Hemat BBM dengan Air

Pameran EPB
Pada mulanya, Persatuan Insinyur Indonesia (PII) mendaulat Ajat Sudrajat sebagai narasumber dalam sebuah diskusi yang membahas mesin hemat bahan energi. Selanjutnya, Ajat, yang juga Dekan Fakultas Teknik dan Sains Universitas Nasional (Unas), Jakarta, memperkenalkan peranti bikinan Jurusan Teknik Mesin Unas. Alat itu dijuluki generator Eco Power Booster (EPB).

Rupanya, presentasi Ajat itu berhasil memikat anggota PII. Maka, ditekenlah kerja sama Fakultas Teknik dan Sains Unas dengan PII untuk mengomersialkannya, 20 Februari lalu. “Dalam tahap awal, PII memesan 60 unit EPB untuk disosialisasikan ke masyarakat,” kata Ajat.

Maklum, pada saat itu, pemerintah sedang gencar-gencarnya mewacanakan kenaikan harga BBM jika harga minyak dunia terus membubung. Ajat juga menjadi narasumber penghematan bahan bakar di Fakultas Teknik Universitas Indonesia. “Ternyata salah satu audiensnya Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Widjajono Partowidagdo,” tutur Ajat.

Usai presentasi, Wijajono terlibat perbincangan serius dengan Ajat. Wijajono terpikat untuk memasang EPB di mobilnya. Widjajono pun berkunjung ke Unas pada 21 Maret 2012. ”Sebulan sebelum beliau meninggal,” katanya. Bersama rombongan wartawan, Wakil Menteri ESDM itu memasang EPB di mobilnya sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan penghematan bahan bakar.

Maklum, kemauan pemerintah menaikkan harga BBM mendapat tentangan yang keras dari masyarakat. “Menurut saya, krisis itu adalah ibu dari sebuah penemuan,” kata Widjajono saat itu. Adanya krisis energi mendorong anak bangsa untuk berpikir bagaimana jalan keluar terbaik hingga tercipta temuan-temuan yang bermanfaat.

Teknologi penghemat bahan bakar menggunakan air itu mengacu pada proses elektrolisis air yang menghasilkan gas hidrogen hidrogen oksida (HHO) atau gas brown –dari nama penemunya, Yull Brown. Gas HHO dapat menghemat konsumsi bahan bakar pada kendaraan bermotor.

Komponen penting untuk menunjang proses elektrolisis adalah tabung elektroliser, elektroda (katoda dan anoda), larutan elektrolit, dan water trap (vaporier). Tabung elektroliser merupakan tempat penampungan larutan elektrolit, tempat berlangsungnya proses elektrolisis yang menghasilkan gas brown. Di dalam tabung ini terdapat dudukan elektroda yang akan diberi arus listrik.

Tabung elektroliser terbuat dari kaca atau plastik tahan panas. Sebab proses elektrolisis yang menghasikan gas brown akan panas. Tabung elektroliser harus kuat karena dalam prosesnya, ada isapan yang kuat dari mesin.

Gas brown terjadi akibat adanya arus listrik yang melewati elektroda menguraikan unsur-unsur air. Elektroda terdiri dari dua kutub, yaitu katoda (-) dan anoda (+) yang dimasukkan ke larutan elektrolit. Jika elektroda itu diberi arus listrik, akan muncul gelembung-gelembung kecil warna putih (gas HHO).

Adapun elektroda yang digunakan berbahan stainless steel yang tahan karat. Elektroda dibuat berdekatan, tapi tidak bersentuhan. Digunakan bahan yang bersifat isolator untuk saling menghubungkan kedua elektroda agar tidak terjadi hubungan arus pendek atau korsleting.

Elektrolit atau cairan digunakan untuk menghasilkan gas brown pada proses elektrolisis. Elektrolit terdiri dari air murni atau air destilasi dan katalisator. Katalisator akan larut dalam air murni dan menyatu membentuk larutan elektrolit. Katalis yang digunakan pada proses elektrolisis menggunakan NaOH (natrium hidroksida).

Water trap atau vaporizer berfungsi untuk meningkatkan kinerja alat elektrolisis. Alat ini menampung gas brown sebelum ke mesin. Fungsinya, agar gas yang mengalir tidak terlalu banyak mengandung air.

Generator EPB bikinan Unas menggunakan listrik DC berkekuatan 12 volt. Ada tiga selang yang terhubung dengan generator mini berukuran 9 x 6 sentimeter. Sebuah selang di bagian bawah berfungsi sebagai input yang menghubungkan tabung berisi satu liter air yang mengisi ruang generator yang ada pelat katoda dan anodanya. Air yang mengisi generator akan mengalami elektrolisis, menghasilkan gas brown.

Dua selang di atas generator mengalirkan gas HHO melewati filter (vaporizer) untuk menyaring gas HHO, sehingga bebas dari uap air. Nah, dari selang inilah gas brown dialirkan ke ruang bakar. Kepada Gatra, ditunjukkan selang yang mengalirkan gas brown dimasukkan ke tabung berisi air yang menimbulkan gelembung. Korek api dinyalakan di atas tabung gelembung air. Dor! Ledakan menggema di ruang Dekan Fakultas Teknik dan Sains Unas. “Ledakan itu membuktikan, yang keluar dari selang benar-benar gas HHO,” Ajat menjelaskan.

Gagasan mengembangkan generator HHO bermula pada awal 2009, ketika mahasiswa yang hendak menyelesaikan tugas akhir berkonsultasi mengenai topik skripsi. Mesin penghemat energi pun menjadi pilihan. “Karena sangat penting, mengingat bahan bakar jumlahnya terbatas. Jadi, memilih mesin penghemat bahan bakar,” katanya.

Atas bimbingan dosen, kemudian dilakukan uji coba pemisahan hidrogen dari air menggunakan prinsip elektrolisis. Air dimasukkan ke dua unit generator HHO berbentuk tabung berdiameter 10-15 sentimeter, dengan panjang sekitar 40 sentimeter. Untuk elektroda, digunakan kawat spiral. ”Temperatur tidak stabil, sehingga pada waktu-waktu tertentu yang muncul uap air, bukan gas HHO,” ujarnya.

Untuk mengembangkan alat itu, Fakultas Teknik dan Sains Unas membentuk tim yang terdiri dari empat orang, diketuai Ajat Sudrajat. Guna mengantisipasi suhu yang tidak stabil, tim mengembangkan generator dry cell. Logam tidak dimasukkan ke dalam air, melainkan air yang disekat di dalam pelat-pelat logam berlubang yang dialiri listrik. Pada proses dry cell, generator HHO menghasilkan gas brown dengan baik dan temperaturnya dapat dikendalikan.

Namun kendalanya, lubang di pelat logam membesar akibat reaksi kimia antara katalis dan air di dalam generator HHO. Maka, kemudian dicoba menggunakan pelat yang tidak berlubang dalam generator HHO dengan proses yang sama. Kerjanya bagus menghasilkan gas brown bersuhu stabil pada 50 derajat celsius. Temuan generator generasi ketiga itu pun dipatenkan dan mendapat nomor paten S00201100155. “Generator itu kami beri brand Eco Power Booster,” katanya.

Selain menghemat bahan bakar, penerapan generator HHO ke mesin dapat menambah tarikan (power) dan menurunkan emisi gas buang hingga 80%. Ajat memastikan, mesin yang menggunakan generator mungil itu membuat ruang pembakaran mesin menjadi bersih. Sebab proses di dalam mesin motor, mobil, atau perahu nelayan bergerak karena adanya campuran bensin, udara, dan api sehingga terjadi ledakan yang menghasilkan gas untuk menggerakkan mesin. “Menggunakan generator HHO, gasnya sudah jadi,” ungkapnya.

Pemisahan hidrogen dalam air itu tentu akan menyebabkan air a habis karena menguap, sehingga ada hitung-hitungannya. Dari 1 liter air akan dihasilkan 1.750 liter gas. Jika generator mobil membutuhkan 2 liter gas per menit atau 120 liter gas per jam, maka 1 liter air akan habis dalam waktu 15 jam pemakaian (dengan hitungan 1.750:120= 15). “Kalau dalam sehari rata-rata pemakaian tiga jam, jadi lima hari sekali diisi. Masak kita nunggu sampai habis, sih,” tuturnya.

Dari sejumlah pengujian, generator HHO mampu menghemat bahan bakar hingga 50%. Kini Ajat menyiapkan proposal penghematan mesin genset 1 megawatt milik PLN yang ada di Bangka Belitung. “Kalau ini berhasil, seluruh PLN diharapkan menggunakan EPB untuk penghemat bahan bakar,” ujarnya berpromosi. Sumber: Lestari Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: