Perbedaan Konverter Kit Sistem Konvensional dan Sequential

Sekarang banyak orang tahu apakah itu konverter kit, setelah pada awal tahun 2012 pemerintah menggalakkan konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) untuk mensukseskan “program pemerintah bebas subsidi pada tahun 2015“.


Selain itu memang konverter kit di Indonesia dari dulu sudah diterapkan pada tahun 1980 pada kendaraan era abad 19 menggunakan karburator dan pelaku penerapan konverter kit pada kendaraan tersebut dilakukan oleh Tjondro Srihutomo Kusumo, jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB), tahun 1980 telah mendapatkan penghargaan dari pemerintah atas karyanya untuk menggantikan BBM ke BBG untuk kendaraan roda empat (mobil). Harus diingat bahwa pemerintah juga telah melakukan penerapan konverter kit pada kendaraan umum khususnya pada kendaraan taxi 5 tahun yang lalu sebanyak 20% dari jumlah taxi yang ada.

Lucunya…..dengan bangga banyak juga orang yang menjawab pertanyaan seputar teknologi konverter kit dengan pengetahuan yang dari dulu mereka yakini. Setelah diperkenalkan konverter dengan generasinya dan adanya konverter kit dengan sistem sekuensial, dengan spontan mereka juga bertanya, apakah perbedaan antara konverter kit sistem konvensional dan sistem sekuensial???


Begitulah sifat manusia yang selalu menganggap dirinya hebat tanpa banyak membaca dan merendah diri serta selalu menganggap dirinya hebat walaupun tema yang dibicarakan sebenarnya bukan bidangnya. Yang lucunya lagi ada juga orang-orang yang selalu menganggap bahwa orang Indonesia itu bisanya ahli secara teoritis dan sebatas diktat saja serta tidak menganggap ada manusia Indonesia lain yang menguasai bidang tertentu secara keseluruhan dengan baik. Orang-orang tersebutlah yang mempunyai sifat picik dan tidak mendukung riset – teknologi di Indonesia dan tidak percaya akan produk dalam negeri serta mempunyai sifat konsumtif dan tidak produktif. Mereka-mereka itu adalah orang-orang yang berhasil dan sukses tetapi jika dilihat dari kacamata nasionalisme dan idealisme, mereka-mereka itu dikatakan berhasil dan sukses karena menjual sumber daya alam negeri Indonesia begitu saja dengan mudah tanpa ada pengembangan produk berasal dari bahan baku sumber daya alam yang bermanfaat dan bernilai tinggi untuk bangsanya sendiri terutama anak cucunya.

Sampai-sampai ada isu tehangat saat ini dengan berita “KUNKERKunjungan Kerja pihak DPR untuk menyusun dan membuat undang-undang ke Insinyuran. Ingat produk Riset – Teknologi lahir salah satunya dari laboratorium akademis seperti Sekolah Kejuruan, Universitas dan dunia pendidikan lainya. Lucu banget ya…Apa dong gunanya kurikulum yang diterapkan oleh pemerintah dan DPR sehingga harus ada kunjungan kerja seperti itu. Insinyur itu lahir dari dunia akademis yang mempunyai kerangka kurikulum. Apakah Pemerintah dan DPR tidak meyakini para Insinyur di Indonesia??? Siapa yang bersalah selama ini sehingga harus membuat kunker untuk keperluan undang-undang ke-Insinyuran Indonesia??? Bukannya kurikulum??? Bukannya Pemerintah, DPR dan Para wakil pendidik yang telah membuat kurikulum??? Acuan dasar kurikulumlah yang mendasari undang-undang ke-Insinyuran Indonesia bukannya mempelajari undang-undang ke-Insinyuran negara lain sementara kurikulum dunia pendidikan Indonesia masih juga tidak dibenahi. Wah kacau deh negara ini dengan representatif Pemerintah dan DPR yang bobrok…..Pusiiiiing…….

Mari kita kembali ke tema kita yang netral yaitu pembahasan peralatan konverter kit untuk kendaraan dan kita membahas ini hanya sebatas pada peralatan konverter kitnya saja dan bukan pada bahan bakarnya karena sistem kerja konverter kit itu pada dasarnya sama saja dan hanya dibedakan pada tingkat bahaya dan tekanannya (pressure).

