarang kita kembali ke penggunaan converter kit berbahan bakar gas (LGV, CNG, Hirdorgen) atau ethanol (alc ohol). Maka langkah-langkah kerja mesin sama persis seperti diatas menggunakan bahan bakar minyak. Perbedaannya terletak pada batas kemampuan alat sesuai fungsi dan sifat dari bahan bakarnya masing-masing.

Konverter Kit Karya Anak Bangsa
 1. Konverter kit Hidrogen dan LGV( Liquid Gas Vehicle) terdiri dari LPG dan Vigas

Bahan bakar LPG yang terdiri dari propan dan butan harus ditampung dalam tabung dengan tekanan kurang lebih 10 bar sekitar 140 psi hingga menjadi cair (sangat aman karena tekanan gas LPG rendah dibandingkan tekanan gas CNG). Oleh karena itu tabung LPG harus dibuat kokoh tapi tidak sekokoh tabung CNG. Demikian juga dalam penanganan distribusinya tidak begitu mengkhawatirkan. Penurunan tekanan dapat dilakukan dengan keran atau electric valve yang dapat mengatur tekakan gas dipipa sehingga pada saat akan dimasukkan kedalam intake tekanannya harus berkisar antara 18 psi hingga 20 psi dan tidak boleh lebih. Kontrol unit harus dituning dan disetting hingga pembakaran sempurna terjadi sesuai nilai oktannya yang berkisar antara 98 sampai 120 tergantung dari komposisi propan dan butannya.

Di Indonesia dapat dipergunakan tabung fle ksibel LPG yang dijual diwarung-warung. Instalasinya sama dengan menggunakan tabung fix yang dipergunakan di Eropa. Hanya saja pada tabung fix sudah didesign sesuai pemakaian bahan bakar yang dilengkapi dengan level bahan bakar untuk refill kembali. Sedangkan pada tabung fleksibel tidak terdapat level dan harus disiasati azas kemanfaatan dan kese lamatannya dengan menggunakan percampuran bensin dan gas jika gas akan atau sudah habis. Selain itu tabung fleksibel harus dikemas untuk optimalisas i engine karena dingin b ahkan me mbe ku se rta melindungi tabung dari hantaman dan kebocoran.

Conclusion : Bagian tampung dan distribusi converter kit LPG harus kokoh tetapi tidak sekokoh bagian tampung dan distribusi pada gas CNG. Penanganannya lebih mudah karena tekanan yang berasal dari tabung sudah rendah berkisar 140 psi. Sikap dalam disiplin riset dalam menyiasati atau rekayasa teknologi untuk keamanan dan keselamatan mudah dan standar.

2. Konverter kit CNG (Compressed Natural Gas)

Bagian tampung dan distribusi harus s angat kokoh karena gas methan (CH4) yang merupakan gas yang didapat dari alam tidak dapat begitu saja mencair jika dimasukkan kedalam tabung. Gas methan harus menggunakan tekanan yang besar untuk memasukan gas tersebut kedalam tabung hingga menjadi cair karena hanya terdapat satu karbon dalam susunannya. Tekanan yang dibutuhkan sebesar 200 bar setara dengan 2800 psi dan tabung harus didinginkan pada suhu – 35 derajat celcius (minus) saat gas dimasukkan. Proses pendinginan diperlukan karena tabung akan menjadi panas saat gas dimasukkan kedalam tabung dengan tekanan sebesar 2800 psi.

Oleh karena itu pada bagian tampung pada converter kit CNG menggunakan dua buah tabung pada angkot. Hal ini diharapkan daya tampung bahan bakar gas yang banyak pada saat refill karena gas yang direfill tidak dibuat hingga mencair. Gas hanya dimampatkan didalam tabung hingga tekanan tertentu dengan kapasitas tertentu pula. Oleh karena itu tekanan gas CNG dalam tabung dalam prakteknya dapat mencapai 400 hingga 1000 psi, suatu tekanan yang sangat tinggi dan berbahaya.

Dibagian distribusi gas juga harus diturunkan tekanannya hingga mencapai tekanan yang dapat didistribusikan kedalam intake yaitu sebesar 18 psi hingga 20 psi. Untuk penurunan tekanan dikenal sekali suatu komponen pada converter kit CNG yang dinamakan vaporized. Bentuknya seperti keong atau bundar untuk penurunan tekanan tinggi ke tekanan rendah. Selain itu pipa-pipa harus kokoh dan pada daerah tekanan tinggi tidak dapat menggunakan pipa fleksibel (selang).

Pada bagian control unit disiplin tuning dan setting juga sangat diperlukan untuk mendapatkan performance dan efisiensi yang optimal. Perbedaan pada gas LPG dan CNG terletak pada nilai oktannya sehingga tuning dan setting yang membedakan keduanya. CNG dapat dipastikan memiliki nilai oktan sebesar 120.

Conclusion : Bagian tampung dan distribusi converter kit CNG dipastikan kokoh. Tuning dan setting lebih susah karena nilai oktanya tinggi. Refill berkali-kali karena gas tidak mencair. Penggunaan tabung besar dan jumlahnya banyak.

3. Konverter kit Ethanol (Bioethanol/Alkohol)

Perlakuan bahan bakar ethanol sama seperti bahan bakar minyak karena ethanol berupa cairan (cair). Oleh karena itu converter kit ethanol tidak menggunakan ekstra bagian tampung dan distribusi seperti bahan bakar gas. Tangki mobil dan distribusi bahan bakar minyak (seperti pipa, injector dll) dapat dipergunakan dengan baik. Yang membedakannya hanya control unit untuk tuning dan setting besaran ethanol.

Conclusion : Hanya diperlukan tuning dan setting dalam penggunaan ethanol.

NB : LNG adalah methan yg dicairkan melalui pendinginan hingga – 163 ° C (minus) 

(Oleh: Dip. Ing. A Hakim Pane). Sumber: Konverter Kit Indonesia

Tinggalkan sebuah Komentar

Stasiun Bahan Bakar Gas

Unit LPG & Gas Products merupakan salah satu unit bisnis di Pertamina yang memasarkan LPG dan produk-produk gas lainnya di Indonesia. Sejak tahun 1968, Unit LPG & Gas Products telah berkomitmen untuk melayani seluruh masyarakat Indonesia dengan menyediakan LPG sebagai bahan baku dan bahan bakar Industri, Rumah Tangga, dan Komersial dengan menggunakan brand “Elpiji”. Akhir-akhir ini, Elpiji menjadi lebih dikenal dan dekat dengan masyarakat karena adanya program Pemerintah untuk mengkonversi Minyak Tanah dengan Elpiji, yang ternyata telah terbukti lebih ekonomis, efisien dan ramah lingkungan.
Dalam era langit biru, Gas Domestik memegang peranan penting dalam menyukseskan program ini. Disamping Elpiji, sejak tahun 1987 Unit LPG & Gas Products juga telah menyuplai bahan bakar gas dengan menggunakan CNG (Compressed Natural Gas), dibawah brand “BBG”. Pada tahun 2004 diluncurkan brand “Musicool”, suatu hidrokarbon refigerant yang ramah lingkungan, menjadi satu bukti dari komitmen kami untuk mewujudkan lingkungan hidup yang lebih baik karena menjaga lapisan ozon dari kerusakan dan efek pemanasan global. Pada tahun 2009 Unit Bisnis LPG & Gas Products meluncurkan produk baru yaitu produk Elpiji premium dengan brand Ease Gas. Produk Ease Gas dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pasar rumah tangga menengah keatas dan industri. Ease Gas dipasarkan dalam dua kemasan tabung yaitu tabung 9 Kg dan tabung 14 Kg, dijual dengan harga keekonomian dengan keunggulan dibandingkan produk Elpiji lainnya yaitu :
  1. Kualitas dan tampilan tabung yang lebih elegant dengan warna kuning keemasan mengkilat, bersih dan terbuat dari baja terbaik berstandar SNI.
  2. Valve tabung Ease Gas dilengkapi dengan technologi double spindle sehingga memberikan tingkat safety yang lebih baik.
  3. Layanan prima dengan layanan antar ke tempat konsumen atau melalui call center ( 62 – 21) 7294655 atau melalui contact Pertamina 500-000.
Untuk lebih mendekatkan diri kepada konsumen, Unit bisnis LPG & Gas Products membagi wilayah pemasarannya menjadi enam area pemasaran yang dipimpin oleh Manajer Region yaitu :
  • Region I, melingkupi Provinsi NAD, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau Daratan dan Riau Kepulauan.
  • Region II, melingkupi Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung.
  • Region III, melingkupi area DKI Jakarta, Provinsi Banten dan Jawa Barat, Kalimantan Barat.
  • Region IV, melingkupi area Provinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.
  • Region V, melingkupi area Provinsi Jawa Timur, Bali, NTB, NTT.
  • Region VI, melingkupi area Kalimantan Timur, Sulawesi dan Papua.
  • Region VI, melingkupi atas area Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua.
Saat ini, diversifikasi energi merupakan suatu keharusan dalam rangka mengantisipasi krisis minyak bumi disebabkan adanya kecenderungan penurunan cadangan minyak bumi. Bersama dengan Laboratorium dan Riset PT. Pertamina (Persero), Unit LPG & Gas Products mengembangkan LPG untuk transportasi, atau LGV (Liquefied Gas for Vehicle).
Menghadapi pemenuhan kebutuhan energy yang kian kompleks dan kompetitif, PT Pertamina ( Persero ) telah berkomitmen untuk melakukan transformasi bisnis disemua kegiatannya. Unit bisnis LPG & Gas Products secara terus menerus dan berkelanjutan mengembangkan produk produknya, untuk mendukung infrastruktur yang handal dan memberikan pelayanan yang lebih baik sera memberikan dukungan terbaik bagi pemerintah Republik Indonesia, masyarakat dan lingkungan.

1. LPG
 

Saat ini pertamina memiliki 15 depot LPG yang tersebar di lima region pemasaran LPG. Tabel dibawah ini adalah daftar depot beserta informasi kapasitas, alamat dan nomor telpon.

No. Nama Depot Region Alamat No. Tlp
1 DEPOT TANJUNG UBAN Reg 1 Batam -
2 DEPOT TANDEM Jl. Medan Tanjungpura Tlp. 061. 926409
3 DEPOT PANGKALAN SUSU Sumatera Utara -
4 DEPOT P. LAYANG Jl. Sungai Rebu, Palembang Tlp. 0711. 642695  Fax. 0711. 542702
5 DEPOT TJ. PRIOK Reg 2 Jl. Jampea No. 1 Tlp. 021. 490484  Fax. 021. 490484
6 DEPOT BALONGAN Jl. Raya Balongan Km. 8, Indramayu Tlp. 0234. 7374269
7 DEPOT ERETAN Indramayu, Jawa Barat -
8 DEPOT CILACAP Reg 3 Jl. MT. Haryono, Cilacap Tlp. 0282. 545880 
9 DEPOT SEMARANG * Semarang, Jawa Tengah -
10 DEPOT TANJUNG PERAK Reg 4 Jl. Niam Barat, Surabaya Tlp. 031. 3294215
11 DEPOT TTM MANGGIS Jl. Raya Karang Asem Desa Manggis Tlp. 0363. 41593
12 DEPOT GRESIK* Gresik, Jawa Timur -
13 DEPOT TANJUNG WANGI* Banyuwangi, Jawa Timur -
14 DEPOT BALIKPAPAN Reg 5 Jl. Minyak Balikpapan Tlp. 0542. 731901
15 DEPOT MAKASSAR Jl. Moch.Hatta No. 1 Tlp. 0411. 319211

*) Gresik, rencana operasi 23 Mei 2009 Semarang, rencana operasi 23 Agustus 2009 Tanjung Wangi, rencana operasi 5 Desember 2009 

2. SPPBE

 
SPPBE SWASTA

SPPBE Swasta Merupakan filling plant milik pihak ketiga (swasta), yang bertugas untuk mengangkut, mengisikan dan menyerahkan LPG baik dalam bentuk tabung ataupun curah kepada Agen yang ditunjuk oleh PERTAMINA. LPG diambil dari LPG FP PERTAMINA, Kilang, dan Lapangan Gas. Stok LPG di SPPBE merupakan milik PERTAMINA (sistem konsinyasi). Setiap bulan di SPPBE dilakukan stok opname. Besar losses yang diizinkan di setiap SPPBE adalah 0% dari truput bulanan (zero losses). SPPBE swasta yang telah Beroperasi sebelum program konversi sebanyak 49 unit dan akan dibangun di tahun 2009 – 2012 sebanyak 163 unit (sudah ada ijin).
SPPBE COCO
SPPBE COCO adalah SPPBE yang kepemilikan dan kepengurusannya dilakukan oleh PT. Pertamina. Sebelum program konversi, PT. Pertamina hanya mengandalkan SPPBE dari swasta saja. Pada tahun 2008 telah dibangun 17 unit SPPBE COCO. Selanjutnya hingga tahun 2010 nantinya akan dibangun sebanyak 90 unit SPPBE COCO. 
Berikut kami lampirkan daftar SPPBE terbaru untuk seluruh Indonesia, klik disini untuk mengunduh.
4. SPPEK
SPPEK (Stasiun Pengisian dan Pengiriman Elpiji Khusus) merupakan mini filling plant pihak swasta, yang terletak di remote area. SPPEK adalah hasil reposisi dari APPEL, berlaku efektif 1 April 2007. Selanjutnya kerjasama untuk pengisian dan pengangkutan Elpiji di daerah remote ditetapkan dalam bentuk SPPEK.

Filling fee ditanggung oleh PERTAMINA sedangkan transportation fee ditanggung oleh konsumen (dimasukkan dalam struktur harga jual). Oleh karena itu harga jual ELPIJI ex SPPEK akan lebih mahal daripada harga jual ELPIJI ex LPG FP ataupun ex SPPBE, tetapi lebih murah dari harga APPEL.

  • Kapan dibangun SPPEK dan bukan SPPBE ? Jika:
    • SPPEK terletak di daerah yang cukup jauh dari LPG FP PERTAMINA ataupun SPPBE yang sudah exist. Dengan adanya SPPEK akan menghemat transportation fee PERTAMINA daripada dibangun SPPBE, tetapi membantu memperluas jangkauan pasar ke konsumen.
    • Harga jual Agen ex SPPEK dapat lebih murah daripada jika Agen mengambil ke LPG FP PERTAMINA ataupun SPPBE.
    • Apabila pengangkutan LPG bulk dari LPG FP PERTAMINA / Supply Point ke SPPEK melalui angkutan air atau kondisi jalan darat yang dilalui tidak layak.

  • Saat ini baru terdapat 4 SPPEK antara lain.

Pemilik Region Alamat SPPEK
PT. Bina mulia Jaya Abadi Region 1 Jl. Sungai Daeng no 95, Muntok Bangka, Telp:0716-21777, Fax:0716-21775
PT. delta Adiguna Region IV Cakranegara/ Lombok Barat, Jl. Ade Irma Suryani, gg. Kencana no 1, Lombok Nusa Tenggara Barat
PT. Agrabudi Karyamagra Region V Jl. A. Yani Km. 23.900 no 1A, Landasan Ulin Banjarbaru, Kalsel, Telp:0511-4706172, Fax:0511-4705876
PT. Gemilang Asia Sejahtera Region II Jl. Nusa Indah Baru Blok G No 1-2, Pontianak Kalbar, Telp:0561-747563, Fax:0561-742353
5. SPBG
SPBG (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas) adalah stasiun tempat pengisian bahan bakar untuk kendaraan yang menggunakan produk bahan bakar gas. Untuk saat ini baru terdapat sebanyak 16 SPBG yang tersebar di daerah DKI Jakarta. Berikut kami lampirkan daftar SPBG.

No Alamat Operator
1  Jl. Raya Pluit Pertamina
2  Jl. Pemuda
3  Jl. Pasar Minggu
4  Jl. Tebet Timur
5  Jl. Sumenep
6  Jl. Margonda Raya
7  Jl. Raya Bogor
8  Jl. Wr. Buncit
9  Jl. Benda Kalideres
10  Jl. Sudirman Tangerang
11  Jl. Pondok Ungu (PGN) Swasta
12  Jl. Pesing (PPD)
13  Jl. Danau Sunter
14  Jl. A. Yani
15  Jl. Daan Mogot
16  Jl. Perintis-Kemerdekaan
6. Agen Elpiji
Agen elpiji merupakan badan usaha yang berbadan hukum (PT/Koperasi). Saat ini terdapat lebih dari 1500 agen elpiji yang tersebar di seluruh Indonesia. Agen elpiji membeli ELPIJI secara cash kepada PERTAMINA, dengan lokasi pengambilan berada di LPG FP PERTAMINA atau SPPBE. Persyaratan umum Agen (baru):
  • Memiliki kantor dan gudang, minimal seluas 400 m2. Gudang digunakan untuk menyimpan tabung kosong maupun isi, terbuat dari bahan yang tidak mudah terbakar. Lantai gudang dibuat setinggi bak truk.
  • Memiliki APAR yang cukup, baik di gudang ataupun di truk.
  • Memiliki gas detector.
  • Memiliki kendaraan untuk mengangkut ELPIJI, minimal 2: 1 unit truck dan 1 unit pick up.
  • Memiliki alat timbangan yang sudah ditera Metrologi.
  • Memasang papan nama.
  • Memiliki izin yang dibutuhkan.
Berikut adalah daftar agen elpiji.

7. Agen Musicool

Agen musicool adalah badan usaha yang mempunyai hak untuk mendistribusikan produk Musicool ke rumah tangga maupun industri. Saat ini terdapat sekitar 68 agen Musicool yang tersebar di seluruh region pemasaran di Indonesia. Kesemua agen Musicool telah memahami dan menguasai cara penanganan Musicool dengan baik dari aspek tatacara pengisian/retrofit dan aspek keselamatan kerja. Selain itu agen Musicool dapat memberikan penjelasan/penyuluhan/presentasi tentang Musicool kepada calon pengguna di industri dan jasa service.

Berikut kami lampirkan daftar agen musicool, klik disini untuk mengunduh.

Tinggalkan sebuah Komentar

Rumitnya Konversi BBM ke BBG

Antrian di SPBG
TEMPO.CO , Jakarta: Kertas putih itu menempel di billboard kecil di stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG), Pancoran, Jakarta Selatan. Tertulis dengan huruf yang besar di kertas itu, “Maaf SPBG Ini Sementara Ditutup”. Di bagian bawahnya ada penjelasan bahwa penutupan ini karena ada permasalahan administrasi dan teknis operasional.

Penutupan SPBG kendaraan berbahan bakar gas, seperti Transjakarta, bajaj, dan mikrolet, itu dilakukan sejak medio Oktober lalu. Bus Transjakarta yang kerap datang antara lain angkutan dari koridor V jurusan Ancol-Kampung Melayu (50 unit), dan koridor IX jurusan Pinangranti-Pluit (90 unit). “Penutupan SPBG ini memperburuk kondisi yang ada,” kata Muhammad Akbar, Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta akhir pekan lalu.

Akbar patut waswas karena kini hanya tersisa empat SPBG di Jakarta, yaitu di Pinangranti, Jalan Pemuda, Kampung Rambutan, semuanya di Jakarta Timur, lalu Pesing, Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat. Sedangkan SPBG di Pluit, Jakarta Utara, sejak tahun lalu tidak beroperasi lagi. Padahal, saat ini ada 460 unit bus Transjakarta yang menggunakan bahan bakar gas, sisanya, 90 unit menggunakan solar.

Menurut Sri Ulina, juru bicara Transjakarta, dalam sehari, satu unit bus mengisi dua kali tangki gasnya. Bisa dibayangkan, ujarnya, antrean bus di SPBG makin mengular. Situasi ini sudah darurat karena sangat mempengaruhi operasional bus. “Buntutnya, kedatangan bus ke halte terlambat dan waktu tunggu penumpang lebih lama,” kata dia.

Kondisi ini bakal kian parah karena Gubernur Jakarta Joko Widodo berencana menambah unit angkutan baru. “Saya sudah perintahkan Kepala Dinas Perhubungan, tahun ini kira-kira 200-an unit bus. Tahun depan 300 sampai 400 tambahannya,” kata Jokowi di Balai Kota dua pekan lalu.

BLU Transjakarta sendiri sudah memesan 66 unit bus dengan bahan bakar gas yang akan dioperasikan bulan depan. Gas dipilih karena lebih murah ketimbang solar. Harga gas Rp 3.100/LSP (liter setara premium), sedangkan solar Rp 4.500 per liter. Dibandingkan dengan bensin atau solar, biaya produksi BBG tidak lebih dari separuhnya.

Emisi BBG juga lebih rendah dibanding BBM. Dari segi dampak lingkungan dan emisi, BBG lebih bersahabat dibanding BBM. Emisi karbon monoksida dan dioksida dari BBG adalah setengah dan lebih kecil 15% dari pemakaian BBM. BBG juga mengeluarkan lebih sedikit benzena, mengeluarkan 30 ribu kali lebih sedikit partikel dan nitrogen oksida (Nox) daripada BBM.

Namun, minimnya jumlah SPBG dan pasokan gas di Jakarta membuat mereka berpikir ulang. Apalagi pada 30-31 Agustus 2012 stasiun gas di Kampung Rambutan sempat tidak beroperasi. Manajemen Transjakarta langsung membuat pengumuman yang menjelaskan keterlambatan datangnya bus di halte. Ternyata PT Perusahaan Gas Negara (PGN) menghentikan pasokan gas ke SPBG yang dikelola PT Petrogas Bagus Andhika. Alasannya, telah melampaui kuota maksimum bulanan.

Pada 2008, PGN juga mengancam menghentikan pasokan gas ke dua SPBG yang dikelola PT Petrogas. Perusahaan gas milik pemerintah itu marah karena PT Petrogas menunggak pembayaran selama setahun, yakni senilai Rp 10,6 miliar. PT Petrogas berdalih piutang mereka Rp 15 miliar belum dibayar oleh Pemerintah Provinsi Jakarta. Urusan bayar-membayar ini akhirnya tuntas setelah DPR dan kementerian campur tangan.

“Pemerintah tidak serius membangun transportasi berbasis bahan bakar gas,” kata Ketua Dewan Transportasi Jakarta Azas Tigor Nainggolan. Tahun lalu, lembaganya sudah merekomendasikan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan Pertamina agar secepatnya memperbesar distribusi gas untuk angkutan umum di Jakarta.

Ketika itu, menurut Tigor, pemerintah berjanji akan membangun SPBG yang baru, mengaktifkan kembali yang tidak beroperasi, serta menggunakan SPBG bergerak. Sebagai timbal balik, Pemerintah Provinsi Jakarta bersedia memberi kemudahan izin pendirian stasiun bahan bakar gas kepada perusahaan swasta. Seperti bait lagu populer, “janji-janji tinggal janji”.

Dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2012 guna mewujudkan janji itu bakal kandas. Dalam dokumen negara ini terdapat alokasi dana guna membangun infrastruktur CNG (compressed natural gas atau gas alam terkompresi) sebesar Rp 2 triliun. Biaya ini guna membuat 3 SPBG di Jakarta, 14 SPBG online, 5 SPBG bergerak, serta 14 stasiun induk dan cabang. Tidak lupa pula membangun mobile storage, trailer chassis, head truck, dan sistem pengelolaan gas.

Agustus lalu, Pertamina telah melakukan tender tiga SPBG di Pulogadung, Kalideres, dan Cililitan. Pekan ini akan diumumkan pemenangnya. Tampaknya proyek ini akan status quo. Maklum, kalau mengikuti proses normal, perusahaan pemenang baru mendapat dana pada Desember.

Meskipun dikebut, pembangunan baru akan selesai dua atau tiga bulan lagi. Jika sampai Maret belum selesai, mereka akan kena denda 5 persen. Tak akan ada perusahaan yang berminat. Kabarnya, tender akan diumumkan, namun tidak dilakukan pengerjaannya. Proyek lain yang jumlah keseluruhan biayanya senilai Rp 2 triliun juga bakal mangkrak.

“Penyebabnya karena mekanisme penganggaran,” kata Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Ali Mundakir. Tak ada pejabat di Kementerian Energi Sumber Daya Mineral yang berani ambil keputusan dalam masalah ini. Padahal, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2012 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Penetapan Harga BBG untuk Transportasi Jalan, kementerian ini yang jadi motornya. Peraturan itu ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 14 Juni 2012.

Keseriusan pemerintah mendorong penggunaan bahan bakar gas bagi alat transportasi juga tak tampak pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2013. Pada rapat Badan Anggaran DPR 2 Oktober lalu, usulan sejumlah proyek pembangunan infrastruktur SPBG senilai Rp 1,5 triliun dipangkas jadi Rp 450 miliar. Tak jelas peruntukan dana Rp 450 miliar itu. Begitu pula dengan tidak adanya rencana proyek mempercepat konversi kendaraan umum dari bahan bakar minyak ke BBG.

Padahal Pertamina, Perusahaan Gas Negara, Medco, PHE ONWJ, dan Talisman sudah membuat komitmen memasok gas bagi transportasi BBG Jakarta dan sekitarnya, sebesar 23,1 juta kaki kubik (MMSCFD) tiap harinya. Sedangkan jumlah kebutuhan tiap harinya mencapai 27,1 MMSCFD. “Jaringan pipa kami tersebar di jalan utama dan pinggir kota, silakan dimanfaatkan oleh perusahaan yang mau membangun SPBG,” kata Head of Corporate Communication PGN, Ridha Ababil.

Pertamina mulai membangun SPBG di Kalideres dengan dana sendiri. Ali Mundakir menjelaskan, stasiun pengisian itu akan diresmikan pada Desember nanti. “Kami sudah membuat rencana percepatan konversi kendaraan umum secara bertahap dalam skala nasional,” kata dia. Rencana ini mengacu pada Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 19 Tahun 2010 tentang Pemanfaatan Gas Bumi untuk Bahan Bakar Gas yang Digunakan untuk Transportasi.

Sayangnya, rencana yang dibuat Pertamina tersebut tak jelas kelanjutannya di tangan regulator. “Pemerintah memang tidak memiliki blueprint penggantian bahan bakar minyak ke bahan bakar gas,” kata Wakil Direktur ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro.

Menurut dia, ketika konversi minyak tanah ke gas elpiji tiga kilogram pada 2006, pemerintah memiliki blueprint. Belum lagi soal uji coba selama enam bulan.

Karena itu, Komaidi mempertanyakan landasan dan kajian atas keluarnya Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2012 padahal belum memiliki blueprint. Namun, dia tidak heran jika pemerintah tidak ngotot mendanai pembangunan infrastruktur SPBG pada APBN 2012 dan 2013.

Tinggalkan sebuah Komentar

Beda Konverter Kit LPG dan CNG

Sistem konverter kit bahan bakar alternatif selain BBM
Untuk menggunakan bahan bakar alternatif seperti gas diperlukan tabung sebagai wadah tampung bahan bakar gas tersebut sedangkan tangki merupakan wadah tampung yang diperlukan untuk bahan bakar yang berwujud cair seperti BBM dan bioethanol (alkohol). Untuk mengalirkan bahan bakar dari wadah tampung ke ruang bahan bakar diperlukan sistem distribusi seperti pipa, valve dan komponen lainnya sebagai pendukung sistem distribusi bahan bakar alternatif.

Perbedaan konverter kit tergantung pada kekokohan atau ketahanan dari komponen konverter kit itu sendiri terhadap tekanan bahan bakar yang dipergunakan. Tekanan bahan bakar yang paling tinggi adalah tekanan pada CNG (compressed natural gas) dengan tekanan gas dalam tabung yang berkisar antara 200 – 300 bar (2800 psi hingga 4300 psi). Kemudian diikuti oleh bahan bakar LPG (liquid petroleum gas) dengan tekanan gas dalam tabung berkisar antara 4 sampai 15 bar (56 psi hingga 280 psi). Sedangkan tekanan bahan bakar bioethanol hampir sama dengan tekanan BBM (kurang lebih antara 2 – 3 bar). Tekanan itu terjadi karena adanya fuel pump (pompa bensin) dalam sistem otomotif.

Sistem konverter kit CNG atau LPG
Dapat dilihat bahwa semua komponen konverter kit CNG dan LPG sama saja dan perbedaan hanya terletak pada sistem ketahanan dan kekokohan komponennya. Hal ini dapat dilihat dari kekokohannya pada sistem wadah tampung (tabung), pada sistem distribusi seperti pipa dan terakhir pada gas reducernya (penurunan tekanan gas).

Apa itu Gas Reducer? Gas reducer adalah suatu peralatan yang paling penting dalam sistem konverter kit untuk menurunkan tekanan gas yang tinggi dalam tabung sehingga tekanan gas akan dengan mudah dikontrol setelah melalui peralatan gas reducer. Selain itu gas reducer mempunyai fungsi sebagai wadah tampung sementara sehingga aliran gas tidak langsung berasal dari tabung utama langsung ke dalam ruang bakar melainkan bertahap gas pindah dari tabung utama ke gas reducer sehingga gas dapat dipanaskan dengan baik. Kondisi dingin yang terjadi akibat perbedaan tekanan atau perubahan wujud cair ke gas memerlukan sistem pemanasan. Sistem pemanasan pada wadah tampung (tabung) yang besar akan menyulitkan dibandingkan dengan wadah kecil seperti gas reducer yang berbentuk keong. Dengan menggunakan gas reducer maka penurunan tekanan dan pemanasan gas dapat dilakukan dengan baik.

Tekanan pada outlet komponen gas reducer biasanya kecil dan dapat dikendalikan dengan mudah. Oleh karena itu setelah outlet komponen gas reducer pada sistem konverter kit dapat digunakan hose (selang) untuk distribusi gas masuk kedalam ruang bakar setelah melalui solenoid valve jika sistem yang dipergunakan adalah sistem sequential. Komponen lain yang berada setelah komponen gas reducer dapat dipasangkan dengan sistem yang sama, apakah itu konveter kit CNG atau LPG, karena pengendalian tekanan yang sulit hanya berlaku sebelum inlet gas reducer.

Tabel dibawah ini adalah komponen yang terdapat pada konverter kit CNG dan LPG. Susunan komponen disesuaikan dengan urutan keberadaan konverter kit pada posisinya.

Komponen konverter kit sequential CNG atau LPG
Perbedaan konverter kit cng dan lpg selain kekokohan dan ketahanan komponennya terhadap tekanan juga terletak pada sistem kontrolnya yang tidak hanya merubah besaran bahan bakarnya melainkan juga merubah besaran ignition atau pengapian. Perubahan pada pengapian sangat diperlukan mengingat nilai oktan gas alam (CNG) sudah dapat dipastikan berada pada angka 120 dan lebih besar dibandingkan dengan bahan bakar gas LPG dengan nilai oktan yang berkisar pada kisaran angka 100 (hampir mendekati nilai oktan pertamax plus dengan nilai 95).

Jadi dapat disimpulkan bahwa komponen konverter kit CNG dan LPG serupa tapi tidak sama dengan perbedaan ketahanan dan kekokohannya masing-masing. Yang menjadi sulit dalam pemasangan konverter kit adalah jenis dan teknologi otomotif saat ini (era abad 21) yang terus berkembang dan semakin canggih. Oleh karena itu sangat disarankan untuk menjalankan terlebih dahulu “Demonstrative Projects” sehingga menghasilkan panduan pemasangan pada beragam jenis dan teknologi kendaraan. Selain itu perlu diingat bahwa banyak sekali penyesuaian komponen dan pemasangan terhadap teknologi otomotif yang sering disebut spare parts konverter kit sebagai komponen tambahan untuk penyesuaian pemasangan sesuai jenis kendaraannya.

Agar program pemerintah mengenai konverter kit dapat berjalan dengan baik dan lancar dengan pemasangan konverter kit yang aman (safety) maka mau tidak mau “Demonstrative Projects” harus dijalankan yang dapat ditemukan dalam istilah pemerintah sebagai “survey kendaraan untuk konversi”. Apakah maksud dan tujuannya sama dengan “Demonstrative Projects”, hal ini perlu dikaji bersama-sama.

Catatan :
Penggunaan istilah NGV (natural gas vehicle) ditujukan pada penggunaan gas alam (natural gas) berupa gas methan atau CH4 pada kendaraan. Gas tersebut akan berwujud cair pada tekanan minimal 200 bar didalam tabung. Oleh karena itu gas tersebut dinamakan CNG (compressed natural gas) dan gas tersebut akan mencair jika ditekan dengan tekanan tinggi. Ada lagi gas alam dengan susunan yang sama berupa cair yang biasa disebut dengan LNG (liquid natural gas). Gas alam atau methan ini akan mencair jika didinginkan dengan temperature (minus) – 163 derajat celcius dan biasanya gas alam ini ditemukan pada pengiriman gas keluar negeri (ekspor) menggunakan tangki besar dan dingin dikapal laut.

Penggunaan istilah LGV (liquid gas vehicle) adalah gas propane dan butane yang dipergunakan dikendaraan dan biasanya dinamakan LPG (liquid petroleum gas). Istilah lain dari bahan bakar LPG yang dapat ditemukan di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU/SPBG) adalah Vigas dan istilah ini dipergunakan agar dapat membedakan dari LPG yang dipergunakan dirumah tangga. Gas yang terdapat dalam tabung 3kg atau 12kg sebenarnya terdapat dua jenis gas yaitu LPG yang merupakan gas yang diperoleh pada saat bahan bakar minyak keluar dari perut bumi. Sementara terdapat juga gas dalam tabung 3kg atau 12kg yang diperoleh dari hasil proses synthesis gas alam methan/CH4 yang biasanya dinamakan DME (dimethyl ether).

Tidak dapat di indentifikasi apakah dalam tabung 3 kg atau 12 kg terdapat LPG atau DME didalamnya karena pengganti LPG jika bahan bakar minyak menipis atau habis akan digantikan dengan DME sebagai energy atau bahan bakar berupa gas untuk masa depan. Seharusnya pemerintah menyampaikan hal ini dengan benar sehingga rakyat juga tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sumber: Konverter Kit Indonesia -  oleh: Dipl. – Ing. A. Hakim Pane

Tinggalkan sebuah Komentar

Jalur Distribusi Bahan Bakar Gas (BBG)

Jalur Distribusi Compressed Natural Gas (CNG)

SPBBG merupakan singkatan dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas, merupakan filling station untuk pengisian BBG, yang bentuknya hampir sama dengan SPBU. Saat ini hanya terletak di DKI Jakarta.
PERTAMINA bekerja sama dengan pihak swasta untuk memasarkan BBG. SPBG dibangun di sepanjang jalur pipa gas kota, dan saat ini berada di beberapa lokasi di kota Jakarta.
Secara keseluruhan pola jalur distribusi dari BBG digambarkan sebagai berikut :

Jalur Distribusi Elpiji (LPG)

Agen ELPIJI merupakan mitra PERTAMINA yang menjual ELPIJI baik dalam kemasan tabung ataupun curah ke konsumen. Dari Agen ELPIJI, ELPIJI dalam tabung dapat dijual langsung ke konsumen ataupun melalui pengecer (toko, warung, dll). Saat ini Agen ELPIJI sudah terdapat di seluruh Indonesia. Pembelian dapat dilakukan melalui Agen resmi PERTAMINA atau modern outlet.
Sejak bulan Oktober tahun 2004, PERTAMINA telah menjajaki kerjasama dengan modern outlet untuk memasarkan ELPIJI PERTAMINA. Modern outlet yang telah bekerja sama dengan PERTAMINA saat ini adalah Indomaret. Saat ini, ELPIJI telah bisa didapat melalui gerai Indomaret di daerah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Surabaya.

Secara keseluruhan pola jalur distribusi dari Elpiji digambarkan sebagai berikut :

Jalur Distribusi Vi Gas (LGV)



Jalur Distribusi Musicool

Agen Musicool merupakan kepanjangan tangan PERTAMINA dalam memasarkan Refrigerant Musicool ke konsumen. Pembelian dapat dilakukan melalui Agen Musicool. Untuk Musicool, pengambilan produk dilakukan oleh Agen Musicool ke LPG FP Tg. Priok atau ke Kilang UP III Plaju, dan kemudian menjualnya ke konsumen.

Secara keseluruhan pola jalur distribusi dari Musicool digambarkan sebagai berikut :

Jalur Distribusi HAP

Tinggalkan sebuah Komentar

Percepatan Pemakaian Bahan Bakar Gas (BBG) sebagai Pengganti BBM

Industri gas dunia menyatakan kesiapannya untuk menggantikan posisi bahan bakar minyak (BBM)sebagai sumber energi dalam satu dekade ini. Hal itu diungkapkan oleh para pemimpin Konferensi Gas Dunia (WGC) ke-25 di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin, 4 Juni 2012.
Menurut Presiden Perserikatan Gas Dunia Datuk Dr Abdul Rahim Hashim, cadangan gas yang masih melimpah, cukup untuk sekitar 250 tahun ke depan, memungkinkan gas menjadi sumber energi yang berkelanjutan. Selain itu, gas lebih bersih dibanding minyak bumi dan batu batu-bara. Ini beriringan dengan upaya mencegah perubahan iklim yang disumbang oleh efek gas rumah kaca dengan makin bertaburnya karbon diosida (CO2).
Jika langkah ini konsisten dilaksanakan, emisi gas buang akan berkurang hingga 16 miliar ton pada 2050. Tiga miliar ton berasal dari penggantian minyak oleh gas di sektor transportasi dan selebihnya ketika gas mensubtitusi batu-bara dan minyak di luar transportasi, contohnya industri. Ini bermanfaat langsung, menjadikan kota-kota bersih, langit yang lebih jelas, dan emisi karbon berkurang, terutama di daerah yang paling cepat berkembang seperti Asia Pasifik.
Indonesia tinggal memiliki cadangan minyak bumi sekitar sepuluh tahun ke depan. Karena itu, alternatif sumber energi lain harus disiapkan sejak sekarang dan pilihannya adalah GAS. Potensi cadangan kita diperkirakan masih cukup hingga 40 tahun mendatang.
Sebagai satu di antara negara produsen gas terbesar di dunia, Indonesia memegang peran penting dalam menentukan permintaan dan penawaran. Potensi besar ini, harus dikelola dengan baik. Apalagi, permintaan dunia terus meningkat. Pun dengan harga yang cenderung meningkat belakangan ini, dampak perbaikan ekonomi Jepang setelah terkena musibah tsunami.
Untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat tersebut, perusahaan pelat merah pemerintah  harus masuk lebih dalam ke sektor hulu, dan harus segera melakukan studi seperti yang sudah eksplorasi di Sumatera.
Dengan langkah tersebut, proses peralihan minyak bumi dan batu-bara ke gas sebagai sumber energi akan tercapai dalam satu dekade ke depan. Lebih-lebih, sejumlah blok gas dalam waktu dekat akan berproduksi. Pada 2016, gas Australia akan menyumbang ke pasar cukup besar. Potensi blok gas baru di negeri kanguru itu mencapai 70 juta ton.
Seperti yang sudah diberitakan pengadaan dan pendistribusian alat pengkonversi bahan bakar gas alias conventer kit tahun ini akan ditangani Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan menggunakan anggaran ESDM, pada tahap awal yang akan membagikan konverter kit.
Diharapkan pendistribusian alat tersebut akan segera dilakukan mulai semester kedua tahun 2012 ini (apakah ini memungkinkan ?). Seluruh kendaraan umum akan mendapatkannya secara gratis. Pada 2013, baru menggunakan anggaran Kementerian Perindustrian.
Pemerintah sedang menggalakkan program penghematan penggunaan bahan bakar minyak. Gerakan nasional ini dicetuskan setelah DPR menolak usulan pemerintah untuk menaikkan harga bensin bersubsidi, pada bulan Maret 2012 lalu. Padahal, postur anggaran negara tahun ini disusun dengan asumsi harga bensin bersubsidi dinaikkan.
Karena itu, program penghematan diluncurkan agar anggaran subsidi bahan bakar minyak tak melampaui angka yang telah ditetapkan.
Salah satu bentuk penghematan adalah dengan mengkonversi penggunaan bensin menjadi gas. Untuk itu, diperlukan alat converter yang harganya sekitar Rp 15 juta per unit. Alat ini akan dibagikan cuma-cuma kepada mobil angkutan umum.
Rencana pemakaian gas untuk menggantikan bahan bakar minyak sebagai sumber energi kendaraan akan dipercepat pada tahun 2012 ini. Percepatan ini mengacu pada pencanangan gerakan hemat energi yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu.
PT Perusahaan Gas Negara siap menjadi salah satu motornya dengan membangun infrastruktur dan memperluas jaringan pipa gas. Percepatan akan dimulai dengan membuat sambungan pipa ke stasiun pengisian bahan bakar umum. Sebagai proyek percontohan adalah Jakarta dan daerah sekitarnya. Pompa bensin yang ada akan direvitalisasi dengan menambah dispenser dan kompresor gas. Atau, jika mendapat lahan, akan dibangun stasiun bahan bakar gas yang baru. Direncanakan, tahun ini ada 33 pompa bensin yang sudah siap untuk menyalurkan pengisian gas ke kendaraan.
PGN (Perusahaan Gas Negara) membahas rencana tersebut dengan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak Bumi dan Gas yang salah satu bisnisnya mengelola pompa bensin. Dengan jaringan yang membentang dari Cilegon, Jawa Barat, ke Sukabumi, sepanjang berdekatan dengan pipa gas, SPBU itu akan rencananya akan  beri akses sambungan.
Untuk kawasan yang jauh dengan jaringan pipa, PGN akan membangun stasiun penampung atau mother board station gas. Dari tempat ini, gas didistribusikan ke pompa-pompa bensin. Langkah tersebut, untuk memangkas investasi yang mesti dikeluarkan oleh pengusaha karena cukup hanya menyediakan dispenser gas dan kompresornya.
Untuk kendaraan, industri otomotif juga sudah diajak untuk menyukseskan program ini. Sejumlah pertemuan dengan Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia telah digelar. Mereka diminta untuk memasang tabung pengalihan (converter) di kendaraan yang diproduksi. “ATPM” akan berperan banyak.
Saat ini harga gas sangat kompetitif jika dibanding Premium sekalipun. Angka yang dipatok pemerintah untuk harga gas adalah Rp 3.100 per liter setara Premium. Selain lebih murah, angka tersebut merupakan harga pasar, tak ada subsidi sehingga tidak membebani keuangan negara.
Untuk tahap awal, mobil yang wajib menggunakan gas adalah angkutan massal. Kendaraan Busway, yang baru setengahnya memakai gas, tahun ini akan diwajibkan semuanya. Setelah itu angkutan umum lainnya.
Program percepatan ini akan disukseskan dengan kendaraan dinas pemerintah daerah atau pusat serta badan usaha negara. Pasalnya, dengan gerakan hemat energi yang dicanangkan SBY, kendaraan dinas tidak lagi diperbolehkan memakai Premium, tetapi bensin setara Pertamax. Nah, harga Pertamax ini tiga kali lebih mahal dari gas, sementara Pemda dan instansi pemerintah ingin menyelamatkan sepertiga dari anggarannya untuk kebutuhan bahan bakar.

Semoga program nya berjalan dengan lancar, biar negara dan rakyat tidak pusing memikirkan BBM dan berpolemik tentang BBM terusssss … :)

Tinggalkan sebuah Komentar

Older Posts »
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.