Konsep gas Hydrogen (H2) dan Hydroxy


Mari kita melirik sebentar (intermezzo) mengenai bahan bakar lain berupa gas diluar gas LPG dan CNG sebagai referensi untuk mengenal lebih banyak lagi energi alternatif yang dapat dikembangkan dengan baik.
Bahan bakar yang dimaksud adalah gas Hidrogen (H2) yang sedang agresif dan masif dieksplorasi sebagai bahan bakar gas untuk kendaraan yang menggunakan motor pembakaran internal. Bahkan di negara Eropa bahan bakar gas ini sudah banyak digunakan dan sudah dapat dipastikan berhasil dengan melihat jumlah SPBGnya yang tersebar dan bahkan melebihi SPBG bahan bakar gas CNG (NGV) atau LPG (LGV) di negara Indonesia.

Bahan bakar gas (BBG) Hidrogen (H2) ini sangat ramah lingkungan. Bahan bakar gas Hidrogen (H2) tidak menghasilkan polusi udara atau gas rumah kaca bila digunakan pada Power Plant (Genset) dan pada kendaraan. Emisi gas buangnya tidak mengeluarkan emisi gas CO2 dan hanya menghasilkan oksida nitrogen saja (NOx) saat dibakar. Bahan bakar gas (BBG) ini juga memiliki potensi secara dramatis mengurangi ketergantungan kita pada minyak impor. Bahan bakar gas Hidrogen (H2) dapat diproduksi didalam negeri dari beberapa sumber untuk mengurangi ketergantungan kita pada impor minyak bumi.

Kita juga mengetahui jika gas Hidrogen (H2) dipakai pada “Space Shuttle” untuk bahan bakarnya. Bahan bakar gas Hidrogen (H2) merupakan gas diatomik yang sangat mudah terbakar dan merupakan unsur kimia yang teringan di dunia. Pada suhu dan tekanan standar, Hidrogen (H2) tidak berwarna, tidak berbau, bersifat non logam, bervalensi tunggal. Gas Hidrogen (H2) biasanya dihasilkan secara industri dari berbagai senyawa hidrokarbon seperti metanamelalui steam reforming. Gas Hidrogen juga dapat dihasilkan dari airmelalui proses elektrolisis, namun proses ini secara komersial lebih mahal daripada produksi Hidrogen dari gas alam.
Pengembangan energi berupa gas Hidrogen (H2) dapat dilakukan menggunakan teknologi gasifikasi batubara, mengingat cadangan batubara Indonesia sangatlah berlimpah dan sebagian besar merupakan batubara kualitas rendah. Sehingga untuk memanfaatkan dan juga mengoptimalkan pemanfaatan batubara tersebut perlu dikembangkan suatu teknologi yang bersih atau biasa disebut “clean coal technology” melalui proses gasifikasi batubara.
Di Indonesia sendiri, pengembangan teknologi gasifikasi batubara untuk memproduksi bahan bakar gas Hidrogen (H2) perlu dikembangkan mengingat pada tahun 2025 diharapkan akan memberikan kontribusi sebesar 0,21 persen dalam bauran energi nasional atau setara dengan enam juta setara barel minyak (SBM).
Sekarang timbul pertanyaan, apakah itu peralatan menggunakan gas Hidrogen (H2) yang sering ditawarkan dipasaran sebagai peralatan aksesoris kendaraan untuk mengiritkan bahan bakar minyak (BBM)?
Perlu diketahui bahwa bahan bakar gas dimaksud bukanlah gas Hidrogen (H2) murni yang merupakan gas diatomik melainkan sering disebut dengan “HHO atau gas Hydroxy. Istilah Hydroxy mengacu pada produksi Oxyhydrogen yang dihasilkan dari proses elektrosis (electrolysis: 2 H2O → 2 H2 + O2 ). Hidroksi adalah campuran gas Hidrogen (H2) dan gas Oksigen (O2) yang biasanya dalam rasio 2:1 molar, proporsi yang sama seperti air. Setelah proses elektrolis dan beberapa tahapan proses lagi maka akan juga dapat didapat gas Hidrogen (H2) murni. Dengan cara inilah gas Hidrogen (H2) murni diperoleh yang biasanya oleh para pakar energi secara komersial lebih mahal dibandingkan menggunakan proses steam reforming (gas alam) atau gasifikasi batubara.
Walaupun demikian mari kita bahas juga gas Hydroxy (Hidroksi) ini untuk keperluan ilmiah dengan pengembangan teknologinya sehingga dapat juga dipergunakan semaksimal mungkin sebagai energi alternatif walaupun tidak menggantikan bahan bakar untuk kendaraan.
Kita mulai dengan penemuan pertama kali oleh ilmuwan yang bernama Michael Faraday yang menyelidiki temuan ilmiahnya “style of electrolysis of water”. Dalam hal yang sederhana, ia mengatakan bahwa jumlah gas Hidroksi yang dihasilkan sebanding dengan arus yang mengalir melalui air, sehingga untuk meningkatkan tingkat produksi gas perlu peningkatan aliran arus. Ia jugamenemukan bahwa tegangan optimal antara dua lempeng “elektroda” adalah 1,24 volt. Faraday juga mendapatkan bahwa hanya tegangan 1,24 volt itu saja dari keseluruhan tegangan 12 volt yang akan membuat gas Hidroksi dan sisanya tegangan 10,76 volt akan bertindak sebagai ketel listrik dan hanya memanaskan air yang akhirnya menghasilkan uap. Bukan uap yang kita perlukan melainkan gas yang nantinya dapat dipergunakan sebagai bahan bakar maka hanya 10% dari daya yang diambil oleh peralatan elektrolis yang benar-benar membuat gas Hidroksi dan 90% besar terbuang sebagai panas.
Dari keterangan diatas maka sudah beberapa variable yang kita dapatkan yaitu : arus listrik, tegangan listrik, temperature, jumlah air, jenis katalis, jumlah katalis, jumlah uap, dan lain-lain. Variabel dan permasalahan panas dalam proses elektrolisis inilah yang menjadi acuan kita untuk pengembangan peralatan elektrolis yang baik dan benar.
Dengan adanya besaran arus dan tegangan listrik maka design dibidang elektro juga diperlukan sehingga arus dan tegangan terhadap jumlah gas Hidroksi didapat dengan maksimal (menggunakan sistem PWM, arus listrik dan sistem yang terkontrol, dll). Belum lagi perlu diperhatikan bahan katalis untuk mempercepat terjadinya gas Hidroksi melalui proses elektrolisis.

Memang benar adanya bahwa peralatan ini terus dikembangkan dengan berbagai macam design yang dimulai dengan menggunakan 2 plat dalam satu wadah hingga beberapa wadah yang dihubungkan seriel yang dalam perjalanan pengembangan peralatan elektrolis menjadi beberapa plat sejajar hingga beberapa plat yang berbentuk spiral. Sistem seriel arus listrik diperlukan untuk mendapatkan jumlah gas Hidroksi yang banyak dengan pemanas yang semakin kecil.

Banyak sekali pengembang yang dapat dilihat di http://www.free-energy-info.co.uk/Chapter10.pdf atau di http://www.free-energy-info.co.uk atau paling lengkapnya cari di google “apractical guide to free energy devices pdf”. Semua energi alternatif ada disana dan dapat dikembangkan. Khusus untuk tema gas Hidroksi banyak pengembang dengan karya ilmiahnya mulai dari penulis artikel di situs itu sendiri yaitu Patrick J. Kelly, kemudian Bob Boyce, Zach West, Bill Williams, Stanley Meyer, Dr Scott Cramton, dan lain sebagainya. Mereka tetap konsisten dalam hal ini dan terus mengembangkan peralatan elektrolis yang dapat dipergunakan dengan baik dan menghasilkan jumlah Hidroksi yang baik pula.
Sayangnya dari penjelasan penulis sendiri disitus diatas bahwa hal yang dilakukan masih dalam tahapan eksperimen dan pengembangan terus menerus serta dia tidak dapat memastikan bahwa ada kendaraan yang dapat bekerja sepenuhnya (menggantikan bahan bakar minyak) menggunakan gas Hidroksi hasil proses elektrolisis dari air. Dari hasil penjelasan penulis dapat disimpulkan bahwa hingga saat ini sistem ini hanya dipakai untuk penghematan/pengiritan bahan bakar minyak (BBM) pada kendaraan dan pada beberapa kendaraan menggunakan sistem kontrol (ECU kendaraan) yang canggih sistem ini perlu perhatian khusus sehingga pengiritannya didapat dengan baik dan maksimal.
Walaupun demikian ada berita mengenai generator atau genset yang dapat berfungsi menggunakan gas Hidroksi (HHO) hasil proses elektrolisis dari air tanpa ada bahan bakar minyak (BBM) sama sekali. Generator ini dilakukan oleh tiga orang di Inggris dengan prinsip yang sangat sederhana sekali. (silahkan baca di : http://www.free-energy-info.co.uk/Chapt10.html, menarik sekali).

Bagi saya penulis artikel ini, peralatan elektrolis yang dibangun pada generator/genset lebih memungkinkan dibandingkan dengan peralatan elektrolis yang dibangun pada kendaraan. Hal ini diakibatkan oleh bertambahnya variabel yang tidak saja diakibatkan oleh peralatan sistem elektrolisis tetapi juga oleh kendaraan itu sendiri yang berhubungan dengan temperature lingkungan dan kendaraan, cara bawa kendaraan, teknologi kendaraan, barometrik, dan lain sebagainya. Berbeda dengan generator yang sifatnya statis (variabel RPM mesin yang tidak terlalu bervariasi), yang dapat diletakkan pada ruangan dengan suhu tertentu, dan lain sebagainya.
Sementara untuk kendaraan sangat baik jika gas Hidroksi diproses lagi hingga didapatkan gas Hidrogen (H2) yang sesungguhnya dan ditampung dalam tabung seperti halnya gas CNG dan LPG. Dengan demikian gas Hidroksi dengan sistemnya tidak dipergunakan sebagai pengiritan bahan bakar melainkan sebagai pengganti bahan bakar. Untuk produksi bahan bakar gas Hidrogen (H2) dapat dilakukan dirumah menggunakan energi listrik solar cell atau grid PLN.

Jika produksi gas Hidrogen (H2) tidak mencukupi untuk dipergunakan sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM) maka bahan bakar gas Hidrogen (H2) tersebut dapat juga dipakai sebagai bahan bakar untuk alat penghematan/pengiritan seperti alat pengiritan bahan bakar baru berbasis gasLPG pada kendaraan yang pernah dirilis diblogspot ini. Hanya saja peralatan harus dibangun pada kendaraan seperti halnya peralatan konversi BBM ke BBG (konverter kit). Dengan konverter kit maka semua besaran komponen mesin dapat disesuaikan dengan bahan bakar gas Hidrogen (H2) dan tidak begitu saja dimasukkan kedalam mesin melalui intake mesin secara konvensional. Oleh karena itu untuk memiliki peralatan konverter kit sangatlah menguntungkan dan dapat menggunakan bahan bakar lainnya pada kendaraan selain bahan bakar minyak (BBM).
Demikian ulasan kali ini yang mungkin masih berhubungan dengan konverter kit yang tidak saja digunakan pada gas CNG dan LPG melainkan dapat dipergunakan juga untuk bahan bakar ramah lingkungan untuk masa depan yaitu gas Hidrogen (H2). Terima Kasih……

Dipl. – Ing. A. Hakim Pane

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: