Solusi Bahan Bakar Gas dan Tabung Pada Penggunaan BBG di Motor

Informasi mengenai konverter kit dan bahan bakar gas (BBG) yang tadinya tabu sekarang perlahan-lahan mulai terkuak dan bahkan sudah mulai dikuasai oleh anak bangsa untuk memulai berinovasi dan memproduksi sendiri konverter kit untuk kendaraan bermotor, apakah itu pada kendaraan bermotor roda dua atau roda empat.

Bahkan sudah diingatkan pada pemerintah bahwa tindakan pembiaran konsep dan produk kreasi anak bangsa ini berjalan sendiri tanpa merangkul bahkan duduk bersama membahas semua kendala akan dapat menjadi bumerang bagi pemerintah itu sendiri. Mengayomi dan membantu produk kreasi anak bangsa ini sejalan dengan program pemerintah yang penuh dengan problematikanya seharusnya menjadi perhatian khusus dan secara langsung mendapat dukungan penuh dari semua pihak yang semuanya ditujukan untuk kesejahteraan rakyat. Kepentingan pribadi dan kelompok seharusnya disingkirkan demi kepentingan yang lebih besar yaitu untuk kepentingan dan kebutuhan rakyat Indonesia.
Pada kesempatan ini kami ingin menambahkan kepada teman inovator yang sudah berkreasi pada penggunaan bahan bakar gas LPG di kendaraan bermotor roda dua (lihat blog archive : “Menggantikan Bahan BakarBensin ke LPG Untuk Motor” dilain blogspot). Penambahan konsep yang dapat kami berikan kepada teman-teman inovator adalah :

1. Penggunaan Semi EFI pada engine atau mesin kendaraan bermotor menggunakan BBM.

2. Penggunaan tabung pada motor yang mana ruang tempat penyimpanan tabungnya pada motor kecil dan tidak memadai. 
3. Pompa gas yang dapat ditindak lanjuti untuk pengisian bahan bakar gas LPG.
Mari kita bahas satu persatu penambahan konsep diatas untuk memberikan solusi pada teman-teman inovator yang sudah berinovasi dengan baik. Kita mulai dengan penggunaan semi EFI pada engine atau mesin kendaraan bermotor menggunakan BBM.

Seperti yang diutarakan pada teman inovator bahwa terjadi penurunan performance pada putaran atas pada saat menggunakan gas LPG. Hal ini sebenarnya terjadi bukan dikarenakan energi bensin vs energi LPG melainkan pada konsumsi bahan bakar yang terlalu banyak (rich) pada putaran atas. Hal ini dikarenakan sistem pengaturan bahan bakar gas yang dibangun menggunakan komponen mekanik murni yang seharusnya pada putaran atas konsumsi bahan bakar dengan sendirinya sedikit mengecil dibandingkan dengan pada putaran tengah atau bawah. Demikian juga pada saat cranking pertama kali mesin kadang-kadang tidak dapat hidup atau nyala, bahkan mesin harus dihidupkan terlebih dahulu menggunakan bensin dan tidak dapat langsung menggunakan gas.

Mari kita bahas konsumsi bahan bakar gas pada putaran atas. Seperti halnya mesin menggunakan bahan bakar minyak (BBM) maka sebenarnya pada putaran atas atau rpm tinggi konsumsi bahan bakarnya semakin sering disemprot sesuai putaran mesin. Jika kenaikan rpm sebanding dengan konsumsi bahan bakarnya maka konsumsi tersebut akan pas pada penggunaan bahan bakarnya. Pasti ada sisa bahan bahan bakar yang tersisa pada putaran atas tersebut dan jika pada putaran atas ditambahkan lagi bahan bakar yang tidak disesuaikan maka akan terjadi konsumsi bahan bakar yang terlalu banyak dan sering dikatakan terlalu basah (rich).
Sebagai contoh mari kita setting motor kita pada posisi konsumsi bahan bakarnya basah (rich) maka apa yang terjadi? Sudah pasti pada putaran bawah akan terjadi lonjakkan mesin yang tinggi atau biasanya pada saat akselerasi pertama kali akan terjadi perubahan yang signifikan. Hal ini dapat dikatakan bahwa pada putaran bawah torque – nya baik sekali. Biarkan putaran rpm dijaga dan biarkan motor berjalan maka pada putaran atas motor akan menurun performancenya. Hal ini dikarenakan konsumsi bahan bakarnya terlalu banyak. Coba bayangkan jika motor pada putaran atas dapat disetting untuk mengecilkan bahan bakar maka yang terjadi adalah Horse Power (HP) akan meningkat dengan baik. Jadi hubungan antara Torque dan HP harus sebanding untuk mendapatkan effisiensi dan performance yang baik.
Setting yang disesuaikan dengan mapping (table atau aturan) yang baik adalah konsumsi bahan bakar yang cukup pada putaran bawah untuk mendapatkan torque dan konsumsi bahan bakar tidak terlalu banyak pada putaran atas untuk mendapatkan horse power (HP). Pernahkah kita ketahui jika kendaraan keluar kota maka konsumsi bahan bakarnya malah berkurang dibandingkan jika didalam kota?
Selain itu yang perlu kita perhatikan adalah kompresi motor yang dibangun pada nilai oktan tertentu dan tidak terlalu tinggi. Oleh karena itu satu-satunya cara merubah kompresi ruang bakar adalah dengan merubah timing pengapiannya. Coba bayangkan jika pada pemasangan konverter kit untuk penggunaan bahan bakar gas dimotor selalu dilakukan perubahan kompresi dengan merubah secara mekanik kompresi mesin tersebut (turun mesin). Kacaukan….kondisi motor tidak lagi standar…wah berabe deh…
Tetapi perubahan timing pengapian harus juga dilakukan dengan benar yaitu dengan merubahnya secara dinamis tidak statis. Pada putaran bawah timingnya pada posisi tertentu dan perlahan-lahan posisinya berubah sesuai putaran mesin dan nilai oktannya. Kita ketahui bahwa nilai oktan LPG berkisar antara 98 sampai 120. Untuk methan atau CNG sudah dapat dipastikan nilai oktannya 120.
Yang harus kita simpulkan disini adalah penggunaan komponen mekanik murni tidak akan membuat penggunaan bahan bakar gas LPG menjadi optimal. Yang dimaksud adalah effiesiensi dan performance tidak didapat dengan baik demikian juga pada saat cranking atau starting pertama kali, motor tidak dapat langsung menggunakan gas.
Solusinya adalah menggunakan sistem pengaturan secara elektronik menggunakan selenoid valve yang dicangkok pada intake sehingga konsumsi bahan bakarnya dapat diatur dengan baik dan lebih akurat dibandingkan cara mekanik. Kenapa? Karena cara kerja selenoid valve/katup lebih dinamis dibandingkan cara kerja spuyer yang statis. Diameter lubang spuyer tidak dapat membesar atau mengecil pada saat kebutuhan bahan bakar berubah. Konsumsi bahan bakar hanya tergantung pada tekanan. Komponen mixer secara tersendiri juga tidak perlu dipergunakan karena udara dan bahan bakar akan bercampur diintake bukan pada tempat tertentu seperti komponen mixer yang dimaksud. Yang paling hebat jika peralatan konverter kit menggunakan komponen Gas Reducer (penurunan tekanan) yang dinamis secara elektrik. Problem susahnya motor hidup pada saat starting atau cranking tidak akan terjadi pada saat menggunakan komponen Gas Reducer ini. 
Jika komponen-komponen ini dapat dipergunakan dan diatur dengan baik maka yang terjadi pada penggunaan bahan bakar gas adalah effisiensi dan performance pada kendaraan bermotor roda dua yang maksimal. Pengaturannya sudah tentu menggunakan elektronik modul berupa Gas Control Unit (GCU). Sistem kontrol (GCU) dipergunakan pada peralatan konversi bahan bakar gas LPG sedangkan pada pemakaian besin masih dipergunakan sistem karburator pada mesin. Saat motor memakai gas maka saluran besin ditutup oleh suatu valve/katup (shut off valve) berupa magnetic valve.
Penambahan konsep kedua yaitu penggunaan tabung yang baik pada kendaraan bermotor roda dua (motor). Gambar dibawah ini memperlihatkan solusi penggunaan tabung gas dimotor yang biasa ditemukan dinegara Eropa seperti negara Italia.
Dapat kita lihat bahwa tabungnya tidak standard dan dapat diproduksi dengan baik jika peminat pengguna bahan bakar gas LPG banyak. Pada gambar sisi kanan terdapat gambar komponen berbentuk bulat. Komponen tersebut biasanya dinamakan sebagai Gas Reducer atau Vaporized (penurunan tekanan). Coba lihat bagaimana susunan aliran gasnya, tidak simpelkan? Tapi juga tidak susah jika kita kuasai management bahan bakar dengan baik. Oleh karena itu kita namakan konsep penggunaan konverter kit pada motor adalah konsep sistem “Semi EFI” untuk dapat mengatur (management) bahan bakar dan pengapian secara elektrik dengan baik. 


Pengisian bahan bakar gas pada tabung yang bukan standard seperti gambar penggunaan tabung gas pada motor diatas dapat disiasati dengan membuka bisnis pengisian bahan bakar gas pada motor menggunakan pompa gas seperti pompa gas diatas. Pengisian bahan bakar gas diatas menggunakan prinsip tekanan bukan prinsip berat yang selama ini dipergunakan pada pengisian bahan bakar gas di SPBE (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji) untuk tabung 3 kg atau 12 kg.
Jika penggunaan bahan bakar gas LPG menggunakan tabung fleksibel 3kg tetap dipertahankan, yang mana tabung 3kg dapat ditemukan diwarung-warung, maka pada motor dapat dibuatkan kemasan (jacket atau gas tight housing) dibelakang motor lengkap dengan sistem pengamanannya berupa sensor gas, ventil gas jika bocor, shut-off valve (katup penutup), pemanas untuk stabilisasi dingin akibat keluarnya gas dari dalam tabung dengan perbedan tekanan dan lain-lain.
Demikianlah semoga konsep ini dapat dikembangkan bersama untuk mendapatkan produk yang baik dengan tingkat keamanan dan keselamatan yang dapat diuji.
(Dipl. – Ing. A. Hakim Pane)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: