Alat Pengiritan Bahan Bakar Baru Berbasis Gas LPG Pada Kendaraan



Gambar : Pengiritan menggunakan bahan bakar gas LPG

Seperti kita ketahui bahwa ketersediaan cadangan minyak dunia sudah mulai menipis dan periode bahan bakar minyak (BBM) perlahan-lahan digantikan dengan bahan bakar gas (BBG) yang cadangannya masih besar untuk kendaraan menggunakan ruang bakar bermotor. Selain itu penggunaan bahan bakar gas (BBG) sangat berkontribusi pengurangan karbon yang mengakibatkan pemanasan global sesuai piagam Kyoto yang telah disepakati dunia. Penggunaan bahan bakar gas (BBG) pada kendaraan bermotor sangat diperlukan sekali suatu peralatan konverterkit untuk menyesuaikan kinerja mesin terhadap bahan bakarnya.

Berbeda dengan konsep konverter kit yang fungsinya menggantikan bahan bakar, kita juga sering mendengar banyak sekali alat pengiritan bahan bakar yang dipasangkan pada kendaraan. Apa itu alat pengiritan bahan bakar yang dipasangkan pada kendaraan dan bagaimana fungsinya?
Ada banyak sekali peralatan pengiritan bahan bakar yang dikategorikan dalam fungsinya :
  1. Pengiritan bahan bakar minyak (BBM) yang didapat dari memaksimalkan kinerja mesin (dalam hal ini actuator kendaraan) 
  2. Pengiritan bahan bakar minyak (BBM) yang didapat dari dampak peralatan atau unsur kimia lain yang dipasangkan pada kendaraan
Dikarenakan teknologi otomotif yang sangat berkembang saat ini (EFI, VVTI, IDSI, Close Loop, dll), masalah memaksimalkan kinerja mesin tidak dapat dilakukan dengan mudah. Sangat diperlukan pakar elektronik untuk membahas masalah ini karena sistem kontrol kendaraan era abad 21 sudah digantikan secara elektronik dan bukan lagi mekanik. Banyak sekali peralatan aksesoris pada kendaraan untuk memaksimalkan kinerja mesin berbentuk elektronik dan bukan mekanik. Kecuali kendaraan tersebut menggunakan teknologi lama yaitu sistem karburator dan sistem platina.
Kita sering mendengar ”Piggy Back” yang merupakan suatu peralatan elektronik yang dipasangkan pada kendaraan sehingga kinerja mesin termasuk aktuatornya menjadi optimal atau maksimal bekerjanya. Pertanyaan berikutnya adalah apakah kinerja mesin kendaraan didesign tidak maksimal oleh produser kendaraan? Hal ini dapat dijawab dengan gamblang bahwa kendaraan memang didesign semaksimal mungkin sehingga didapatkan efisiensi, performance dan emisi gas buang yang baik. Masalahnya setiap negara mempunyai kebijakan energi yang berbeda dengan negara produsen mobil.
Seperti misalnya kebijakan energi mengenai bahan bakar minyak negara kita berbeda dengan kebijakan negara Jepang. Bahan bakar minyak yang diberlakukan dinegara Jepang mempunyai kualitas yang sangat baik dengan nilai oktan yang tinggi. Sedangkan negara kita memberlakukan bahan bakar minyak dengan kualitas rendah yang mempunyai nilai oktan yang rendah pula. Hal inilah yang merubah kinerja mesin yang diakibatkan oleh sistem kontrol yang diwakili oleh suatu peralatan elektronik dinamakan ECU (Electronic Control Unit). Didalam ECU terdapat mapping atau pemetaan kinerja actuator yang disesuaikan dengan sensor dan bahan bakarnya. Sementara mapping didalam ECU tidak dapat dibeda-bedakan apakah itu mapping untuk negara Indonesia atau negara Malaysia atau negara manapun. Negara produsen mobil membuat satu mapping yang dapat dipakai oleh semua negara. Oleh karena itu kita sering menemukan mobil mengelitik diakibatkan penggunaan kualitas bahan bakar yang berbeda.
Gambar : Sistem kontrol dan peralatan kontrol tambahan kendaraan
Jadi peralatan pengiritan kendaraan dengan kategori memaksimalkan kinerja mesin biasanya berupa elektronik dan terhubung dengan sistem kontrol kendaraan seperti remapping, piggy back, atau piggy after. Ada juga beberapa peralatan yang tidak termasuk dalam sistem yang digambarkan diatas dan berdiri sendiri seperti peralatan memperbesar pengapian (ignition) kendaraan (MSD, KIMCOIL, dll). Peralatan pengapian seperti MSD juga menyediakan perubahan timing yang terhubung dengan sistem kontrol ECU kendaraan.
Tidak seperti piggy back yang sesuai dengan artinya piggy : memanupulasi (mengoptimalkan) dan back : besaran sensor dibelakang ECU maka remappingartinya memaksimalkan besaran-besaran actuator dengan merubah mapping didalam ECU itu sendiri (dijantungnya). Perubahan dengan cara remapping dilakukan dengan teknologi canggih menggunakan computer yang sesuai dengan produsen kendaraan masing-masing. Ada lagi yang dinamakan “Piggy After” untuk mengatur besaran-besaran actuator langsung sebelum actuator itu sendiri. Semua peralatan diatas mempunyai kelebihan dan kekurangannya.
Peralatan pengiritan bahan bakar yang didapat dari dampak peralatan atau unsur kimia lain yang dipasangkan pada kendaraan biasanya dibuat dengan memanipulasi sifat fisika dan kimiawi bahan bakar itu sendiri. Seperti yang kita sering temukan dipasar apa yang dinamakan sistem pengiritan menggunakan sistem :
  1. Magnet (perubahan fisika bahan bakar)
  2. Pemanas (perubahan fisika bahan bakar)
  3. Additive (perubahan kimiawi bahan bakar)
  4. Water Injection (perubahan kimiawi bahan bakar)
  5. HHO (Hydroxy gas) (perubahan kimiawi bahan bakar)
  6. Peralatan menggurangi resistensi komponen seperti kabel busi, grounding, dll (perubahan fisika sistem)
  7. dan lain-lain
Betul adanya secara teoritis bahwa peralatan pengiritan diatas berfungsi sesuai dengan hukum-hukum fisika dan kimia didalam atau dilingkungan laboratorium. Apakah peralatan tersebut berlaku pada kendaraan dengan semua faktor atau variabelnya seperti penggunaan bahan bakar, kondisi dan lingkungannya? Seperti kita ketahui bahwa banyak sekali factor atau variable yang mempengaruhi efisiensi, performance dan emisi gas buang kendaraan seperti suhu, barometric, cara bawa kendaraan, bahan bakar itu sendiri, kemacetan (city car). Belum lagi harus dipertanyakan kestabilan kerja peralatan itu sendiri.
Sekarang kita kembali pada peralatan pengiritan bahan bakar baru berbasis gas lpgpada kendaraan dan mari kita bahas peralatan pengiritan ini. Mari kita buka semua situs atau web yang membahas mengenai bahan bakar gas (BBG) yang berhubungan dengan konverter kit. Penggunaan bahan bakar gas (BBG) tidak diragukan lagi sebagai bahan bakar ramah lingkungan. Bahan bakar gas (BBG) tidak merusak mesin dan bahkan penggunaan bahan bakar gas (BBG) dapat merawat mesin dengan terbuktinya mesin, busi dan oli yang menjadi tahan lama. Penggunaan bahan bakar gas (BBG) juga akan menghasilkan efisiensi, performance dan emisi gas buang yang baik. Dengan membaca keunggulan bahan bakar gas (BBG) di situs dan web yang sudah dipakai selama lebih dari 10 tahun di Jerman (Autogas) bahkan terdapat penambahan stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) hingga mencapai 2000 stasiun (di India sudah mencapai 3000 SPBG) maka tidak perlu kita bahas kembali bagaimana dampak bahan bakar gas (BBG) pada kendaraan.
Yang perlu dibahas disini adalah bagaimana membangun peralatan ini dengan baik dan aman karena peralatan ini dibangun berdasarkan prinsip kerja konverter kit sekuensial dan bukan prinsip kerja konverter kit konvensional. Seperti kita ketahui sistem konverter kit konvensional akan menghasilkan kinerja mesin terhadap bahan bakar yang tidak maksimal sehingga berdampak buruk pada mesin. Bahan bakar gas (BBG) seharusnya tidak begitu saja dimasukkan kedalam sistem intake kendaraan melainkan diatur sedemikian rupa sehingga efisiensi, performance dan emisi gas buang didapat dengan baik.
Sebenarnya mudah saja bahan bakar gas (BBG) dimasukkan kedalam engine /mesin melalui intake (buat lubang di intake, jalur udara berbahan karet) seperti halnya peralatan pengiritan Water Injection dan HHO dimasukkan kedalam mesin. Silahkan coba dan ukur setelah bahan bakar gas (BBG) masuk kedalam engine/mesin, apakah besaran bahan bakar gas (BBG) dapat dikendalikan? Apakah hal ini juga akan mempengaruhi kerja mesin? Apakah RPM akan turun setelah bahan bakar gas (BBG) dimasukkan? Apakah dengan penurunan RPM kita sudah berbangga hati bahwa bahan bakar gas (BBG) tersebut akan serta merta merubah kinerja mesin menjadi baik? Jawabannya jelas tidak karena hukum fisika dan kimia akan berlaku disini yaitu perbandingan AFR (Air Fuel Ratio) yang baik. Bahan bakar bensin yang terlalu banyak juga akan berdampak buruk pada putaran atas kendaraan dan kekurangan bahan bakar bensin juga akan membuat mobil menjadi boros. Belum lagi jika ditemukan teknologi otomotif dengan sistem close loopnya….wah repot deh. 
Peralatan pengiritan bahan bakar minyak (BBM) ini dibangun untuk memberikan alternatif kepada masyarakat berupa sosialisasi penggunaan bahan bakar gas (BBG) terutama bahan bakar gas LPG pada kendaraan. Jika program konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) menggunakan konverter kit apakah itu bahan bakar gas CNG atau LPG dianggap berbahaya dan ditakuti oleh masyarakat maka sistem pengiritan ini dibangun bukan untuk mengkonversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) melainkan berupa pengiritan menggunakan bahan bakar gas (BBG) yang stabil yang mana tabung LPG-nya dengan ukuran kecil dapat dibeli disupermarket atau dapat di refill kembali. Karena ukuran tabungnya kecil maka ketakutan masyarakat akan penggunaan bahan bakar gas perlahan-lahan akan dapat dihilangkan dan perlahan-lahan masyarakat akan beralih ke bahan bakar gas (BBG).
Gambar : Sistem sequential dan satu valve peralatan pengiritan BBM menggunakan bahan bakar LPG
Bagaimana cara kerjanya? Sudah tentu sama seperti halnya bahan bakar minyak (BBM) maka bahan bakar gas (BBG) juga dimasukkan kedalam engine / mesin melalui intake dengan menggunakan valve dan bukan injector.
Karena bahan bakar gas LPG sifatnya hanya mengiritkan bahan bakar minyak (BBM) pada kendaraan maka bahan bakar gas (BBG) diberikan sedikit saja dan disesuaikan dengan kinerja mesin. Artinya bahan bakar gas (BBG) diberikan untuk mencampur bahan bakar minyak (BBM) yang kualitasnya tidak bagus. Kita ketahui bahwa oktan bahan bakar gas LPG lebih tinggi dari pertamax dengan nilai oktan berkisar antara 98 hingga 110. Jadi fungsinya seperti alat pengiritan menggunakan bahan additive. Selain itu dan seperti yang kita ketahui bahwa sifat gas akan menempati ruang dan akan merambat seluruhnya jika terbakar dalam ruang bakar. Diharapkan bahan bakar gas (BBG) ini akan membantu pembakaran sempurna dalam ruang bakar. Dengan dua karekteristik ini diharapkan akan terjadi efisiensi, performance dan emisi gas buang yang baik pada kendaraan.
Dengan membangun sistem kontrol elektrik yang baik maka besaran bahan bakar minyak (BBM) melalui injector dapat dikecilkan dan bahan bakar gas (BBG) dapat dibesarkan tergantung dari rasio penggunaan bahan bakar mana yang akan dipilih. Demikian juga sistem sequential menggunakan empat valvedapat diterapkan sehingga nantinya penggunaan peralatan konverter kit dapat langsung diterapkan pada kendaraan sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM) dan bukan lagi sebagai peralatan pengiritan. Dapat juga hanya menggunakan satu valve untuk membuat murah peralatan sehingga penggunaan peralatan konverter kit nantinya dapat dikembangkan lagi sedikit satu tahapmenjadi konverter kit sequential murni.
Demikian konsep pengiritan bahan bakar minyak (BBM) dibuat sebagai bentuk kepedulian untuk membantu permasalahan persedian bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia yang selalu bermasalah. Peralatan pengiritan ini juga merupakan bentuk sosialisasi penggunaan konverter kit untuk mengkonversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG). Trims……
Oleh : Dipl. – Ing. A. Hakim Pane

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: