Archive for Konverter Kit

Konverter Kit Generasi Baru dari Kikokit

Konverter Kit karya Anak Bangsa
Periode peralihan bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) harus sudah dilaksanakan dari sekarang dan menjadi masalah pertama karena ketidakseriusan pemerintah dalam menyikapi hal ini. Polusi dan pemanasan global akibat penggunaan bahan bakar minyak (BBM) menjadi masalah kedua. Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) tanpa adanya alternatif bahan bakar lainnya menjadi persoalan berikutnya ditanah air kita Indonesia yang tercinta ini. Konverter kit LPG dan CNG next generation adalah jawaban dari persoalan-persoalan tersebut.
 
Apa yang dimaksud dengan konverter kit konvensional? Konverter kit konvensional adalah peralatan konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) menggunakan sistem mekanikal dengan hanya memasukan gas kedalam ruang bakar dengan menggunakan satu intake yang nantinya sesuai langkah mesin terbagi menjadi 4 intake jika kendaraan tersebut menggunakan 4 silinder.

Apa yang dimaksud dengan konverter kit next generation? Adalah konverter kit menggunakan sistem kontrol secara elektronika sehingga bahan bakar gas (BBG) dimasukkan dari 4 intake kedalam masing-masing 4 ruang bakar secara sinkron dengan putaran dan langkah mesin. Selain itu bahan bakar gas tidak begitu saja dimasukan kedalam intake tetapi terlebih dahulu menggunakan valve atau katup sehingga besarannya dapat diatur dengan baik untuk mendapatkan efisiensi dan performance yang optimal. Selain itu emisi yang sarat dengan aturan atau regulasi dunia mengenai lingkungan hidup terutama polusi dan pemanasan global. Dikatakan konverter kit jenis ini menggunakan sistem sequential dan sudah diterapkan dikendaraan dinegara maju menggunakan konverter kit generasi ke II dan ke III.

Konverter kit next generation ini menawarkan solusi pada konverter kit yang sudah diprogramkan oleh pemerintah menggunakan konverter kit konvesional. Konverter kit ini berbeda dari konverter kit konvensional yang dipilih oleh pemerintah yang mana teknologi ini mengikuti teknologi otomotif dunia yang  dapat di setting dan tuning dengan baik. Hal ini akan berdampak positif pada lingkungan hidup dan polusi dunia yang semakin tidak menentu. Sebagai tambahan terhadap konverter kit next generation adalah penggunaan tabung fleksibel sehingga masyarakat dapat terbantukan jika kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) didaerah atau wilayah tersebut terjadi.

Sebenarnya konverter kit next generation ini lahir 3 tahun yang lalu dan bertepatan sekali waktunya pada awal tahun 2012 diperkenalkan konverter kit sebagai peralatan konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) sebagai program pemerintah untuk mengkonversi BBM ke BBG. Hanya saja pemerintah dengan para rekanannya (perusahaan pengadaan barang dan jasanya) masih mendukung dan menggunakan konverter kit konvensional yang sudah kadaluarsa dan tidak dipakai lagi dinegara-negara maju mengingat program piagam kyoto mengenai pemanasan global atau rumah kaca.

Konverter kit kreasi anak negeri ini dalam pengembangannya (development dan riset) menggunakan bahan bakar gas LPG untuk membuktikan kendaraan menggunakan bahan bakar gas. Yang paling mudah didapat adalah gas dalam tabung fleksibel 3kg atau 12kg sebagai alternatif bahan bakarnya dibandingkan harus menggunakan gas CNG dengan tabung yang kokoh. Kemudian konverter kit menggunakan tabung fleksibel sekalian diperkenalkan sebagai konverter kit next generation membantu program pemerintah dan rakyat  yang tidak mendapatkan bahan bakar minyak (BBM).

Sebenarnya yang ingin ditampilkan disini adalah teknologi yang berbeda dengan konverter kit konvesional yang sudah diperkenalkan oleh pemerintah 5 tahun yang lalu yang rencananya akan diterapkan lagi pada program pemerintah mengenai konversi BBM ke BBG saat ini. Konverter kit konvensional 5 tahun yang lalu tersebut sebenarnya sudah divonis oleh perusahaan taxi sebagai konverter kit yang gagal dan dapat merusak mesin kendaraannya.

Jika peralatan konversi tersebut diterapkan lagi pada kendaraan karburator maka hal ini tidak bermasalah karena kendaraan tersebut juga masih konvensional. Tetapi jika peralatan konversi tersebut diterapkan pada kendaraan menggunakan EFI seperti Taxi atu kendaraan Dinas maka akan terdapat banyak sekali masalah. Yang pertama adalah teknologi mobil itu sendiri yang bermacam-macam dan berbeda sehingga pada saat pemasangan atau installment akan bermasalah jika tidak ada training yang khusus dan advanced. Yang kedua adalah tingkat keamanan dan keselamatannya jika pemerintah tetap menggunakan gas CNG pada kendaraan berbadan kecil atau mobil pribadi. Perlu diingat bahwa dinegara maju seperti negara-negara di Eropa melarang pengunaan bahan bakar gas CNG (Compressed Natural Gas) pada kendaraan berbadan kecil apalagi pada kendaraan pribadi.

Penggunaan tabung fleksibel seperti yang diungkapkan diatas sebenarnya juga merupakan tahapan pelaksanaan penggunaan bahan bakar gas tetapi menggunakan bahan bakar gas yang benar yaitu penggunaan bahan bakar gas jenis LGV pada kendaraan berbadan kecil atau mobil pribadi. Menggunakan tabung fleksibel terlebih dahulu yang kemudian jika infrastrukturnya sudah rampung maka dapat dibuatkan lagi pada peralatan konversi tersebut tabung fix atau tabung yang permanen. Yang ingin ditampilkan adalah penggunaan tabung fleksibel LPG 3kg atau 12kg yang dapat diperoleh dimana-mana karena program pemerintah mengenai konversi BBM ke BBG tidak akan jalan karena masalah infrastruktur (SPBG) yang belum siap. Pengguna nantinya juga akan sadar bahwa menggunakan konverter kit dengan tabung fleksibel sebenarnya melelahkan dibandingkan dengan tabung fix yang direfill di SPBG. 

Oleh karena itu kami perlu dukungan dari semua pihak akan hal ini terutama pada keberadaan SNI-nya (Standar Nasional Indonesia). Silahkan lihat di web : www. kikokit. web.id atau di http://bahanbakar-gas.blogspot.com. Semua informasi mengenai perjuangan dan sosialisasi terdapat pada web dan blog.

Konverter kit yang kami sosialisasikan tersebut diatas sesuai dengan tahapan dan displin riset belumlah sempurna tapi sudah mewakili suatu fungsi tertentu. Tahapan dan dispilin riset terdiri dari function sample dan prototype yang kemudian berdasarkan prototype inilah akan dijadikan produk masal. Jika dilihat dari tahapan pertama yaitu function sample bahwa pengembangan konverter kit sudah memasuki tahapan pengujian terhadap mesin atau engine. Tahapan function sample kedua adalah pengujian terhadap keamanan dan keselamatan. Hal inilah yang belum kami lakukan karena terdapat nilai dana yang besar disitu. Dana yang terdiri dari dana pembuatan kemasan untuk tabung 3kg atau 12kg dan dana finishing function sample. Kemudian function sample tersebut dirampungkan dengan design untuk produk masal yang dinamakan prototype. Dengan tahapan prototype itulah pengujian keseluruhan dilakukan kembali.

Hingga saat ini tahapan riset dilakukan sendiri dan dibantu oleh bengkel langganan yang dibayar sesuai dengan pekerjaannya yaitu memasang konverter kit pada kendaraan (mekanikal). Sementara pekerjaan yang utama dan mewakili perbedaan dengan konverter kit konvensional adalah sistem kontrol yang dibangun sesuai dengan perkembangan dan kemajuan otomotif dunia yaitu sistem EFI yang dilengkapi dengan ECU atau computer sistem kendaraan.

Rincian proyek sebenarnya berupa lanjutan tahapan riset dari function sample engine atau fungsi mesin ke fungsi keamanan dan keselamatan yang diwakili oleh Kemasan atau Jacketing (tight gas housing) untuk tabung fleksibel yang terbuat dari plastik PB (polybutylene) yang dilengkapi didalamnya dengan sensor gas dan temperatur, valve atau katup untuk ventile membuang gas keluar jika terjadi kebocoran, shut off valve atau katup penutup agar gas tidak mengalir jika gas tidak dipakai. Pembuatan kemasan dengan memakai plastik PB itulah yang mahal dengan biaya yang terdiri dari master cetakan moulding dan produksi kemasan itu sendiri, mungkin memerlukan harga berkisar Rp. 200. juta-an.

Bersama dengan peralatan kontrol pada kemasan dan ditambah dengan gas reducer yang diatur secara elektrik maka sistem kontrol yang dinamakan GCU (Gas Control Unit) akan berubah menjadi sistem kontrol yang lebih (advanced controlling) yang juga mencakup azas keamanan dan keselamatan. Test uji yang dapat dilakukan di YPLKI (effisiensi) dan BPPT (fungsi dan keselamatan) akan melengkapi rincian proyek yang juga memerlukan dana.

Pengembangan konverter kit menggunakan gas CNG akan dilanjutkan dengan menggunakan dana untuk pembelian tabung gas CNG dan gas reducer. Komponen dan sistem pada konverter kit LGV dapat dipakai untuk membuat konverter kit konvensional menjadi konverter kit yang handal (next generation) menggunakan konverter kit sequential. Hanya saja komponen tersebut harus dipasang setelah gas reducer yang mana tekananya rendah sehingga mudah diatur.

Demikianlah rincian proyek dibuat agar dapat membantu pemerintah dan rakyat dalam memiliki konverter kit yang benar apakah itu menggunakan LPG atau CNG dengan sistem sequential. (Dipl.-Ing. A. Hakim Pane) – Kunjungi Webnya: http://konverterkit-indonesia.blogspot.com/

Tinggalkan sebuah Komentar

Konverter Kit

Sebelum kita mencari tahu apa itu converter kit marilah kita cari tahu terlebih dahulu apa itu engine atau mesin dan bagaimana cara kerjanya. Mesin adalah sesuatu yang dapat bergerak karena adanya energi yang diberikan kepadanya. Energi tersebut dapat berupa bahan bakar (minyak atau gas), listrik, cahaya matahari dan lain-lain. Kita batasi pembahasan mesin dengan menggunakan bahan bakar minyak atau gas.

Prinsip kerja mesin menggunakan bahan bakar adalah menjaga keberadaan dan keseimbangan 4 bagian utama dalam disiplin ilmu mekanik yaitu :

1. Udara
2. Bahan bakar
3. Kompresi dan
4. Ignition atau pengapian.

Dengan adanya keempat bagian utama tersebut maka mesin akan bergerak dengan sendirinya dan akan berhenti jika salah satu dari keempat bagian tersebut tiba-tiba menghilang. Sungguh sangat simpel…..

Tetapi ada sedikit perbedaan jenis mesin menggunakan bahan bakar minyak yaitu jenis bahan bakar yang ber-oktan dan yang tidak ber-oktan atau bahan bakar jenis sentan seperti solar. Mesin diesel menggunakan sentan tidak memerlukan ignition untuk memanaskan bahan bakar hingga meledak. Jenis mesin diesel ini hanya menggunakan kompresi yang tinggi untuk membuat komponen mesin bergerak.

Dari sudut pandang ekonomis dan politis keberadaan bahan bakar minyak dikhwatirkan habis disertai perkembangan situasi dunia yang tidak menentu terutama untuk negara-negara penghasil minyak. Jika mesin bahan bakar dirubah menjadi mesin elektrik maka peta politik dan ekonomi dunia akan berdampak sangat tragis untuk merubah semua mesin pada kendaraan yang ada didunia ini. Oleh karena itu lahirlah converter kit sebagai alat pengganti bahan bakar minyak dengan bahan bakar gas.

Apa itu konverter kit? Konverter kit sebagai suatu produk “manufactures after markets” (termasuk suatu produk aksesoris dalam dunia otomotif) adalah suatu peralatan yang dipergunakan untuk mengkonversi bahan bakar (CNG, LPG, Ethanol) pada suatu mesin pada kendaraan atau pada pembangkit tenaga listrik. Dikonversi maksudnya adalah disesuaikan kerja mesinnya sehingga penggunaan bahan bakar gas atau ethanol dapat diterapkan pada mesin berbahan bakar minyak. Kerja mesin yang mana atau bagian mesin yang mana? Jawabannya adalah pasti bagian mesin yang berhubungan dengan pasokan bahan bakar dan udaranya, kompresi mesinnya dan yang terakhir adalah timingnya sehingga pembakaran sempurna atau peledakan yang optimal didapat. Dengan pembakaran sempurna maka efisiensi dan performance kendaraan akan diperoleh dengan baik.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah converter kit dapat dipasang disemua kendaraan dan semua kendaraan dapat menggunakan semua bahan bakar yang tersedia dialam? apakah dalam bentuk sumber daya alam atau renewable energy? Jawabannya ya, dengan satu syarat yaitu jenis bahan bakar dengan satu family atau kategori tertentu dan dengan demikian jenis mesin tertentu (bahan bakar ber-oktan dengan mesin besin, bahan bakar ber-sentan dengan mesin diesel).

Mari kita focus pada mesin berbahan bakar minyak ber-oktan maka terdapat dua jenis produksi mobil didunia yaitu mobil berkarburator dan mobil menggunakan teknologi EFI (electric fuel injection). Konverter kit menggunakan bahan bakar gas sudah lama dipergunakan yaitu converter kit yang dipasangkan pada mobi l berkarburator dan jenis converter kit seperti ini dinamakan converter kit jenis open (terbuka). Sedangkan converter kit menggunakan system EFI dinamakan converter kit jenis close (tertutup). Konverter kit jenis open atau pada mobil karburtor berbahaya karena aliran gasnya terbuka sedangkan jenis converter kit close yang terdapat pada system kendaraan saat ini aman. Untuk mengamankan mobil berkaburator yang tidak diproduksi lagi didunia ini maka dalam penggunaan converter kit pada mobil berkaburator harus dibuatkan system semi EFI sehingga system converter kitnya menjadi system close yang aman.

Kita batasi untuk mengenal converter kit dengan system close apakah itu pada mesin berkaburator dengan perubahan system semi EFI-nya atau pada mesin dengan system EFI murni. Mari kita bahas komponen converter kit dari pembagian fungsinya.

Karena kendaraan menggunakan gas maka tempat atau wadah penyimpanan bahan bakar baru seperti gas harus disediakan dalam system konverter kit dan biasanya dinamakan tabung dan bukan tangki. Bagian wadah atau tempat penyimpanan bahan bakar mulai sekarang kita namakan bagian tampung.

Gas harus dialirkan dari bagian mobil tertentu (bagian belakang) ke bagian mesin mobil dengan menggunakan pipa atau selang dengan suatu batas kemampuan tekanan yang sudah ditentukan. Bagian mengalirkan bahan bakar gas dengan komponen pendukungnya seperti magnetic valve, pressure equipment hingga gas valve untuk me-mixer (mencampur) gas dan udara diintake mesin, dinamakan bagian distribus i.

Bagian yang terpenting setelah bagian tampung dan distribusi adalah bagian control unit atau kita namakan GCU (Gas Control Unit). Sesuai dengan sistemnya menggunakan system EFI maka GCU dikembangkan sinkron dengan kerja mesin dan bahan bakarnya. Bagian kontrol unit dibangun dengan komponen elektroteknik menggunakan IC dan mikro controller. Dengan mengatur besaran-besaran bahan bakar dan pengapian yang disesuaikan maka performance dan effisiensi didapat dengan maksimal. Oleh karena itu bagian control unit adalah bagian yang paling penting dan bidang ini selanjutnya dinamakan tuning dan setting dalam penggunaan bahan bakar di mobil untuk mendapatkan performance dan efisiensi yang baik. Tuning dan setting ditemukan dimobil berbahan bakar minyak dan gas. Di Jerman penggunaan converter kit tidak hanya sekali pasang selesai tapi diperlukan tuning dan setting yang bertahap.

Seperti halnya mobil menggunakan bahan bakar minyak maka kerja mesin dengan bahan bakarnya pada prinsipnya sama saja. Dimulai dari bahan bakar yang dialirkan melalui pipa dan selang kemudian diberikan tekanan menggunakan pompa (fuel pump) dan di-mixer (dicampur) dalam intake menggunakan injector. Setelah bensin dicampur dengan udara dalam intake sesuai langkah mesin maka campuran kedua unsur tadi masuk kedalam ruang bakar setelah klep terbuka. Kemudian campuran tersebut mendapat tekanan dari langkah piston yang kemudian semakin panas akibat tekanan. Dengan pemantik berupa pengapian menggunakan busi mobil maka ledakan terjadi akibat terbakar spontan secara keseluruhan setelah terjadi ledakan-ledakan kecil dalam ruang bakar. Ledakan itulah yang mengakibatkan gerakan piston kebawah dan dengan demikian gerakan mesin mobil. Langkah terakhir adalah langkah pembuangan yang mana klep gas buang terbuka dan gerakan piston kembali keposisi menekan keatas. Gas buang akhirnya dapat dilihat ditempat pembuangan gas yaitu knalpot.

Sekarang kita kembali ke penggunaan converter kit berbahan bakar gas (LGV, CNG, Hirdorgen) atau ethanol (alc ohol). Maka langkah-langkah kerja mesin sama persis seperti diatas menggunakan bahan bakar minyak. Perbedaannya terletak pada batas kemampuan alat sesuai fungsi dan sifat dari bahan bakarnya masing-masing.

Konverter Kit Karya Anak Bangsa
 1. Konverter kit Hidrogen dan LGV( Liquid Gas Vehicle) terdiri dari LPG dan Vigas

Bahan bakar LPG yang terdiri dari propan dan butan harus ditampung dalam tabung dengan tekanan kurang lebih 10 bar sekitar 140 psi hingga menjadi cair (sangat aman karena tekanan gas LPG rendah dibandingkan tekanan gas CNG). Oleh karena itu tabung LPG harus dibuat kokoh tapi tidak sekokoh tabung CNG. Demikian juga dalam penanganan distribusinya tidak begitu mengkhawatirkan. Penurunan tekanan dapat dilakukan dengan keran atau electric valve yang dapat mengatur tekakan gas dipipa sehingga pada saat akan dimasukkan kedalam intake tekanannya harus berkisar antara 18 psi hingga 20 psi dan tidak boleh lebih. Kontrol unit harus dituning dan disetting hingga pembakaran sempurna terjadi sesuai nilai oktannya yang berkisar antara 98 sampai 120 tergantung dari komposisi propan dan butannya.

Di Indonesia dapat dipergunakan tabung fle ksibel LPG yang dijual diwarung-warung. Instalasinya sama dengan menggunakan tabung fix yang dipergunakan di Eropa. Hanya saja pada tabung fix sudah didesign sesuai pemakaian bahan bakar yang dilengkapi dengan level bahan bakar untuk refill kembali. Sedangkan pada tabung fleksibel tidak terdapat level dan harus disiasati azas kemanfaatan dan kese lamatannya dengan menggunakan percampuran bensin dan gas jika gas akan atau sudah habis. Selain itu tabung fleksibel harus dikemas untuk optimalisas i engine karena dingin b ahkan me mbe ku se rta melindungi tabung dari hantaman dan kebocoran.

Conclusion : Bagian tampung dan distribusi converter kit LPG harus kokoh tetapi tidak sekokoh bagian tampung dan distribusi pada gas CNG. Penanganannya lebih mudah karena tekanan yang berasal dari tabung sudah rendah berkisar 140 psi. Sikap dalam disiplin riset dalam menyiasati atau rekayasa teknologi untuk keamanan dan keselamatan mudah dan standar.

2. Konverter kit CNG (Compressed Natural Gas)

Bagian tampung dan distribusi harus s angat kokoh karena gas methan (CH4) yang merupakan gas yang didapat dari alam tidak dapat begitu saja mencair jika dimasukkan kedalam tabung. Gas methan harus menggunakan tekanan yang besar untuk memasukan gas tersebut kedalam tabung hingga menjadi cair karena hanya terdapat satu karbon dalam susunannya. Tekanan yang dibutuhkan sebesar 200 bar setara dengan 2800 psi dan tabung harus didinginkan pada suhu – 35 derajat celcius (minus) saat gas dimasukkan. Proses pendinginan diperlukan karena tabung akan menjadi panas saat gas dimasukkan kedalam tabung dengan tekanan sebesar 2800 psi.

Oleh karena itu pada bagian tampung pada converter kit CNG menggunakan dua buah tabung pada angkot. Hal ini diharapkan daya tampung bahan bakar gas yang banyak pada saat refill karena gas yang direfill tidak dibuat hingga mencair. Gas hanya dimampatkan didalam tabung hingga tekanan tertentu dengan kapasitas tertentu pula. Oleh karena itu tekanan gas CNG dalam tabung dalam prakteknya dapat mencapai 400 hingga 1000 psi, suatu tekanan yang sangat tinggi dan berbahaya.

Dibagian distribusi gas juga harus diturunkan tekanannya hingga mencapai tekanan yang dapat didistribusikan kedalam intake yaitu sebesar 18 psi hingga 20 psi. Untuk penurunan tekanan dikenal sekali suatu komponen pada converter kit CNG yang dinamakan vaporized. Bentuknya seperti keong atau bundar untuk penurunan tekanan tinggi ke tekanan rendah. Selain itu pipa-pipa harus kokoh dan pada daerah tekanan tinggi tidak dapat menggunakan pipa fleksibel (selang).

Pada bagian control unit disiplin tuning dan setting juga sangat diperlukan untuk mendapatkan performance dan efisiensi yang optimal. Perbedaan pada gas LPG dan CNG terletak pada nilai oktannya sehingga tuning dan setting yang membedakan keduanya. CNG dapat dipastikan memiliki nilai oktan sebesar 120.

Conclusion : Bagian tampung dan distribusi converter kit CNG dipastikan kokoh. Tuning dan setting lebih susah karena nilai oktanya tinggi. Refill berkali-kali karena gas tidak mencair. Penggunaan tabung besar dan jumlahnya banyak.

3. Konverter kit Ethanol (Bioethanol/Alkohol)

Perlakuan bahan bakar ethanol sama seperti bahan bakar minyak karena ethanol berupa cairan (cair). Oleh karena itu converter kit ethanol tidak menggunakan ekstra bagian tampung dan distribusi seperti bahan bakar gas. Tangki mobil dan distribusi bahan bakar minyak (seperti pipa, injector dll) dapat dipergunakan dengan baik. Yang membedakannya hanya control unit untuk tuning dan setting besaran ethanol.

Conclusion : Hanya diperlukan tuning dan setting dalam penggunaan ethanol.

NB : LNG adalah methan yg dicairkan melalui pendinginan hingga – 163 ° C (minus) 

(Oleh: Dip. Ing. A Hakim Pane). Sumber: Konverter Kit Indonesia

Tinggalkan sebuah Komentar

Haruskah beralih ke Bahan Bakar Gas ?

Perkembangan otomotif sebagai alat transportasi, baik di darat maupun di laut, sangat memudahkan manusia dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Selain mempercepat dan mempermudah aktivitas, di sisi lain penggunaan kendaraan bermotor juga menimbulkan dampak yang sangat buruk terhadap lingkungan, terutama gas buang dari hasil pembakaran bahan bakar yang tidak terurai atau terbakar dengan sempurna

Kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM) mengandung timah hitam (Leaded gasoline) berperan sebagai penyumbang polusi cukup besar terhadap kualitas udara dan kesehatan. Kondisi tersebut diperparah oleh terjadinya krisis ekonomi yang melanda negara, dimana kondisi kendaraan bermotor dan angkutan sangat buruk akibat mahalnya suku cadang dan perawatan yang kurang baik sehingga proses pembakaran yang terjadi kurang sempurna.

Fenomena ini mendorong manusia untuk berusaha mencari bahan bakar alternatif sebagai pengganti bahan bakar minyak untuk mengoperasikan mesin. Salah satu jenis bahan bakar alternatif yang memungkinkan untuk menggantikan bahan bakar minyak terutama yang akan digunakan untuk kendaraan bermotor adalah bahan bakar gas.

Bahan bakar gas juga memiliki beberapa keuntungan antara lain seperti memiliki AO (angka oktan) yang lebih tinggi dibanding bensin (sekitar 120- 130 dibanding bensin yang hanya sekitar 80 untuk premium dan 94 untuk premix), hasil pembakarannya relatif lebih bersih (mengingat rantai karbon bahan bakar gas yang sangat pendek dibandingkan bensin), umur minyak pelumas juga lebih panjang, dan berbagai keuntungan lainnya.

Jenis bahan bakar gas yang sering digunakan adalah LPG (Liquifed Petroleum Gas). Senyawa yang terdapat dalam LPG adalah propana (C3H8), Propilen (C3H6), iso-butan (C4H10) dan Butilen (C4H8). LPG merupakan campuran dari hidrokarbon tersebut yang berbentuk gas pada tekanan atmosfir, namun dapat diembunkan menjadi bentuk cair pada suhu normal, dengan tekanan yang cukup besar. Walaupun digunakan sebagai gas, namun untuk kenyamanan dan kemudahannya, disimpan dan ditransport dalam bentuk cair dengan tekanan tertentu. LPG cair, jika menguap membentuk gas dengan volume sekitar 250 kali.

Jumlah persediaan minyak bumi yang mulai menipis mengakibatkan kelangkaan minyak bumi dan memberi dampak yang besar pada tiap-tiap Negara terutama Negara-negara berkembang seperti Indonesia. Kelangkaan minyak bumi secara langsung akan memiliki dampak besar pada sektor perekonomian dan transportasi. Menipisnya persediaan minyak bumi menjadi penyebab utama kelangkaan bahan bakar untuk transportasi dan industri. Hargaminyak mentah pada tahun 2000 yang berkisar $5 – $10 per barrel, kini pada tahun 2008 telah melebihi $50 per barrel. (Peak oil and the extinction of humanity, October 10,2006).

Indonesia memilki sumber gas alam yang berlimpah dan saat ini merupakan eksportir gas alam terbesar di dunia. Saat ini bahan bakar gas telah terbukti sebagai pilihan yang lebih baik di bidang transportasi. Data menunjukkan bahwa bahan bakar gas yang mulai dicoba oleh pemerintah melalui pertamina pada tahun 1987 memiliki beberapa keuntungan diantaranya lebih murah dari bahan bakar minyak, lebih ringan dari udara, usia mesin lebih lama, perawatan lebih murah dan tidak mencemari lingkungan. Tapi masalahnya adalah perkembangan bahan bakar gas di masyarakat sangatlah lambat. Hal ini disebabkan antara lain karena harga bahan bakar gas tidak kompetitif dibanding bahan bakar minyak, harga conversion kit yang masih terlalu mahal, dan pemikiran masyarakat yang cenderung untuk selalu menggunakan bahan bakar minyak. Oleh karena itu agar bahan bakar gas menjadi bahan bakar alternatif di bidang transportasi maka diperlukan kebijakan dari pemerintah yang didukung oleh masyarakat.

Pemakaian bahan bakar gas untuk motor bensin dapat dilakukan dengan menambahkan peralatan yang disebut dengan conversion kit. Namun penggunaannya masih terbatas karena adanya kendala terhadap performa dari motor, yaitu terlalu tingginya putaran pada kondisi idle dan rendahnya akselerasi jika dibandingkan dengan motor yang menggunakan bahan bakar bensin. Salah satu penyebab dari tingginya putaran idle adalah terlalu sedikitnya bahan bakar gas yang masuk ke intake manifold dan specific gravity dari bahan bakar gas (0.562 kg/m3) lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar bensin, hal ini berakibat kondisi idle dimana katup gas hanya terbuka sedikit, udara yang masuk bersama-sama dengan bahan bakar gas tidak dapat melakukan pembakaran secara sempurna. Salah satu cara untuk memecahkan permasalahannya adalah dengan memberikan suplai bahan bakar gas melalui sistim injeksi yang dikontrol secara elektronik baik pada kondisi idle maupun pada saat akselesari.

Penggantian bahan bakar minyak menjadi bahan bakar gas untuk kendaraan bermotor ternyata mengakibatkan penurunan daya motor yang dihasilkan. Dengan menambahkan peralatan tambahan berupa blower dan injeksi bahan bakar gas, maka tekanan dan kepadatan campuran bahan bakar gas dan udara yang masuk ke dalam ruang bakar bisa lebih tinggi dan daya yang dihasilkan motor bakar lebih meningkat dan bisa menyamai bahkan melebihi daya motor dari motor bakar pada waktu menggunakan bensin.

Konverter Kit

Konverter Kit atau dikenal juga dengan nama Conversion kit merupakan peralatan tambahan pada motor bakar sehingga motor tersebut dapat menggunakan bahan bakar gas. Penggunaan conversion kit didasarkan pada tiga pilihan sebagai berikut :
· Hanya bekerja dengan gas saja
· Dapat bekerja dengan gas saja atau gasoline saja (dual fuel)
· Dapat bekerja dengan dua bahan bakar bersamasama (khusus diesel mixed fuel).

Komponen-komponen perangkat konversi bahan bakar gas tersebut terdiri dari tangki penyimpan bahan bakar gas, regulator (pengatur tinggi rendahnya tekanan), mixer (pencampur udara-bahan bakar).

Pada gambar di bawah ini ditunjukkan skema sistim perangkat konversi berbahan bakar ganda (dual fuel) pada kendaraan bermotor.

Konsumsi Bahan Bakar (Fuel Consumption)

Merupakan ukuran pemakaian bahan bakar oleh suatu motor, biasanya diukur dalam satuan volume penggunaan bahan bakar per satuan waktu. Atau juga bisa didefinisikan sebagai jumlah bahan bakar yang dipakai oleh motor untuk menjalankan motor selama watu tertentu, biasanya dalam satuan liter per jam.
Besarnya Fuel Consumption (FC) dapat dihitung dengan persamaan :

FC = Volume Bahan Bakar / Waktu (dalan satuan Liter/Jam)

Bahan Bakar Gas

Bahan bakar gas adalah gas bumi yang telah dimurnikan dan aman, bersih andal, murah, dipakai sebagai bahan bakar kendaraan bermotor. Komposisi bahan bakar gas sebagian besar terdiri dari gas metana ( CH4) dan etana (C2H6) lebih kurang 90% dan selebihnya adalah gas propana (C3H8), butana (C4H10), pentana (C5H10), nitrogen dan karbon dioksida. Bahan bakar gas lebih ringan daripada udara dengan berat jenis sekitar 0,6036 dan mempunyai nilai oktan 120.

Komposisi utama dari bahan bakar gas adalah unsur metana (CH4) sebesar 95,03%; etana (C2H6) sebesar 2,23%; karbondioksida (CO2) sebesar 1,75%; Nitrogen (N2) 0.68 % dan propana (C3H8) sebesar 0,29%. Dari komposisi ini terlihat bahwa komponen utama dari bahan bakar gas adalah gas methana. Berat jenis bahan bakar gas lebih kecil dari berat jenis udara, sehingga jika terjadi kebocoran baik pada tangki penyimpan maupun saluran bahan bakar akan segera naik ke atas. Bahan bakar gas karena wujudnya berupa gas, tidak perlu diuapkan terlebih dahulu sebagaimana pada bahan bakar minyak (gasoline), sehingga emisi yang berlebihan karena terlalu kayanya campuran bahan bakar udara pada saat start dapat diperkecil.

Nilai oktan bahan bakar gas lebih tinggi dibandingkan gasoline, yaitu antara 120 sampai 130. Dengan tingginya nilai oktan tersebut maka pada rasio kompresi yang lebih tinggi tidak akan terjadi knocking pada motor. Keunggulan bahan bakar gas ditinjau dari proses pembakarannya di dalam ruang bakar adalah karena bahan bakar gas memiliki perbandingan atom karbon terhadap atom hidrogen yang rendah, sehingga pembakaran menjadi lebih sempurna. Mengingat bahan bakar gas sudah berada pada fase gas, maka dengan mudah dapat bercampur dengan udara dalam ruang bakar, sehingga oksigen dapat dengan mudah bergabung dengan karbon dan memberikan reaksi pembentukan CO2 bukan CO. Disamping itu karena jumlah atom karbon molekul bahan bakar gas lebih sedikit dibandingkan bahan bakar minyak, maka CO yang terbentuk dari proses pembakaran juga lebih sedikit.

Tinggalkan sebuah Komentar

Alat Pengiritan Bahan Bakar Baru Berbasis Gas LPG Pada Kendaraan

Gambar: Pengiritan menggunakan bahan bakar gas LPG
 
Periode peralihan bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) harus sudah dilaksanakan dari sekarang dan menjadi masalah pertama karena ketidakseriusan pemerintah dalam menyikapi hal ini. Polusi dan pemanasan global akibat penggunaan bahan bakar minyak (BBM) menjadi masalah kedua. Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) tanpa adanya alternatif bahan bakar lainnya menjadi persoalan berikutnya ditanah air kita Indonesia yang tercinta ini. Konverter kit LPG dan CNG next generation adalah jawaban dari persoalan-persoalan tersebut.
Selanjutnya,  lihat di http://konverterkit-indonesia.blogspot.com

Tinggalkan sebuah Komentar

Percepatan Pemakaian Bahan Bakar Gas (BBG) sebagai Pengganti BBM

Industri gas dunia menyatakan kesiapannya untuk menggantikan posisi bahan bakar minyak (BBM)sebagai sumber energi dalam satu dekade ini. Hal itu diungkapkan oleh para pemimpin Konferensi Gas Dunia (WGC) ke-25 di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin, 4 Juni 2012.
Menurut Presiden Perserikatan Gas Dunia Datuk Dr Abdul Rahim Hashim, cadangan gas yang masih melimpah, cukup untuk sekitar 250 tahun ke depan, memungkinkan gas menjadi sumber energi yang berkelanjutan. Selain itu, gas lebih bersih dibanding minyak bumi dan batu batu-bara. Ini beriringan dengan upaya mencegah perubahan iklim yang disumbang oleh efek gas rumah kaca dengan makin bertaburnya karbon diosida (CO2).
Jika langkah ini konsisten dilaksanakan, emisi gas buang akan berkurang hingga 16 miliar ton pada 2050. Tiga miliar ton berasal dari penggantian minyak oleh gas di sektor transportasi dan selebihnya ketika gas mensubtitusi batu-bara dan minyak di luar transportasi, contohnya industri. Ini bermanfaat langsung, menjadikan kota-kota bersih, langit yang lebih jelas, dan emisi karbon berkurang, terutama di daerah yang paling cepat berkembang seperti Asia Pasifik.
Indonesia tinggal memiliki cadangan minyak bumi sekitar sepuluh tahun ke depan. Karena itu, alternatif sumber energi lain harus disiapkan sejak sekarang dan pilihannya adalah GAS. Potensi cadangan kita diperkirakan masih cukup hingga 40 tahun mendatang.
Sebagai satu di antara negara produsen gas terbesar di dunia, Indonesia memegang peran penting dalam menentukan permintaan dan penawaran. Potensi besar ini, harus dikelola dengan baik. Apalagi, permintaan dunia terus meningkat. Pun dengan harga yang cenderung meningkat belakangan ini, dampak perbaikan ekonomi Jepang setelah terkena musibah tsunami.
Untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat tersebut, perusahaan pelat merah pemerintah  harus masuk lebih dalam ke sektor hulu, dan harus segera melakukan studi seperti yang sudah eksplorasi di Sumatera.
Dengan langkah tersebut, proses peralihan minyak bumi dan batu-bara ke gas sebagai sumber energi akan tercapai dalam satu dekade ke depan. Lebih-lebih, sejumlah blok gas dalam waktu dekat akan berproduksi. Pada 2016, gas Australia akan menyumbang ke pasar cukup besar. Potensi blok gas baru di negeri kanguru itu mencapai 70 juta ton.
Seperti yang sudah diberitakan pengadaan dan pendistribusian alat pengkonversi bahan bakar gas alias conventer kit tahun ini akan ditangani Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan menggunakan anggaran ESDM, pada tahap awal yang akan membagikan konverter kit.
Diharapkan pendistribusian alat tersebut akan segera dilakukan mulai semester kedua tahun 2012 ini (apakah ini memungkinkan ?). Seluruh kendaraan umum akan mendapatkannya secara gratis. Pada 2013, baru menggunakan anggaran Kementerian Perindustrian.
Pemerintah sedang menggalakkan program penghematan penggunaan bahan bakar minyak. Gerakan nasional ini dicetuskan setelah DPR menolak usulan pemerintah untuk menaikkan harga bensin bersubsidi, pada bulan Maret 2012 lalu. Padahal, postur anggaran negara tahun ini disusun dengan asumsi harga bensin bersubsidi dinaikkan.
Karena itu, program penghematan diluncurkan agar anggaran subsidi bahan bakar minyak tak melampaui angka yang telah ditetapkan.
Salah satu bentuk penghematan adalah dengan mengkonversi penggunaan bensin menjadi gas. Untuk itu, diperlukan alat converter yang harganya sekitar Rp 15 juta per unit. Alat ini akan dibagikan cuma-cuma kepada mobil angkutan umum.
Rencana pemakaian gas untuk menggantikan bahan bakar minyak sebagai sumber energi kendaraan akan dipercepat pada tahun 2012 ini. Percepatan ini mengacu pada pencanangan gerakan hemat energi yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu.
PT Perusahaan Gas Negara siap menjadi salah satu motornya dengan membangun infrastruktur dan memperluas jaringan pipa gas. Percepatan akan dimulai dengan membuat sambungan pipa ke stasiun pengisian bahan bakar umum. Sebagai proyek percontohan adalah Jakarta dan daerah sekitarnya. Pompa bensin yang ada akan direvitalisasi dengan menambah dispenser dan kompresor gas. Atau, jika mendapat lahan, akan dibangun stasiun bahan bakar gas yang baru. Direncanakan, tahun ini ada 33 pompa bensin yang sudah siap untuk menyalurkan pengisian gas ke kendaraan.
PGN (Perusahaan Gas Negara) membahas rencana tersebut dengan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak Bumi dan Gas yang salah satu bisnisnya mengelola pompa bensin. Dengan jaringan yang membentang dari Cilegon, Jawa Barat, ke Sukabumi, sepanjang berdekatan dengan pipa gas, SPBU itu akan rencananya akan  beri akses sambungan.
Untuk kawasan yang jauh dengan jaringan pipa, PGN akan membangun stasiun penampung atau mother board station gas. Dari tempat ini, gas didistribusikan ke pompa-pompa bensin. Langkah tersebut, untuk memangkas investasi yang mesti dikeluarkan oleh pengusaha karena cukup hanya menyediakan dispenser gas dan kompresornya.
Untuk kendaraan, industri otomotif juga sudah diajak untuk menyukseskan program ini. Sejumlah pertemuan dengan Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia telah digelar. Mereka diminta untuk memasang tabung pengalihan (converter) di kendaraan yang diproduksi. “ATPM” akan berperan banyak.
Saat ini harga gas sangat kompetitif jika dibanding Premium sekalipun. Angka yang dipatok pemerintah untuk harga gas adalah Rp 3.100 per liter setara Premium. Selain lebih murah, angka tersebut merupakan harga pasar, tak ada subsidi sehingga tidak membebani keuangan negara.
Untuk tahap awal, mobil yang wajib menggunakan gas adalah angkutan massal. Kendaraan Busway, yang baru setengahnya memakai gas, tahun ini akan diwajibkan semuanya. Setelah itu angkutan umum lainnya.
Program percepatan ini akan disukseskan dengan kendaraan dinas pemerintah daerah atau pusat serta badan usaha negara. Pasalnya, dengan gerakan hemat energi yang dicanangkan SBY, kendaraan dinas tidak lagi diperbolehkan memakai Premium, tetapi bensin setara Pertamax. Nah, harga Pertamax ini tiga kali lebih mahal dari gas, sementara Pemda dan instansi pemerintah ingin menyelamatkan sepertiga dari anggarannya untuk kebutuhan bahan bakar.

Semoga program nya berjalan dengan lancar, biar negara dan rakyat tidak pusing memikirkan BBM dan berpolemik tentang BBM terusssss … :)

Tinggalkan sebuah Komentar

Mengganti Bahan Bakar Bensin ke LPG untuk Motor

Klik untuk Download Ebook
Ada beberapa alasan untuk mengkonversi Sepeda Motor Kita dari Bensin ke LPG:
  • Sekarang harga LPG lebih murah, dengan terus naiknya harga bbm, konversi ke LPG jadi lebih masuk akal
  • Seiring dengan konversi Minyak Tanah ke LPG, sekarang lebih mudah untuk mendapatkan LPG, terutama untuk ukuran 3 Kg.
  • Menggunakan LPG lebih baik untuk lingkungan, gas emisi yang keluar dari knalpot mengandung sedikit pulutan. LPG menghasilkan emisi gas Nitrogen Oksida dan CO2 lebih sedikit.
  • LPG merupakan bahan bakar yang lebih baik untuk mesin – mesin akan bertahan lebih lama. LPG mengurangi keausan mesin, karena mengandung sedikit karbon.
  • Tidak ada perbedaan yang nyata dalam hal kinerja dan kekuatan (performance)
  • Kualitas oli akan bertahan lebih lama, pemakaian 6000 km oli tampak masih seperti baru
Sebuah konversi LPG yang baik dengan menggunakan komponen berkualitas, terpasang dengan benar dan sesuai, harusnya membuat kinerja mesin sepeda motor kita sama seperti ketika menggunakan bensin. Memang harus ada sedikit kerugian daya (LPG adalah 15% kurang kuat bila dibandingkan bensin) tapi ini hanya jelas pada bagian tertinggi (top end) dari putaran mesin (red line). Ketika mengendarai Sepeda Motor konversi dengan mesin yang lebih besar sangat sulit untuk menemukan perbedaan dalam kinerja. Kendaraan dengan mesin yang lebih kecil mungkin menunjukkan penurunan kekuatan lebih jelas. Bukan masalah besar untuk kita, karena kita jarang menjalankan mesin sampai ‘red line’ saat di jalanan, terutama diperkotaan.
Konverter (Kit) Sepeda Motor LPG
Memahami Dasar Pembuatan Alat Konversi Bensin ke LPG untuk Sepeda Motor dengan Prinsip dasar konversinya SEDERHANA:
Lepaskan tutup dan pelampung bensin pada karburator, kemudian masukkan selang gas dari Regulator pada tabung LPG ke bagian spuyer utama (main jet) dan spuyer idle (pilot jet). Terakhir lakukan sedikit ‘setting’ pada Regulator dan spuyer.
Sebuah alat yang digunakan untuk melakukan perubahan sehingga bisa memanfaatkan bahan bakar yang berbeda dikenal sebagai ALAT KONVERSI (Converter) yang terdiri dari penggantian lubang gas/bahan bakar (main jet dan pilot jet) dan sebuah alat regulator. Alat kelengkapan pemanfaatan gas dirancang untuk bekerja dengan gas tertentu yang memiliki tekanan tertentu. Dengan alat konversi ini tekanan gas diatur sesuai dengan tekanan dan jumlah (flow) yang dibutuhkan untuk mejalankan mesin sepeda motor.
Peralatan Apa yang Diperlukan untuk Membuat Konverter Sepeda Motor LPG?
Secara umum peralatan yang kita perlukan untuk membuat Konverter Sepeda Motor LPG adalah:
  • Tabung Gas LPG 3 Kg – tempat gas LPG yang akan digunakan.
  • Regulator LPG – digunakan untuk menurunkan tekanan gas sampai dengan tekanan yang kita perlukan dan menghasilkan tekanan gas yang stabil (tidak berubah-ubah).
  • Skep dan Spuyer/Nozzle (main jet dan pilot jet) – sebagai alat tempat keluarnya gas LPG untuk dicampurkan dengan udara.
  • Mixer (Karburator) – Ruang atau tempat dimana udara dan gas dicampurkan dengan perbandingan tertentu.
  • Memajukan waktu pengapian (ignition timing)
Konversi dari bahan bakar minyak (bbm) ke bahan bakar gas (bbg) tidak hanya mengganti besarnya lubang (Main jet dan pilot jet), tetapi juga penyesuaian dan perubahan alat regulator. Peralatan Konversi ini sederhana dan mudah, tapi perlu sedikit penyesuaian karena mengingat sifat gas (LPG) berbeda dengan Bensin (bbm).
Topik konversi pada Sepeda Motor LPG mempunyai beberapa isu masalah diantaranya:
Tabung gas - Masalah tabung gas meliputi ukuran dan bentuk tabung gas serta cara pengisian ulang gas, ukuran tabung meliputi kapasitan gas yang bisa ditampung, bentuk tabung gas menyangkut menyimpanan tabung gas itu sendiri di sepeda motor kita.
Regulator - Diperlukan tekanan gas tertentu agar gas ini bisa digunakan untuk Sepeda Motor kita. Salah jenis regulator gas akan memberikan tekanan terlalu tinggi atau terlalu rendah untuk penggunaan konversi bbg ini. Tekanan yang tidak sesuai menyebabkan kendaraan kita tidak dapat hidup/nyala. Regulator dari jenis apa pun harus diubah atau disesuikan sehingga bisa menghasilkan tekanan yang diperlukan.
Spuyer/Nozzle – besarnya lubang yang tidak sesuai pada fungsi ‘injeksi’ bersamaan dengan tekanan pengiriman gas yang diberikan oleh regulator, dapat menyebabkan pembakaran tidak sempurna jika tidak benar ukurannya.
Mixer/Pencampur – udara dan gas dicampur pada tempat ini sebelum memasuki ruang bakar/mesin dan digunakan untuk mengatur kondisi campuran antara udara dan gas. Dengan berbagai jenis posisi pengatur udara primer, mekanisme pencampuran udara dan gas ini harus dapat menghasilkan perbandingan udara dan gas yang benar sehingga menghasilkan pembakaran yang sempurna.
Oktan LPG – LPG mempunyai oktan yang cukup tinggi yaitu: RON 112 dan MON 97. Oktan sebesar ini akan lebih efisien digunakan pada motor bakar dengan kompresi di atas 9,5 : 1, sedangkan kebanyakan sepeda motor yang dijual di Indonesia kebanyakan kompresinya dibawah itu, karena memang diperuntukkan untuk penggunaan bahan bakar bensin. Cara untuk meng-efisien-kannya adalah dengan memajukan waktu pengapian (time ignition), atau menaikkan kompresi.
Energi Bensin VS Energi LPG – Kandungan energi per unit bahan bakar (kepadatan energi) merupakan faktor penting yang mempengaruhi keluaran jangkauan dan kekuatan mesin hasil pembakaran internal. Dibandingkan dengan bensin kandungan energi LPG adalah 74%. Energi bensin adalah 31.825 KJ/L, sedangkan energi LPG adalah 25.525 KJ/L. Kita akan merasakan sedikit penurunan performance pada saat menjalankan sepeda motor LPG terutama di-rpm tinggi (red line).
Sumber (Silahkan Download) : MOTOR BAHAN BAKAR 3KG GAS LPG mampu menempuh jarak 213 km, makalah teknik otomotif karya Didin Prihadi dari Bandung

Comments (1)

Saatnya Mobil BBG Diseriusi

JAKARTA – Surabayapost Online – Makin menipisnya bahan bakar minyak di dunia ditambah dengan tingginya harga minyak mentah dunia membuat bahan bakar minyak (BBM) menjadi barang yang mewah. Harganya akan sulit dijangkau rakyat banyak. Dalam situasi seperti ini bahan bakar gas merupakan sebuah alternatif yang masuk akal. Pertamina pun meminta masyarakat dan pabrikan mobil menseriusi bahan bakar gas (BBG).
Di dunia, mobil penumpang pribadi yang menggunakan bahan bakar gas atau juga dikenal dengan compressed natural gas (CNG) yang di Indonesia lebih akrab disebut BBG, diperkirakan pasarnya terus naik. Menurut Pike Reasearch, perusahaan peneliti global, pasar mobil BBG di dunia meningkat dari 1,9 juta unit per tahun (2011) menjadi 3,2 juta unit pada 2016.
Karena itu, Pertamina mendorong pabrikan mobil untuk menyediakan pilihan bahan bakar gas pada setiap tipe yang dijualnya. Pertamina berharap gas akan menjadi salah satu pilihan disamping tipe mobil berbahan bakar bensin dan diesel.
Hal tersebut diungkapkan oleh Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) M. Harun di sela-sela Indonesia International Motor Show (IIMS) di Kemayoran, Jakarta, Sabtu (23/7).
“Kita punya gas yang bilangan oktannya bisa mencapai 98 (sebagai perbandingan Premium ber-oktan 88, Pertamax ber-oktan 92, Red.). Gas bisa lebih efisien dibanding bensin karena pembakarannya sempurna, harganya juga jauh lebih murah,” ujarnya.
“Tapi untuk mengembangkan pasarnya, kami tidak bisa sendiri. Masyarakat juga harus mendukung. Kami juga meminta teman-teman di Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) untuk menyediakan pilihan bahan bakar gas pada setiap model yang dijualnya,” urainya lagi.
Kemampuan Pertamina dalam menyediakan bahan bakar gas yang berkualitas menurut Harun sudah terbukti. Sebab, salah satu operator taksi yang menggunakan mobil mewah Toyota Alphard juga sudah berani mengkonversi mobilnya yang sebelumnya mengkonsumsi bensin ke gas.
Saat ini, Pertamina baru memiliki 8 SPBU yang menyediakan bahan bakar gas bernama Vigas yang dijual hanya dengan harga Rp 3.600 per liter. Itu pun baru ada di seputaran Jakarta.
“Itu dia. Kami berharap dengan semakin pahamnya masyarakat terhadap keunggulan gas ini kami jadi bisa memperluas cakupannya,” pungkas Harun.
Melanjutkan hasil penelitian Pike Reasearch, lonjakkan pasar mobil BBG terjadi seiring bertambahnya infrastruktur stasiun BBG di dunia dari 18.000 (2010) menjadi 26.000 tempat pada 2016. Berarti, pemilik kendaraan BBG makin mudah mendapatkannya. Selama ini, faktor utama yang masih menghambat perkembangan mobil BBG adalah stasiun pengisian yang masih langka.
Salah satu produsen yang mau menggarap BBG adalah Honda. Civic terbaru Gen-9 yang baru saja diperkenalkan, nantinya juga disediakan versi BBG. Dikabarkan Honda akan memasarkannya di 50 negara bagian di seluruh AS mulai akhir tahun ini. Sayang mobil jenis ii belum masuk ke Indonesia.
Masih menurut Pike Reasearch , kelebihan BBG, harganya lebih murah. Biaya operasional mobil yang menggunakan ekonomis. Di samping itu, kabondioksida yang dihasilkan tetap lebih rendah dibandingkan mobil berbahan bakar bensin, kendati masih mengeluarkan emisi.
Sementara, Indonesia merupakan penghasil gas terbesar di dunia, belum bisa memanfaatkannya dengan baik. Kendati program BBG sudah diluncurkan sejak 1980-an, namun sampai sekarang, khusus untuk kendaraan penumpang pribadi tidak jalan. Dulu hanya untuk taksi dan angkutan umum, seperti mikrolet. Sekarang BBG hanya digunakan oleh Transjakarta.
Pada kesempatan terpisah Presdir PT Hyundai Indonesia Jongkie D. Sugiarto, menyatakan, setidaknya ada 2 syarat agar program alih ke BBG ini berlangsung dengan sukses.
Pertama, program ini harus didukung oleh pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas yang memadai. “Hyundai adalah ATPM pertama yang memiliki izin memasang conversion Kit untuk BBG di pabrikan kami. Program ini akan sukses kalau pemerintah atau swasta membangun SPBG terlebih dahulu dimana-mana,” ujar Jongkie.
Syarat yang kedua adalah harga bahan bakar Premium dan Solar bila dibandingkan dengan harga BBG harus 40 persen lebih mahal.
Dengan sendirinya konsumen juga akan beralih ke BBG, karena akan terjadi efisiensi dalam biaya operasi mobil pribadi atau kendaraan umum dan mobil yang berplat kuning. “Sebab harga Convension Kit masih berkisar Rp 15 juta tergantung kualitas dan besarnya tangki gas,” pungkasnya.

Tinggalkan sebuah Komentar

Mobil Berbahan Bakar Gas LPG

Mobil dengan bahan bakar bensin atau solar sudah biasa. Tapi bagaimana kalau mobil berbahan bakar bensin plus gas elpiji atau cuma elpiji? Kendaraan ini dapat dijumpai di Kendal, Jawa Tengah. Alwan Kusnihadi, pemilik bengkel dinamo mobil berhasil mengubah kendaraan Toyota Kijang hingga mampu mengonsumsi tiga bahan bakar sekaligus, bensin, elpiji, atau campuran keduanya.
Campuran antara bensin dan gas elpiji diyakini bisa lebih irit. Warga Desa Kutoharjo, Kendal, Jawa Tengah memasang tabung tiga kilogram di bawah kap mesin mobilnya. pemasangan tabung gas ukuran tiga kilogram itu dilakukan untuk menghemat bahan bakar pada mobil miliknya.
Menurut pria lulusan STM itu, ide memodifikasi mobilnya menggunakan gas elpiji muncul sekitar tiga tahun silam. Yaitu saat harga bahan bakar minyak atau BBM melonjak tinggi.
Sementara harga elpiji tiga kilogram masih Rp 3 ribu. Setelah melakukan beberapa modifikasi di beberapa bagian mesinnya, kini Toyota Kijang lansiran 1990 bisa berjalan menggunakan tiga pilihan bahan bakar yang berbeda-beda.
Menurut Alwan, yang paling irit adalah campuran antara satu liter bensin dan satu kilogram gas elpiji. Hasilnya bisa menempuh jarak hingga 25 kilometer. Sedangkan kalau menggunakan gas elpiji atau bensin, jarak yang ditempuh seperti mobil pada umumnya yaitu sekitar delapan kilometer setiap liter.
Bagian mobil yang paling banyak mengalami ubahan yaitu pada bagian karburator. Pasalnya fungsi asli karburator pada mobil cuma untuk mengkabutkan bensin. Dengan modifikasi yang dilakukan pada karburator, kini karburator bisa mengkabutkan gas elpiji dan juga campuran antara gas elpiji dan bensin.
Beberapa alat maupun barang tambahan yang digunakan untuk mengubah konsumsi bahan bakarnya yaitu tabung gas elpiji ukuran tiga kilogram. Selang gas elpiji, regulator gas elpiji, lima buah solenoide valve, vakum dan panel-panel yang dipasang di dashboard untuk mengatur konsumsi bahan bakar yang diinginkan.
Solenoide valve itu berfungsi seperti klep yang bertugas mengatur banyak sedikitnya gas elpiji dan bensin yang dikeluarkan. Alwan mengaku sudah menghabiskan empat buah karburator selama risetnya itu. Ia telah merogoh kocek untuk memodifikasi sekitar Rp 2 juta. Hampir semua alat tambahan untuk modifikasi mobilnya itu diperoleh dari penjual barang bekas sehingga murah.
Lalu untuk bagian regulator, dia mengaku menggunakan regulator tabung gas pada umumnya. Hanya saja Alwan mengganti per aslinya dengan per kopling vespa. Sementara tutup aslinya dari plastik, diganti dengan logam yang dipesan pada tukang bubut. Delko juga disetel ulang untuk menyesuaikan konsumsinya.
Alwan mengatakan sudah memodifikasi mobil sejenis di daerah Pasuruan, Yogyakarta, dan Boyolali. Selama pengujian itu, dia mengaku tak mendapatkann kendala. Menurut dia, menggunakan bahan bakar elpiji justru lebih aman daripada bensin karena gas elpiji lebih mudah hilang terbawa angin saat terjadi kebocoran. Sementara bensin akan mengendap terlebih dahulu.

Tinggalkan sebuah Komentar

Hemat dan Bersih dengan Bahan Bakar Gas

Barangkali ini bukti pemerintah tak pernah benar-benar serius mengembangkan bahan bakar gas sebagai energi alternatif. Begitu banyak imbauan dikeluarkan, tetapi tidak banyak kebijakan konkret yang dikeluarkan untuk memacu pemakaian BBG untuk kendaraan bermotor.

Sebenarnya Pertamina telah mengembangkan penggunaan compressed natural gas (CNG) untuk kendaraan sejak tahun 1986. Awalnya, ada dukungan kebijakan yang menetapkan 20 persen dari armada taksi harus memakai CNG. Pertamina juga membuka 14 stasiun pengisian BBG (SPBG) di Jakarta.
Selain di Jakarta, Pertamina juga sempat membuka satu SPBD di Cikampek, dua SPBG di Cirebon, dua di Medan, dua di Palembang, dan empat SPBG di Surabaya. Pertamina juga menunjuk tiga perusahaan pemasang converter kit sekaligus bengkel BBG di Jakarta, serta satu di Surabaya.
Sayangnya setelah 20 tahun berjalan, pengguna bahan bakar gas tidak berkembang. Tidak ada upaya sistematis dari pemerintah untuk memopulerkan pemakaian BBG. Bahkan, angkutan umum maupun armada taksi yang memakai BBG malah terus berkurang. Bahkan, dari 17 SPBG yang dulu dibangun di Jakarta, kini tinggal 6 yang beroperasi.
PT Gas Biru milik perusahaan taksi BlueBird, misalnya, kini tidak lagi beroperasi, tidak lagi memasang converter kit, dan menutup SPBG miliknya di Mampang, Jakarta Selatan, karena merugi.
Memang kini pemerintah provinsi DKI Jakarta mulai memasyarakatkan BBG lagi, setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan pemakaian BBG Mei lalu. Ini dimulai dengan penggunaan BBG untuk bus transjakarta, yang didukung penunjukan PT Petross Gass sebagai distributor tunggal pemasang converter kit sekaligus pemilik SPBG untuk bus transjakarta, dan untuk umum.
Ada harapan pemakaian BBG dipopulerkan lagi, bukan hanya untuk bus dan taksi, tetapi juga kendaraan pribadi. Namun, sejauh ini, pemerintah lagi-lagi belum menunjukkan keseriusan. Pemerintah tak pernah menunjukkan komitmen dengan memakai BBG untuk kendaraan dinas atau kendaraan operasionalnya.
Perlu sosialisasi
Keengganan orang untuk memakai BBG tampaknya lebih pada kurangnya informasi tentang bahan bakar yang hemat, bersih, dan ramah lingkungan itu. Padahal, seperti dikatakan Hardi Pramono, teknisi senior Lemigas (Lembaga Minyak dan Gas Bumi) efisiensi atau penghematan dari pemakaian BBG, jauh di atas bahan bakar bensin maupun solar.
Untuk mereka yang berdomisili di sekitar Jakarta, pemakaian BBG, sebenarnya menarik dipilih. “Dibanding bensin atau solar, BBG lebih irit 15-20 persen karena pembakarannya lebih sempurna. Selain itu, harga BBG per liter yang setara dengan premium hanya Rp 3.000 atau 35 persen lebih murah dibanding bensin premium,” ujar Herman, sopir taksi yang sudah sejak tahun 1993 memakai BBG.
Saya sendiri yang selama satu tahun terakhir menggunakan BBG pada kendaraan dinas saya, Nissan Terano keluaran 1998, merasakan penghematan signifikan, dibandingkan dengan memakai bensin premium, apalagi pertamax. Jika penghematan dikonversi dalam rupiah, kendaraan SUV yang menyandang mesin berkapasitas 2.4 Liter itu menjadi sama iritnya dengan sebuah city car (mobil kota).
Mahalnya harga converter kit—yang saat dibeli di PT Gas Biru tahun 2005 masih Rp 7.200.000—praktis sudah kembali dalam bentuk penghematan selama pemakaian 8 bulan pertama BBG.
Keuntungan lain adalah suhu mesin relatif lebih dingin sehingga memperpanjang umur mesin. Karburator bersih, dinding dan kepala piston juga bersih dari kotoran dan kerak, akibat pembakaran sempurna.
Ditanya soal bahaya pemakaian BBG, Eko, teknisi dari PT Gas Biru, mengatakan, “Apa bedanya dengan pemakaian elpiji di rumah-rumah. Banyak orang yang takut memakai BBG untuk mobilnya, tetapi tak keberatan naik taksi yang memakai BBG.”
Pilih yang irit
Sebenarnya, ada dua jenis bahan bakar gas yang populer digunakan, yaitu liquid petroleum gas (LPG, atau biasa diakronimkan dengan sebutan elpiji) dan compressed natural gas (CNG). Sesungguhnya LPG lebih mudah ditransportasikan dari CNG. Namun, karena harganya jauh lebih mahal ketimbang CNG, maka CNG-lah yang dipilih.
Namun, berbeda dengan LPG, CNG tidak dapat ditransportasikan. Penyaluran CNG ke rumah-rumah penduduk dan ke SPBG dilakukan melalui pipa.
Dari segi risiko kebakaran, CNG lebih aman dibanding LPG. Sebaliknya, CNG membutuhkan tabung bertekanan tinggi untuk menyimpannya. Itu sebabnya, untuk tabung silinder berkapasitas 17 liter, misalnya, berat kosongnya saja sekitar 75 kilogram. Setelah diisi, dengan tekanan 200 bar atau 2.900 psi atau 197 kali lipat tekanan udara biasa, beratnya hampir 100 kilogram. Inilah sebagai risiko CNG. Tabung yang tidak memenuhi standar punya risiko meledak.
Keunggulan CNG adalah harganya yang jauh lebih murah, yaitu Rp 3.000 per LSP (liter setara premium), sedangkan LPG di atas Rp 4.000 per kilogram.
“Lemigas sekarang sedang melakukan uji coba elpiji untuk kendaraan. Kami juga melakukan modifikasi converter kit CNG untuk dipakai ke elpiji. Hasilnya baik. Akan tetapi, dari segi finansial, pemakaian elpiji kurang efisien karena harganya hampir sama dengan bensin,” ujar Hardi Pramono.
Hindari risiko
Untuk memperkecil risiko pemakaian BBG, sebenarnya tak banyak yang harus dilakukan. Hal penting yang harus dilakukan justru tak berkaitan langsung dengan BBG, yaitu membersihkan filter udara. BBG mensyaratkan filter udara yang benar-benar bersih.
Adapun untuk peranti BBG, kecuali mengecek saluran pengisian, pencampur udara dan gas, serta kerangan otomatis di kompartemen mesin setiap 6 bulan, praktis tidak ada perawatan lain yang dituntut. Adapun untuk tabung BBG yang diletakkan di bagasi, Lemigas menetapkan pengecekan atau tera tiga tahun sekali.
Untuk menyiasati kehabisan BBG di perjalanan, semua fungsi bahan bakar bensin sebaiknya tetap dipakai. Untuk kembali ke bensin, pengemudi cukup menekan tombol seleksi di dashboard. Cara ini perlu dipilih, mengingat terbatasnya SPBG.
Dibanding pengisian bensin, memang untuk mengisi BBG butuh waktu yang relatif lebih lama. Untuk mengisi tabung kapasitas 17 liter, dibutuhkan waktu sekitar 3 menit. Bandingkan dengan pengisian bensin yang mungkin cuma butuh waktu setengah menit untuk 17 liter. Ini lah yang menyebabkan antrean panjang adalah pemandangan yang biasa terlihat di beberapa SPBG di Jakarta.
Memang saat digunakan, mesin yang memakai BBG tidak seresponsif mesin bensin. Tarikan kurang spontan, meski kecepatan atau tenaga maksimal tetap bisa didapat. Karena tarikan yang tidak spontan itulah, BBG menjadi kurang cocok untuk pengemudi yang gemar ngebut. Namun, untuk lalu lintas di Jakarta yang padat, di mana pula orang bisa ngebut?
Untuk memasang converter kit, biayanya masih relatif mahal. PT Petross Gas sebagai distributor tunggal converter kit yang keagenannya dipegang PT Hyundai Indonesia Motor mematok biaya Rp 11 juta-Rp 15 juta untuk pemasangan converter kit, termasuk tabung BBG. Beda harga ditentukan besar kecilnya mesin dan sistem pembakarannya. Sistem karburator lebih murah dibanding injeksi. “Tapi jika dikalkulasi, biaya itu akan kembali dalam setahun dalam bentuk penghematan biaya bahan bakar,” ujar Jongkie Sugiarto, Presdir PT Hyundai Indonesia Motor.
Converter kit yang ditawarkan adalah regulator produk Italia bermerek Landi Renzo dengan tangki baja merek Faber. Converter kit itu sama seperti yang ditawarkan tiga perusahaan, yang 10 tahun lalu ditunjuk sebagai pemasang resmi converter kit, yaitu PT Gas Biru, PT Supergasindo, dan PT Sugiron Citra Teknologi.
Kini, dengan hanya satu perusahaan penyalur converter kit, memang tak ada persaingan harga dan variasi produk. Juga tidak ada alternatif converter lain seperti produk India, Finlandia atau Kanada, misalnya. “Kalau pemerintah menunjuk beberapa perusahaan untuk secara resmi boleh menjual converter kit, mungkin akan ada persaingan sehingga harganya bisa lebih realistis. Sebab di luar negeri, ada beberapa pilihan converter kit yang lebih murah,” ujar Eko, teknisi BBG yang sebelumnya bekerja di PT Gas Biru.
Selain tabung baja BBG, ada juga tabung aluminium, yang lebih ringan, sekitar 30 kilogram, dan berdaya tampung jauh hingga 30 LSP.
“Yang aluminium harganya tiga kali lipat lebih mahal. Memang lebih enteng dan kapasitasnya besar. Namun, daya tahan aluminium terhadap panas lebih rendah dibanding baja,” ujar Yono, mantan teknisi PT Gas Biru yang kini menjadi teknisi lepas untuk converter kit.
Hardi Pramono dari Lemigas menyatakan, pengujian tabung adalah hal yang mutlak harus dilakukan pengguna BBG. “Kami ketat dalam menguji tabung. Jika tidak layak kami tidak mau kompromi dan kami akan meminta tabung agar tidak dipakai lagi. Ini menyangkut keselamatan,” ujar Hardi. “Kalau secara rutin tabung dan converter kita diperiksakan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. BBG adalah alternatif menarik untuk efisiensi,” tambahnya.
Kuncinya ada di tangan pemerintah. Bukan hanya sosialisasi pemakaian BBG yang dibutuhkan, tapi juga dukungan fasilitas dan regulasi tentang penggunaan dan pengawasan. Kalau saja pemerintah punya komitmen dan program yang jelas—tidak sekadar mengajak atau mengimbau—setidaknya kita tak perlu lelah berdebat setiap ada kenaikan harga bensin atau solar. 
Berapa Jarak Tempuh Bahan Bakar Gas?

Beberapa kalangan menganggap bahan bakar gas (BBG) itu bisa lebih boros bila dibandingkan dengan kendaraan yang mengkonsumsi bahan bakar minyak(BBM).

Namun hal tersebut pun dibantah Aji Dwi Wibowo, teknisi PT Autogas Indonesia sebagai pemasok konverter kit LGV (Vigas) dan CNG (Elpiji).

“Menggunakan bahan bakar gas itu sama saja bila kita menggunakan bahan bakar minyak seperti biasa. Apabila kendaraan yang menggunaan bahan bakar minyak itu 1:10, makakendaraan yang menggunakan bahan bakar gas juga akan sama 1:10,” ujarnya ketika dihubungi detikOto.

Namun Aji juga tidak mempungkiri kalau bahan bakar minyak itu lebih padat mengisi tangki bila dibandingkan gas.

“Iya seandainya ada perbedaan itu pun tidak akan jauh. Paling melesetnya sangat sedikit, apabila kendaraan bahan bakar minyak itu 1 : 10, maka kami akan mengkonumsi sebesar 1:9,” ungkap Aji.

Akselerasi lebih bagus

Poin plus lain dari BBG adalah bahwa kendaraan memiliki akselerasi sama baiknya dengan kendaraan yang menggunakan bahan bakar gas.

“Karena kami mensetting pada kontrol limitnya sama seperti bahan bakar bensin. Hal ini pun bertujuan apabila kendaraan tersebut bahan bakar gasnya habis maka perpindahan kebahan bakar minyaknya tidak akan terasa seperti berpindah,” ungkap Aji.

Penggunaan gas sebagai energi alternatif selain Bahan Bakar Minyak (BBM) belum ditunjang infrastruktur yang memadai. Salah satunya jumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang sedikit, hanya sekitar 10 stasiun di Jakarta. 
Kalau 80 juta kaki kubik dialirkan untuk mengisi 600 lebih depo gas, pemberlakuan kuota BBM tidak menjadi masalah.
“Dengan 70 persen sumber energi ada di luar Pulau Jawa, sedangkan 70 persen pemakai ada di Pulau Jawa, maka harus ada alternatif (BBM), yaitu gas,” tutur Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Andhika Anindyaguna, di Jakarta, Kamis (24/2/2011).
Ia bicara saat diskusi dampak kebijakan pembatasan subsidi BBM terhadap kelangsungan UKM di Sekretariat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta, Jl Majapahit, Jakarta Pusat.
Menurut dia, infrastruktur gas tidak tumbuh, sehingga jika ada pembatasan BBM seperti yang akan diberlakukan, infrastruktur gas menjadi penting diperhatikan, khususnya di Jakarta.
“Masalahnya, infrastruktur gas, peralatan konverter disediakan gratis, tapi SPBG jarang,” kata Andhika. Jika melihat data subsidi energi dalam RAPBN 2011 sebesar Rp 133,8 trilun, menurut Andhika, 10 persen atau sekitar RP 13 triliun cukup untuk membangun sekitar 650 SPBG. Biaya per SPBG itu sekitar Rp 20-30 miliar.
Adapun suplai gas bisa mengambil 5-10 persen dari 825 juta kaki kubik yang dialirkan PGN tiap hari. “Kalau 80 juta kaki kubik dialirkan untuk mengisi 600 lebih depo gas, pemberlakuan kuota BBM tidak menjadi masalah,” tambahnya. “Jika pemerintah siap Go Gas, maka industri otomotif dapat menyesuaikan lima tahun ke depan. Ini akan berkoordinasi dengan menteri transportasi, pengusaha transportasi dan lainnya.”
Kemungkinan Penyimpangan Dari Pembatasan Subsidi Kebijakan pembatasan subsidi dapat menyebabkan penyimpangan. Sugiyono, peneliti Indef mengemukakan, kemungkinan angkutan umum yang tadinya tidak aktif menjadi aktif, atau mereka bisa jadi pengecer.
“Ini dapat terjadi karena kita belum mendapat polanya (teknis) dari pemerintah seperti apa,” jelasnya. Sedangkan Ketua IWAPI, Rini Fahmi Idris, berpendapat, pembatasan subsidi BBM juga memungkinkan masyarakat akan membeli BBM produk asing, seperti Shell atau Petronas, yang selisih harganya tipis tapi kualitasnya lebih baik.

Tinggalkan sebuah Komentar

Membantu Program Pembatasan BBM Dengan Pengunaan Bahan Bakar Gas

Program pemerintah untuk membebaskan Indonesia dari subsidi BBM pada tahun 2015 terlihat semakin pesimistis. Hal ini diakibatkan ketidakseriusan pemerintah dalam menjalankan programnya yang dimulai dari kebijakan yang tidak konsisten hingga pelaksanaan yang ragu dan tidak siap.
Betul adanya dalam membebaskan Indonesia dari subsidi BBM pada tahun 2015 harus dilakukan program dengan memberikan kepada rakyat energi altenatif selain premium yang disubsidi. Tanpa energi alternatif maka program bebas subsidi tersebut akan sia-sia dan tidak akan berjalan. Energi alternatif tersebut adalah penggunaan BBG pada kendaraan bermotor untuk menggantikan bahan bakar minyak (BBM) yang subsidinya hampir mencapai 200 triliun. Kurang lebih 67 % dari pendapatan pertamina sebesar 300 triliun terbuang begitu saja akibat subsidi tersebut. Hanya beberapa negara di Asia termasuk Indonesia dan beberapa negara di timur tengah saja diberlakukan subsidi bahan bakar minyak.
Selain itu penggunaan bahan bakar gas (BBG) mau tidak mau harus diprogramkan dan dilaksanakan oleh pemerintah mengingat persediaan minyak dunia semakin menipis dan diperkirakan 25 tahun lagi akan habis, sementara persediaan gas dunia masih diperkirakan 50 sampai 80 tahun lagi. 10 tahun yang lalu negara-negara maju dan bahkan beberapa negara di asia sudah menjalankan program energi alternatif BBG untuk kendaran bermotornya. Bahkan negara maju seperti negara jerman sebagai tahapan berikutnya telah melakukan riset besar-besaran untuk menggantikan bahan bakar minyak atau gas dengan menggunakan tenaga listrik.
Tanpa harus melihat program pemerintah mengenai pembebasan subsidi BBM pada tahun 2015, program penggunaan bahan bakar gas (BBG) atau konversi BBG oleh pemerintah harus serius dijalankan jika pemerintah dan negara tidak mau terjerat oleh krisis energi masa depan. Belum lagi harga bahan bakar minyak ditentukan oleh kondisi negara-negara penghasil minyak dunia yang sedang bergejolak secara politis dan ekonomis, seperti negara iran yang merupakan penghasil minyak nomor 4 terbesar didunia yang sedang diembargo oleh banyak negara.
Saat ini sebenarnya ada dua kendala yang dihadapi pemerintah dalam menjalankan program konversi bahan bakar gas yaitu kendala infrastruktur yang belum siap (sering disebut-sebut oleh pemerintah atau pakar energi) dan kendala konverter kit itu sendiri yang harus dipasang pada kendaraan bermotor.
Kendala infrastruktur sebenarnya dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah mengenai penggunaan bahan bakar gas itu sendiri pada kendaraan seperti penggunaan bahan bakar CNG (Compressed Natural Gas) atau LGV (Liquid Gas Vehicle). Hanya saja ada perbedaan dari kedua penggunaan bahan bakar gas tersebut. CNG adalah gas alam berupa methan (CH4) sedangkan LGV adalah campuran gas hidrokarbon (C3-C4) yang mana penyusun utamanya adalah propana dan butana. Dikarenakan susunan kimia kedua gas tersebut maka khusus untuk CNG atau methan (CH4, yang hanya memiliki 1 karbon) diperlukan tekanan (pressure) yang tinggi untuk memasukkan gas kedalam tangki hingga gas tersebut menjadi cair (kurang lebih 200 bar atau 2800 psi). Dikarenakan jumlah susunan karbon yang banyak maka untuk LGV diperlukan tekanan rendah untuk memasukkan gas kedalam tabung hingga cair.
Jadi untuk membangun stasiun pengisian bahan bakar gas CNG diperlukan teknologi instalasi pipa untuk menghindari dampak bahaya tekanan dalam distribusi bahan bakar gas ke stasiun pengisian BBG. Sedangkan untuk LGV tidak diperlukan teknologi pipa dan dapat dilakukan dengan distribusi tangki pada stasiun pengisian BBG. Hal inilah yang dikatakan oleh pemerintah dan pakar energi Indonesia sebagai kendala infrastruktur atau infrastruktur yang belum siap karena kebijakan pemerintah menetapkan gas CNG untuk kendaraan angkutan umum dan LGV untuk kendaraan pribadi.
Bahkan pemerintah mengusulkan anggaran sebesar Rp. 960 miliar sebagai dana penunjang pembangunan infrastruktur tersebut yang mungkin dapat terlaksana dalam waktu 2 tahun hingga rampung. Jadi keinginan pemerintah untuk melaksanakan konversi bahan bakar gas pada bulan April ini untuk tahap awal di Jabodetabek tidaklah mungkin terjadi. Kesiapan Infrastrukur konversi BBG, diperluas kekawasan Jawa – Bali dan akhirnya program Indonesia bebas subsidi pada tahun 2015 tidaklah akan terwujud.
Sebenarnya kendala utama terletak pada konverter kit yang harus dipasang pada kendaraan bermotor. Selain harganya mahal sebenarnya kendala utama lainnya adalah kesiapan tenaga ah li dalam pemasangan konverter itu sendiri. Hal ini dikarena teknologi otomotif yang sangat bervariasi dan berbeda satu sama lain. Kendala ini berupa kendala mikro sedangkan kendala infrastruktur merupakan kendala makro. Seharusnya kendala mikro menjadi perhatian utama pemerintah setelah kendala makro. Tidak bisa kendala mikro diselesaikan oleh alih teknologi dari negara lain dengan hanya membeli konverter kit misalnya konverter kit dari negara itali karena hal ini menyangkut kebijakan pemerintah yang saling berkaitan. Seharusnya kendala mikro harus diselesaikan oleh anak bangsa yang sarat teknologi sehingga kendala mikro diatasi dengan ahli teknologi bukan alih teknologi.
Dengan memperhatikan kendala mikro dan penguasaan teknologi mikro maka sebenarnya sudah ada konverter kit kreasi anak bangsa yang disesuaikan dengan kebijakan pemerintah. Konverter kit ini lahir setahun yang lalu untuk membantu rakyat dalam mengatasi antrian kendaraan di SPBU luar pulau Jawa akibat kelangkaan BBM.
Gambar : kelangkaan BBM diluar pulau Jawa
Konverter kit kreasi anak bangsa dikembangkan dengan menggunakan bahan bakar gas LPG (Liquid Petroleum Gas) yang merupakan turunan dari LGV (Liquid Gas Vehicle). Gas ini berlainan dengan gas LGV yang akan dipergunakan oleh pemerintah distasiun pengisian bahan bakar gas (SPBU). Jenis gas LGV yang akan diterapkan oleh pemerintah adalah Vigas (Vehicle Gas). LPG dan Vigas kedua-duanya merupakan kelompok LGV yang mana penyusun kimia utamanya adalah propana dan butana. Perbedaannya terletak pada nilai RON oktannya, untuk LPG nilai oktannya 120 dan untuk Vigas nilai oktannya sebesar 98. Artinya Vigas yang akan diterapkan oleh pemerintah sudah disesuaikan oktannya mendekati oktan pertamax yang besarnya 95. Dengan demikian konverter kit yang nantinya akan dipergunakan oleh pemerintah tidak begitu berbeda dengan teknologi mobil saat ini yang menggunakan bahan bakar pertamax.
Solusi cerdas membantu program pembatasan BBM dengan pengunaan BBG secara tidak langsung sudah terjawab. Konverter kit kreasi anak bangsa yang tadinya dipergunakan untuk membantu rakyat dari kelangkaan BBM dapat juga dipergunakan oleh pemerintah untuk program Indonesia bebas dari subsidi BBM pada tahun 2015. Seharusnya pemerintah memperhatikan hal ini karena kebijakan yang dibangun sesuai kebutuhan dalam negeri bukan kebijakan yang didasari oleh ikut-ikutan menggunakan bahan bakar gas (BBG).
Program konversi minyak tanah yang juga merupakan kebijakan pemerintah 5 tahun yang lalu untuk menghapuskan bahan bakar minyak tanah dan digantikan dengan bahan bakar gas (LPG) sebenarnya secara tidak langsung sudah melakukan program pemerintah mengenai konversi bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan bermotor. Kesimpulan ini dapat dimengerti jika pemerintah tidak ikut-ikutan melakukan program pembatasan BBM dengan konversi BBG yang diterapkan oleh negara lain yang sudah menggunakan gas. Seharusnya kebijakan pemerintah harus didasari oleh kondisi dan potensi dalam negeri baik itu potensi sumber daya alam dan sumber daya manusianya.
Gambar : LPG yang dapat dipergunakan untuk memasak, otomotif dan genset
Jika kebijakan pemerintah mengenai pembatasan BBM dengan BBG yang akan dilaksanakan dapat disesuaikan dan dikembangkan dengan kebijakan penghapusan minyak tanah 5 tahun yang lalu maka kendala makro mengenai infrastruktur yang belum siap untuk menjalankan program Indonesia bebas subsidi pada tahun 2015 secara praktis dan teoritis dapat diatasi. Kanapa hal ini tidak dilakukan???
Memang konverter kit dengan menggunakan bahan bakar gas LPG agak berlainan dengan konverter kit yang akan dipergunakan oleh pemerintah menggunakan bahan bakar gas Vigas dengan oktan 98. Tetapi konverter LPG ini telah dikembangkan oleh anak bangsa dan sarat dengan inovasi. Coba bayangkan jika kendaraan tidak saja dapat menggunakan LPG tetapi dapat menggunakan BBM, Vigas dan CNG sekaligus, apakah masalah atau kendala infrastruktur yang selalu diberitakan dimedia masa dapat diatasi??? Paling tidak sejalan dengan pembangunan infrastruktur yang memerlukan waktu lama dalam pelaksanaannya, program konversi bahan bakar gas dapat juga direalisasikan dengan baik menggunakan bahan bakar gas LPG yang sudah tersedia diseluruh Indonesia bahkan dipelosok-pelosok atau dipulau-pulau. Kebijakan pemerintah selanjutnya mengenai konversi bahan bakar gas (BBG) dapat disesuaikan dan dikembangkan kemudian jika pembagunan infrastruktur sudah rampung dan siap pakai diseluruh Indonesia.
Gambar : Konverter kit kreasi anak bangsa
Setelah uji coba menggunakan konverter kit kreasi anak bangsa dan bahan bakar gas LPG maka didapatkan beberapa keunggulan yaitu :
1. Menggunakan tabung fleksibel
2. Bahan bakar dapat ditemukan dimana saja sesuai program pemerintah mengenai penghapusan minyak tanah menggunakan bahan bakar LPG
3. Harga konverter kit yang lebih murah
4. Kreasi anak bangsa yang sarat dengan inovasi dan bukan alih teknologi
menggunakan barang jadi dari negara yang sudah menggunakan gas
5. Konverter kit yang dapat dikembangkan terus menerus dan disesuaikan dengan kebijakan
6. Bahan bakar menjadi lebih murah
Setelah uji coba didapatkan effisiensi menggunakan konverter kit kreasi anak bangsa : (uji coba mempergunakan mobil Yaris yang termasuk mobil irit)
Konversi kg ke liter untuk LPG sesuai berat jenisnya : 1 kg LPG = 1,7 liter LPG ( +/- 2 liter). Jadi 3kg LPG sama dengan 6 liter LPG (Harga Rp. 15.000,-)
Jika mobil Yaris perbandingan liter dan jarak tempuh menggunakan premium adalah 1 liter ? 10 km maka untuk 6 liter bensin premium dengan harga Rp. 27.000,- adalah 60 km. (Rp. 4.500,- per liter).
Jika dengan bahan bakar gas LPG didapat perbandigan 1 liter : 10 km maka effisiensi : Rp. 27.000 – Rp. 15.000 = Rp. 12.000,-. Effisiensi menggunakan tabung 3 kg kurang lebih 45%. Jika dalam 1 bulan pengguna bahan bakar mengeluarkan dana sebesar Rp. 2.000.000,-/bulan maka dengan menggunakan BBG akan
terjadi effisiensi sebesar Rp. 2.000.000,- x 45% = Rp. 900.000,-.
Jika harga gas LGV khususnya Vi gas Rp. 5.600,- per liter yang ditetapkan oleh pemerintah maka didapatkan harga 6 liter gas Vigas adalah Rp. 5.600 x 6 liter = Rp. 33.600,-. Effisiensi menggunakan tabung 3kg kurang lebih 55%.
Jika harga CNG Rp. 3.100,- per liter yang ditetapkan oleh pemerintah didapatkan harga 6 liter CNG adalah Rp. 3.100 x 6 liter = Rp. 18.600,-. Efisiensi menggunakan tabung 3kg kurang lebih 20%.
Jadi jika pemerintah memperbolehkan penggunaan gas LPG 3kg yang disubsidi maka semua kendala yang dihadapai pemerintah dapat diatasi dan program Indonesia bebas subsidi pada tahun 2015 akan dapat direalisasikan. Efiiensi yang sangat baik juga didapat dari penggunaan gas yang relevan sesuai kebijakan pemerintah lainnya yang sudah berlaku (penghapusan minyak tanah).
Tetapi penggunaan tabung LPG 12 kg akan menghasilkan effiensi yang sama walau tidak disubsidi. Effisiesi juga didapat dari tenaga ahli saat pemasangan konverter kit dikendaraan bermotor dengan setting dan tuningnya. Jika tenaga ahli pada saat pemasangan dapat melakukan setting dan tuning yang baik hingga mendapatkan perbandingan liter dan jarak tempuh 1 : 15 maka effisiensi akan didapatkan lagi kurang lebih 50%. Jadi begitu dahsyatnya penggunaan konverter kit yang disesuaikan dengan bahan bakar gasnya. Ingat nilai oktan LPG mencapai 120 bukan 98 sehingga diharapkan didapatkan lagi effisiensi yang baik dari performance dan pembakaran kendaraan yang sempurna.
Diharapkan pemerintah dapat melihat momentum dan kesempatan ini serta mendukung produk dalam negeri kreasi anak bangsa yang selalu didengungkan oleh pemerintah dan DPR. Tindakan pembiaran konsep dan produk kreasi anak bangsa ini berjalan sendiri tanpa merangkul bahkan duduk bersama membahas semua kendala akan dapat menjadi bumerang bagi pemerintah itu sendiri. Mengayomi dan membantu produk kreasi anak bangsa ini sejalan dengan program pemerintah yang penuh dengan problematikanya seharusnya menjadi perhatian khusus dan secara langsung mendapat dukungan penuh dari semua pihak yang semuanya ditujukan untuk kesejahteraan rakyat. Kepentingan pribadi dan kelompok seharusnya disingkirkan demi kepentingan yang lebih besar yaitu untuk kepentingan dan kebutuhan rakyat Indonesia.(Dip. Ing A Hakim Pane)

Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.