Masih ingatkah teknologi otomotif hingga pada tahun 1980 menggunakan sistem karburator??? Teknologi karburator tersebut menggunakan sistem mekanik murni dengan gerakan mekanikal membuka dan menutup aliran bahan bakar yang disesuaikan dengan besaran udara yang terukur didalam karburator dan akhirnya dikeluarkan melalui spuyer yang ukuran diameternya juga sudah ditentukan untuk mendapatkan efisiensi, performance dan emisi yang baik terhadap engine. Lihat gambar dibawah ini…..


Gambar : Intake sistem dan Karburator untuk suplai bahan bakar minyak dan udara kedalam ruang bakar

Teknologi Otomotif berkembang sangat pesat untuk memperbaiki sistem klasik mekanik menjadi sistem kontrol elektronik yang biasanya dinamakan dengan sistem EFI (Electronik Fuel Injection).  Perkembangan ini dilakukan agar tujuan utama dari penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dapat dicapai dengan baik, apakah itu berkaitan dengan efiesiensi, performance dan emisi gas buangnya. Apalagi perkembangan teknologi otomotif harus tetap mengacu pada ketentuan piagam kyoto untuk mendukung program pemanasan global.

Gambar : Intake sistem dan sistem EFI untuk suplai bahan bakar minyak dan udara kedalam ruang bakar


Dengan berkembangnya teknologi otomotif dari sistem klasik mekanik menjadi sistem kontrol elektronik maka penggunaan bahan bakar gas (BBG) dengan konverter kitnya pada kendaraan seharusnya :
  1. dilakukan sejalan dengan perkembangan teknologi otomotif atau  
  2. memanfaatkan perkembanganan teknologi otomotif tersebut untuk menghasilkan konverter kit yang lebih baik dari pada konverter kit konvensional generasi pertama yang mana sistem kerjanya sama seperti sistem karburator untuk suplai bahan bakar
Seperti kita ketahui bahwa program pemerintah dalam penggunaan bahan bakar gas (BBG) lima tahun lalu yang telah diterapkan pada kendaraan umum khususnya taxi sudah dapat dipastikan tidak berhasil karena sistem konverter kit yang dipergunakan adalah sistem konvensional dan bahan bakar gas yang dipergunakan adalah gas CNG bertekanan tinggi. Khusus pada peralatan konverter kit sistem konvensional terdapat beberapa kelemahan yang didapat dilapangan seperti :
  1. Pada saat cranking atau starting diperlukan sistem bahan bakar minyak (untuk memancing agar kendaraan dapat di starting) dan tidak dapat langsung menggunakan bahan bakar gas (BBG)
  2. Performance yang menurun pada putaran tinggi karena suplai bahan bakarnya tidak sesuai dengan kebutuhan pembakaran dalam ruang bakar mesin (sistem suplai bahan bakar yang sama seperti karburator)
  3. Efisiensi yang tidak sesuai bahkan dikatakan oleh mereka boros karena bahan bakar gas dalam tabung tidak dalam wujud cair (CNG) dan sistem suplai bahan bakar sama seperti sistem karburator menggunakan spuyer
  4. Merusak mesin (menurut pendapat pengguna konverter kit di Taxi) karena sistem ignitionnya tidak dirubah dan disesuaikan dengan bahan bakar gasnya (CNG dengan nilai oktan hampir 120) sehingga kendaraan berjalan seperti tertahan (bolot)
  5. Sama sekali tidak efektif karena teknologi konverter kit yang tidak disesuaikan dengan teknologi otomotif seperti kendaraan Toyota Soluna dan Vios yang sudah menggunakan sistem close loop sehingga tidak didapatkan optimalisasi penggunaan bahan bakar gas (BBG) yang sebenarnya baik terutama pada kontribusi pemanasan global.
 Gambar : Konverter kit sistem konvensional dan sekuensial

Dengan melihat dan menimbang kelemahan sistem konverter kit konvensional dan skema gambar diatas maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahan bakar gas (BBG) dengan konverter kitnya pada kendaraan akan menjadi optimal, baik itu mengenai efisiensi, performance dan emisi gas buangnya jika konverter kit konvensional diupgrade atau dirubah menjadi sistem sekuensial. Pada sistem konverter kit sekuensial terdapat beberapa keunggulan seperti :
  1. Kendaraan dapat dengan mudah dicranking dan starting menggunakan bahan bakar gas (BBG) tanpa harus dipancing menggunakan bahan bakar minyak (BBM)
  2. Performance dapat optimal disemua putaran mesin seperti pada penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dikendaraan karena suplai bahan bakar dapat membesar dan mengecil dengan baik
  3. Efisiensi yang maksimal karena suplai bahan bakarnya disesuaikan sesuai kebutuhan pada setiap percabangan intake secara sistem kontrol elektronik sehingga penggunaan bakarnya tidak mubazir
  4. Dapat ditambahkan sistem ignition agar pembakaran bahan bakar dalam ruang bakar menjadi optimal pada nilai oktan tertentu
  5. Karena konverter kit sistem sekuensial menggunakan sistem kontrol elektronik maka semua teknologi otomotif yang dikembangkan secara elektronik pada kendaraan dapat disesuaikan dengan mudah dan benar seperti sistem kontrol close loop, VVTI, IDSI sehingga penggunaan bahan bakar gas pada kendaraan akan menjadi efektif tanpa harus merubah konstruksi mesin besaran-besaran secara mekanik
Sistem konverter kit sekuensial juga dibedakan dari jenis dan generasinya yang terletak pada sistem kontrol elektronik menggunakan kontrol modul dengan programming logic device-nya yang sering disebut dengan konverter kit sekuensial generasi kedua dan kontrol modul dengan programming microprocessor-nya yang disebut dengan konverter kit sekuensial generasi ketiga (dapat dilihat di artikel sebelumnya pada blog ini).

Sementara konverter kit semi sekuensial adalah konverter kit yang dibangun pada kendaraan dengan sistem suplai bahan bakar menggunakan karburator tetapi sistem konverter kit konvensionalnya sudah diupgrade atau dikembangkan menggunakan sistem selenoid valve untuk menggantikan sistem konvensional menggunakan spuyer. Sehingga semua kelemahan konverter kit konvensional yang disebutkan diatas dapat diatasi dengan mudah dan benar (lihat gambar dibawah).

Gambar : Konverter kit sistem semi sequential menggunakan satu buah selenoid valve

Dari gambar diatas dapat disimpulkan perbedaan konverter kit sistem konvensional dan sistem semi sequential, dimana perbedaan tersebut terletak pada penggunaan selenoid valve menggantikan spuyer yang diatur oleh sistem kontrol elektronik yang lebih dikembangkan lagi untuk mengatur besaran bahan bakarnya. Selenoid valve dapat dipasangkan satu buah seperti gambar diatas dan dapat juga dipasangkan 4 (empat) buah seperti konverter kit sistem sequential murni. Satu buah selenoid valve dapat dipergunakan pada kendaraan roda empat atau mobil. Penggunaan satu buah selenoid valve juga sangat baik dipergunakan pada motor (kendaraan roda dua) atau genset sehingga kelemahan sistem konverter kit pada motor yang selama ini dialami dari konverter kit sistem konvensional menggunakan spuyer atau regulator yang dimodifikasi dapat diselesaikan dengan baik (efisiensi, performance dan emisi gas buang).

Dengan mengetahui jenis dan generasi konverter kit yang juga berkembang pesat sesuai perkembangan teknologi otomotifnya maka penggunaan bahan bakar gas (BBG) dengan konverter kitnya pada kendaraan akan dapat diperoleh hasil yang maksimal dan optimal dan bukan hanya sekedar bahan bakar gas (BBG) yang dapat dipergunakan di kendaraan. Manusia Indonesia sudah menjadi dewasa untuk dapat memilih produk yang baik dari yang terbaik untuk keperluan penghidupan dan kehidupannya. Pernyataan “asal bisa berfungsi” dan tidak mendapatkan keunggulan lebih lainnya akan mendapat tempat yang paling rendah di hati rakyat.

Terima kasih

Dipl. – Ing A. Hakim Pane

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: