Safety yang berhubungan dengan tekanan (regulasi UNECE konverter kit LPG)

Kembali lagi ke tema konverter kit dan mari kita bahas mengenai konverter kit yang berhubungan dengan tekanan atau dalam bahasa asingnya sering disebut dengan “pressure” sesuai dengan artikel-artikel yang pernah dibahas pada blog ini dan ketentuan, aturan atau regulasi yang diberlakukan di Internasional.

Gambar : Flowchart penggunaan komponen peralatan konverter kit sesuai UNECE No. 67

Kelas 1 : bagian komponen peralatan konversi bertekanan tinggi pada tekanan atau peningkatan tekanan gas hingga 3.000 kPa(30 bar atau 435,115 psi), komponen pendukung berisi LPG cair.
Kelas 2 : bagian komponen peralatan konversi bertekanan rendah pada tekanan operasi maksimum di bawah 450 kPa(4,5 bar atau 65 psi) dan lebih dari 20 kPa (0,2 bar atau 2,9 psi), komponen pendukung berisi gas LPG.
Kelas 2A : bagian komponen peralatan konversi bertekanan rendah untuk rentang tekanan operasi maksimum terbatas di bawah 120 kPa (1,2 bar atau 17,4 psi) dan lebih 20 kPa, komponen pendukung berisi gas LPG.
Kelas 3 : Katup penutup dan dan katup pengaturtekanan, ketika beroperasi di fase cair. Komponen bagian tampung termasuk tabungnya.
Beberapa ketentuan, aturan dan regulasi peralatan konverter kit dalam penggunaannya pada kendaraan telah diatur oleh beberapa negara termasuk negara-negara yang termasuk dalam Uni Eropa, Amerika, dan lain-lain. Seperti pada ketentuan, aturan dan regulasi yang dikeluarkan oleh UNECE Transportation Division (UN Economic Commission for Europe) dan US Environmental Protection Agency (EPA) oleh negara Amerika.

Regulasi No. 67 pada UNECE atau sering disingkat dengan ECE R67 adalah ketentuan, aturan dan regulasi yang terkait penggunaan bahan bakar gas (BBG) LPG pada kendaraan. Sedangkan pada penggunaan bahan bakar gas (BBG) CNG pada kendaraan dikeluarkan regulasi ECE R110.

Jika kita melihat isi dari ketentuan dan aturan ECE R67 sering sekali disebutkan tekanan/pressure bahan bakar gas (BBG) yang menjadi acuan keselamatan dan keamanan (Safety & Secure) penggunaan peralatan konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) pada kendaraan. Bahkan ketentuan, aturan dan regulasi keselamatan yang berhubungan dengan tekanan/pressure digambarkan di halaman paling awal dalam flowchart penggunaan komponen peralatan konverter kit.

Mari kita bahas apa yang dimaksud kelas dalam flowchart diatas dan mari kita mulai komponen peralatan konverter kit dari pembagiannya (klasifikasinya). Yang dimaksud disini adalah komponen yang termasuk dalam kelas dan kelompoknya.

Seperti kita ketahui sesuai pada artikel sebelumnya bahwa komponen-komponen konverter kit dimasukkan kedalam kelompoknya seperti kelompok bagian tampung (tabung), distribusi, dan bagian kontrol unit. Sistem kontrol unit peralatan konverter kit untuk sistem sequential lebih kompleks dan rumit dibandingkan dengan sistem konvensional yang hanya membuka dan menutup aliran gas masuk kedalam intake tunggal menggunakan “shut off valve”.


Sekarang mari kita lihat komponen apa saja yang dipergunakan pada peralatan konverter kit dan komponen mana saja yang termasuk dalam satu kelompok atau klasifikasi tertentu. (silahkan klik gambar/tabel dibawah ini untuk dapat melihat lebih jelas).

 


Tabel : Specific Equipments (UNECE No. 67)

Besaran tekananlah yang membuat LPG berada dalam fasenya apakah itu dalam fase cair atau fase gas. Tekanan lebih besar daripada 30 bar atau 435,115 psi sudah dapat dipastikan LPG dalam fase cair dan tekanan kurang dari 4,4 bar atau 65 psi berada dalam fase gas. Dikarenakan besaran tekanan bahan bakar gas yang masuk dalam intake mesin berkisar antara 15 psi hingga 25 psi maka untuk besaran tekanan dibawah 0,2 bar atau 2,9 psi tidak dipergunakan pada kendaraan atau mungkin terdapat besaran tekanan tersebut pada kondisi gas LPG yang dipergunakan pada kendaraan sudah mulai habis.

Dapat dilihat pada tabel diatas dan dapat disimpulkan bahwa pemilihan komponen konverter kit sangat tergantung pada besaran tekanan yang bekerja pada komponen masing-masing. Pemilihan komponen tersebutlah yang mendasari standard industri kelengkapan peralatan konverter kit yang sudah mencakup kesalamatan dan keamanannya yang disesuaikan dengan besaran tekanannya dan bukan dari besar kecilnya komponen peralatan konverter kit.


Gambar : Sistem dasar konverter kit LGV dan NGV (LPG dan CNG)


Mari sekarang kita kembangkan gambar diatas dengan list daftar komponen konverter kit dalam table dan flowchart regulasi UNECE No. 67 yang berlaku. Maka dapat disimpulkan bahwa komponen yang termasuk dalam kelas 3 ada di kelompok komponen bagian tampung atau tabung dimana gas itu disimpan. Sudah jelas tekanan bahan bakar gas dalam tabung lebih besar dari 30 bar atau 435,115 psi. Sementara bagian komponen yang tidak termasuk dalam kelas 3 tetapi memiliki tekanan diatas 30 bar dan masih berada dalam fase cair sudah pasti dimasukkan dalam kelas 1 yang tidak terdapat unsur katup dalam pengelompokan komponennya.

Komponen pada kelompok distribusi yang mempunyai ketahanan tekanan kelas 3 adalah “shut off valve”  dan “pressure regulator/gas reducer/vaporized“. Kedua komponen inilah yang sangat penting setelah komponen-komponen yang terdapat pada tabung termasuk tabung itu sendiri. Komponen “shut off valve” berfungsi untuk menutup dan membuka aliran bahan bakar gas dalam fase cair yang berasal dari tabung. Sementara komponen “gas reducer” berbentuk keong atau bundar berfungsi untuk menurunkan tekanan yang tinggi yang berasal dari tabung sehingga bahan bakar gas dapat dikendalikan masuk kedalam intake mesin pada kendaraan.

Komponen pipa yang termasuk dalam kelompok komponen distribusi dapat dimasukkan kedalam kelas
3, 1, 2 dan 2A. Pipa fleksibel (selang) atau pipa fix (terbuat dari cooper/tembaga atau steinless steel) dengan ukuran tahanan tekanan yang tinggi diatas 1000 psi dapat dipergunakan untuk mengalirkan bahan bakar LPG dalam fase cair setelah tabung atau setelah komponen “shut off valve” untuk masuk kedalam “gas reducer”. Setelah komponen “gas reducer” pipa fleksibel dapat dipergunakan yang termasuk dalam kelas 2 atau 2A karena tekanan bahan bakar gas setelah komponen “gas reducer” biasanya kecil dan berada dalam fase gas. Demikian juga dengan pressure dan temperatur sensor (sensor tekanan dan suhu) dapat dipasangkan didalam tabung, antara tabung dan “gas reducer” serta setelah komponen “gas reducer” tergantung dari kebutuhan kontrol unit untuk mengukur besaran tekanan dan suhu. Oleh karena itu komponen pipa, pressure dan temperatur sensor dimasukkan kedalam kelas 3, 1, 2 dan 2A sesuai ketahanan dari komponnennya dengan besaran tekanan pada jalur aliran bahan bakar gas peralatan konverter kit.


Komponen yang terdapat setelah komponen gas reducer itulah yang paling penting untuk memasukkan bahan bakar gas dengan tekanannya kedalam mesin. Komponen-komponen tersebut masuk kedalam kelas 2A dan yang dapat membedakan sistem konverter kit yang beredar apakah itu sistem konvensional atau sistem sequential sesuai generasinya.


Komponen tersebut terdiri dari “gas injection device/gas valve” untuk mencampur udara dan gas dalam intake kendaraan, “gas dosage unit”, fuel rail untuk buffering (penyimpanan sementara gas dengan tekanan rendah) dan filter unit untuk menyaring bahan bakar gas.

Selain besaran tekanan dalam komponen peralatan konverter kit terdapat juga besaran lainnya termasuk jenis bahan yang dipergunakan untuk membangun komponen konverter kit. Semua itu dapat dilihat didalam Annex regulasi UNECE No. 67 yang mengatur komponen konverter kit dengan kelasnya. Termasuk spesifikasi tabung yang dilengkapi dengan “pressure relief device” dan “pressure relief valve“. Tabung yang dilengkapi dengan peralatan untuk pembatasan tekanan gas dalam tabung dinamakan “pressure relief device” dan dengan peralatan untuk membuang gas jika terjadi perubahan tekanan yang tinggi akibat tabung yang terbakar dinamakan “pressure relief valve”. Kedua komponen pelengkap ini juga dapat ditemukan pada tabung fleksibel untuk memasak 3kg atau 12kg.

Selain kedua komponen pelengkap diatas terdapat juga komponen pelengkap lainnya yang terdapat dalam kelompok tabung.yaitu “80 per cent stop valve”, “level indicator”, “remotely controlled service valve with excess flow valve”, “fuel pump”, “multivalve”, “power supply bushing”, “non-return valve”, dan “filling unit”. Semua komponen pelengkap tersebut ditujukan untuk tabung fix dan bukan untuk tabung fleksibel.

Sementara ada pertanyaan, apakah tabung fleksibel dapat dipergunakan pada sistem konverter kit??? Pertanyaan inilah yang sangat krusial dan penting sekali dipikirkan karena penggunaan tabung fleksibel pada peralatan konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) di Indonesia sangat menguntungkan dibandingkan menggunakan tabung fix. Hal ini disebabkan oleh ketidakpastian pemerintah untuk menetapkan gas sebagai bahan bakar kendaraan dengan dukungan infrastruktur yang belum siap.

Jika kita mengacu pada UNECE No. 67 atau ECE R67 maka didalam isinya terdapat juga jenis tabung yang dapat dipergunakan pada sistem konverter kit termasuk tabung fleksibel. Hanya saja tabung fleksibel harus masuk dalam standard industri dan Standard Nasional Indonesia (SNI) jika konverter kit tersebut dipakai di Indonesia. Selain itu tabung fleksibel harus dikemas dengan baik yang meliputi kedap udara/gas (tight gas housing), tahan akan benturan seperti tabrakan, memliki sistem katup untuk mengeluarkan gas dari dalam tabung yang baik, tidak cepat haus, kokoh dan tidak menyebabkan kebocoran serta mempunyai sistem kontrol unit untuk mengatasi semua kendala dalam penggunaannya.

Jika kita bedah kelompok komponen konverter kit menggunakan tabung fix dan tabung fleksibel maka komponen-komponen dalam tabel hanya tinggal tersisa kurang lebih 11 komponen diluar tabung itu sendiri (dimulai dari no 13 – 23). Komponen-komponen diluar tabung tersebut dapat didesign dengan baik atau menggunakan komponen yang sudah beredar. Sementara tabung dapat dipergunakan tabung 3kg atau 12kg yang sudah ada SNI-nya. Tinggal saja kelengkapan dan komponen pendukung tabung harus dibangun dengan baik dan akan lebih baik jika ada SNI-nya. Apakah pemerintah berani membuat SNI penggunaan tabung fleksibel pada peralatan konversi BBM ke BBG???

Pertanyaan berikutnya, mengapa konsep tabung fleksibel ini tidak saja dipergunakan untuk menggantikan atau mengkonversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG)??? Apakah pemerintah takut untuk menetapkan konsep ini sebagai kebijakan??? Atau pemerintah maunya hanya mengadopsi ketentuan, aturan dan regulasi mengenai konversi BBM ke BBG dari luar negeri??? Atau pemerintah takut tidak dapat bagian dalam pembagian kue proyek konversi ini???

Kebijakan energi adalah kebijakan negara yang sangat strategis dan seharusnya negara yang mengolah energi untuk negara dan rakyatnya. Negara diluar Indonesia (Eropa dan Amerika) tidak menggunakan tabung fleksibel karena tidak ada kebijakan penggunaan gas untuk memasak, oleh karena itu mereka menggunakan tabung fix (apakah harus kita ikuti kebijakan energi mereka???). Masih ada beberapa negara lagi yang menggunakan gas untuk memasak yang mungkin dapat disinergikan seperti negara Malaysia, Thailand, Vietnam, Burma, dan beberapa negara lagi di Asia….mungkin negara dibenua Afrika yang tidak kita ketahui.

Indonesia harus berani menggunakan tabung fleksibel untuk peralatan konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) pada kendaraan mengingat susahnya orang daerah diluar pulau Jawa untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM). Jika infrastruktur sudah mendukung maka perubahan ke tabung fix dapat dilakukan dengan mudah dan dapat dipastikan bahwa pengguna konverter kit akan berbondong-bondong merubah sistem tabung fleksibelnya ke tabung fix karena penggunaan tabung fix akan memudahkan mereka dalam penggunaan BBG distasiun pengisian.

Indonesia harus berani menggunakan tabung fleksibel untuk peralatan konversi walaupun pemerintah selalu menghimbau ketersedian dan keberadaan bahan bakar gasnya (BBG) terutama gas LPG yang masih impor. Informasi yang selalu saja diberikan kepada rakyat yang salah. Keberadaan gas LPG bukanlah impor melainkan gas alam yang didapat dan diproses menjadi DME (dimethyl ether, setara dengan LPG) dilepas pantai. Karena gas tersebut secara keseluruhan didapat dari lepas pantai dan hanya dapat ditampung di tanjung priok maka keberadaannya dikatakan bahwa LPG masih impor (sungguh merupakan pembodohan rakyat).

Yang lucunya pemerintah bahkan mengalihkan penggunaan bahan bakar gas (BBG) untuk kendaraan berbadan kecil (sedan) menggunakan bahan bakar gas CNG yang perlahan-lahan sudah ditinggalkan oleh masyarakat negara maju. Kapan pemerintah mau belajar, mau tahu, mau sadar dan mau mandiri menetapkan kebijakan energinya untuk masa yang akan datang????? Terutama kebijakan energi untuk anak dan cucunya kelak yang tidak pernah dijajah oleh negara yang mempunyai kepentingan terhadap Indonesia…………..

Terima kasih…..

Dipl. – Ing. A. Hakim Pane

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: